Home Muamalah Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap firman Allah I,

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اسْتَجِيبُوا۟ لِلّٰهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadumu, …” (an Anfaal: 24)

Bahwa dakwah merupakan bagian dari kehidupan seorang muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Karena dakwah mengajak, menyeru, dan berharap ada kebaikan – kebaikan yang selalu menyertainya. Maka seyogianya kebaikan ini dilandasi dan dikemas secara baik dan benar.

Oleh karena itu, ada pesan yang disampaikan oleh ulama terdahulu kita yaitu Buya Hamka terhadap para pejuang dai atau pendakwah. Penulis hanya meringkas dari nasehat beliau –Allahu yarham- dari buku beliau “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam”, diantaranya ialah ( ini menurut penulis, mungkin para pembaca bisa menambah khazanah wawasan kalian dengan membaca langsung dari buku beliau):

Pertama, hendaknya seorang dai menilik dan mengoreksi niat awal ia dalam berdakwah. Biasanya awal mula-mula seorang dai dalam berdakwah begitu mudah dalam menyalahkan orang lain. Tetapi lama-kelamaan tugas itu akan menjadi lebih berat, dan tanggung jawab akan lebih besar.

Oleh karena itu, keikhlasan hati, pengakuan kelemahan yang ada pada diri, itulah yang akan meguatkan kita untuk tegak kembali dan meneruskan jalan.

Kedua, bahwa dengan menyebut diri sebagai suatu gerekan dakwah, kita lebih banyak mengimbau orang lain, bukan menyisihkan diri. Hendaklah memperteguh amalan dan ketaatan, kehidupan beragama, dan tidak memperuncing perbedaan pendapat dengan orang lain.

Penulis izin menambahkan dari pernyataan beliau, bahwa hal ini merupakan bentuk dari tidak bisanya kita lepas dari perbedaan ditengah-tengah umat. Hal ini pernah disebutkkan al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman as Suyuthi (w 911 H) dalam kitab beliau جزيل المواهب في اختلاف المذاهب ,

أخرج أبو نعيم في الحلية عن عبد الله بن عبد الحكم قال: سمعت مالك بن أنس يقول: شاورني هارون الرشيد في أن يعلق الموطأ في الكعبة، ويحمل الناس على ما فيه، فقلت: لا تفعل، فإن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم اختلفوا في الفروع وتفرقوا في البلدان، وكل مصيب، فقال وفقك الله يا أبا عبد الله.

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam al hilyah dari Abdillah bin Abdilhakam berkata: saya mendengarkan dari (guru saya) Malik bin Anas berkata: Harun ar Rasyid berunding dengan saya mengenai perihal agar kitab muwatha’ digantungkan di ka’bah, dan lalu para jamaah membawanya dan mengambil hukum -hukum terkait di dalamnya, kemudian saya berkata: jangan lalukan itu, karena sesungguhnya para sahabat Rasulullah I berbeda pendapat di dalam cabang agama dan mereka berbeda dalam belahan dunia, dan setiap (mazhab yang diikuti) benar, kemudian Harun ar Rasyid berkata: semoga Allah selalu memberimu taufik wahai Aba Abdillah.

Dari dialog Imam Malik bisa kita ambil pelajaran bahwa beliau tidak memaksa agar semua mengikuti mazhab beliau dan bagaimana sikap beliau agar umat ini jauh dari sifat fanatik, apalagi dewasa ini telah menjamur ditengah-tengah masyarakat.

Ketiga, memahami betul persoalan yang ia sampaikan, dan benar mengetahui soal apa yang akan diucapkannya.

Keempat, kepribadian harus teguh dan kuat. Tidak terpengaruh dalam pandangan orang banyak karena pujian, maupun sebaliknya.

Kelima, jangan membawa sikap pertentangan. Jauh-jauhkan dari hal yang memicu perdebatan, seperti masalah khilafiah.

Beliau mengingatkan  dan mewanti-wanti kita, “Apatah lagi kalau seorang dai datang ke sebuah negeri sesamai di sana membicangkan masalah khilafiah padahal sehari dua sesudah itu dia pun telah meninggalkan tempat itu. Setelah dia pergi, orang pun ditinggalkannya dalam perpecahan.”

Itulah beberapa nasehat dari Buya Hamka. Semoga ini sebagai pengingat kita dan terkhusus bagi penulis pridabi. Dan semoga Allah senantia menjaga dan memberikan taufikNya di setiap langkah dakwah ini. Dan tak lupa kita doakan guru-guru kita yang telah menjadi sebab datangnya hidayah dari Allah. Oleh karena itu, perkenankan diri ini menjadi estafet penyambung hidayah yang Allah telah titipkan kepada kita.

Riza Ashfari Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...