Home Muamalah Belajar Husnudzan Dari Semut

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti “Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka yang baik.

Husnudzan merupakan kebalikan dari su’udzon yang berarti berburuk sangka. Pada prakteknya, sebenarnya prasangka adalah hal yang tidak diindahkan dalam syariat, hal ini dikarenakan prasangka tidak berdasarkan fakta, hanya merupakan dugaan semata, sehingga kebanyakan prasangka biasanya justru berisi hal-hal yang berbeda dengan faktanya atau malah bisa-bisa menjadi fitnah semata.

Dalam Al-Qurán Allah taála berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

 “Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat diatas Allah mewanti-wanti hambanya untuk menjauhi prasangka, tentu hal ini dikarenakan prasangka bisa menjadi wasilah untuk berbuat dosa, karena sejatinya setan akan selalu berusaha untuk menebarkan kebencian dan kedengkian diantara sesama, dan prasangka merupakan salah satu senjata setan untuk menebarkan benih-benih kebencian dan permusuhan itu.

Namun tidak semua prasangka itu berujung pada dosa, dimana jika berburuk sangka mendekatkan pada dosa, maka berbaik sangka atau husnudzan adalah solusi ideal untuk meraup pahala. Sifat Husnudzan inilah yang banyak hilang dari manusia, terlebih bagi orang yang suka bergosip, hampir-hampir mustahil rasanya jika mereka tidak berburuk sangka terhadap orang yang sedang dijadikan bahan pembicaraan.

Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala mengajarkan sifat husnudzan ini di dalam banyak ayat, Yang uniknya sifat husnudzan ini ternyata Allah sisipkan dalam satu ayat-Nya yang menceritakan kisah segerombolan semut dan Juga pasukan Nabi sulaiman.

Kisah itu bermula Ketika Nabi Sulaiman dan pasukannya sedang berjalan bersama pasukannya menuju suatu tempat. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌۭ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَـٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَـٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Seekor semut yang mengetahui kedatangan Nabi Sulaiman dan pasukannya memerintahkan teman-temannya agar masuk kedalam rumah-rumah mereka agar sekiranya mereka tidak terinjak oleh nabi sulaiman dan pasukannya.

Namun alangkah eloknya perangai semut ini ketika ia mengedepankan sifat Husnudzan, ia mengarahkan teman-temannya untuk masuk karena ia sadar bahwa tubuh mereka kecil, ia berprasangka baik bahwa mungkin saja Nabi sulaiman dan pasukannya tidak melihat mereka sehingga terus berjalan dan tidak sengaja menginjak para semut dan mereka tidak menyadari hal itu.

Padahal jika mereka mau berburuk sangka, mudah saja bagi mereka untuk berdalih bahwa Nabi Sulaiman dan pasukannya senagaja menginjak kami karena kami kecil, tidak punya kekuatan, sementara mereka besar dan kuat. Namun para semut tidak demikian, mereka memilih berbaik sangka terhadap Nabi Sulaiman dan para pasukannya.

Namun hebatnya Nabi Sulaiman mengerti bahasa para semut dan tersenyum gembira mendengar perkataan semut itu. Inilah sepenggal kisah unik dalam Al-Qur’an tentang luar biasanya semut yang mencontohkan sifat mulia kepada umat manusia, yang justru sifat ini sering hilang dari manusia yang diciptakan lebih sempurna dari semut,

Kita terlalu sering berburuk sangka, apalagi jika melihat orang berbuat salah dihadapan kita, kita langsung mengedepankan buruk sangka atas perbuatannya tanpa mencari tau motif dari perbuatannya. Karena terkadang orang lain berbuat salah karena lupa, atau karena sedang khilaf dikarenakan banyak masalah atau karena hal lainnya.

Berbaik sangka sangat penting, selain karena terhindar dari dosa sifat husnuszan ini akan membuat hati kita bersih, lebih dari itu tentunya akan membuat hubungan antar sesama lebih harmonis dan jauh dari pertikaian serta permusuhan.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...