Home Muamalah Kisah Inspiratif Tentang Kejujuran Yang Diabadikan Dalam Al-Qur’an

Kisah Inspiratif Tentang Kejujuran Yang Diabadikan Dalam Al-Qur’an

Jujur adalah mengabarkan segala sesuatu sesuai dengan kanyataannya, sementara dusta adalah mengabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataannya. Jujur merupakan sifat terpuji, sifat yang paling menonjol dalam diri Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam sebelum diutus menjadi seorang rasul.

Dahulu orang-orang kafir Quraisy begitu mengenal Muhammad muda dengan kejujurannya, sampai-sampai tidak ada satupun diantara mereka yang pernah memergoki Muhammad muda melakukan dusta walau sekali saja. Bahkan ketika Muhammad sudah diutus menjadi rasul pun, orang-orang kafir Quraisy yang berusaha untuk menjatuhkan-Nya tidak menjulukinya dengan “pendusta”, akan tetapi mereka menjulukinya dengan sebuatan “orang gila” atau seorang “penyihir”. Hal ini sudah tentu karena selama mereka mengenal sosok Muhammad sejak masih muda, mereka tidak pernah mendapati bahwa Ia seorang pendusta.

Memiliki sifat jujur adalah hal yang sangat sulit, sementara kebalikannya yakni berdusta adalah hal yang mudah dan ringan. Apalagi terkadang seseorang dihadapkan pada hal-hal dimana apabila ia berkata jujur apa adanya ia justru akan terhalang dari mendapatkan perhiasan dunia, sementara apabila ia mau berdusta sedikit saja, ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari perhiasan dunia.

Dalam sebuah Hadist Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

إِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ

“Sesungguhnya kejujuran akan menghantarkan kebaikan, dan kebaikan akan menghantarkan pemiliknya ke syurga.” (Muttafaqun Alaihi)

Dalam hadist diatas rasulullah menegaskan bahwa jujur itu akan senantiasa menghantarkan pemiliknya pada segala kebaikan, dan setiap kebaikan tentunya akan membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk menuju syurga Allah ta’ala.

Diantara bukti bahwasanya kejujuran menghantarakan pada kebaikan adalah sebuah kisah inspiratif tentang kejujuran yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an, kisah ini akan senantiasa diingat selalu oleh orang yang membaca Al-Qur’an sampai hari kiamat tiba, dan ini adalah bagaimana balasan Allah terhadap sebuah kejujuran.

Kisah ini bermula Ketika ada 3 orang sahabat rasulullah yang tidak ikut berperang, salah satu diantaranya adalah sahabat Ka’ab bin malik.  Mereka tidak ikut berperang bersama sahabat lainnya padahal mereka tidak sedang sakit, atau mempunya udzur yang membolehkan mereka untuk tidak ikut bereprang. Akan tetapi bukan hanya mereka bertiga saja yang  tidak ikut berperang,  ternyata ada beberapa orang sahabat lain yang juga tidak ikut berperang.

Setibanya Rasulullah kembali dari perang, maka beberapa sahabat yang tidak ikut berperang tadi satu persatu mendatangi Rasulullah dan menyampaiakn alasan serta udzur yang membuat mereka tidak bisa ikut berperang. Tapi nyatanya mereka berdusta, mereka tidak ikut berperang karena malas-malasan, mereka berdusta kepada Rasulullah agar supaya mereka selamat dari Hukuman karena tidak ikut berperang.

Kemudian tibalah giliran Ka’ab bin Malik dan 2 sahabatnya menghadap Rasulullah dengan wajah ketakutan karena mereka sama sekali tidak memiliki udzur. Mereka bisa saja berbohong dan mencari-cari alasan agar mereka selamat dari hukuman, namun mereka menyadari bahwa dusta kepada Rasulullah adalah dosa besar dan siksa Allah menanti mereka di depan. Pada akhirnya mereka jujur, tidak mengapa mereka dihukum didunia ketimbang dihantui rasa bersalah seumur hidup, dan mereka yakin bahwa kejujuran akan berbuah manis di kemudian hari.

Maka tatkala Rasulullah mendengarkan pengakuan mereka bertiga, padam wajah Beliau karena amarah yang tak tertahankan mengetahui pembangkangan ini. Akhirnya rasulullah menghukum mereka dengan memboikot mereka selama 50 hari. Selama waktu tersebut Rasulullah dan para sahabat mendiamkan mereka, tidak mengajak berbicara serta membuang muka terhadap mereka supaya mereka jera dan bertaubat atas kesalahan mereka.

Waktu berjalan dan mereka merasa hampir putus asa karena hukuman ini begitu berat, seakan-akan bumi ini begitu sempit karena banyak orang disekitar mereka namun tidak ada diantara mereka yang mau mengajak berbicara, menegur sapa atau bahkan hanya untuk tersenyum. Lalu mereka memanjatkan taubat kepada Allah ta’ala dengan segala pengharapan serta penyesalan yang telah terjadi. Kemudian Allah Menurunkan Firman-Nya,

وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka  agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat  lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 118)

Dalam ayat ini Allah menegaskan kepada kaum muslimin bahwasanya Allah telah mengampuni mereka dan menerima taubat mereka. Allah begitu terkesan dengan keteguhan mereka untuk tetap berkata jujur dalam keadaan sesulit apapun. Mereka telah melakukan sesuatu yang berat yang tidak semua orang mampu melakukannya, yakni berkata jujur dalam keadaan sesulit apapun.

Lebih dari itu Allah kemudian melanjutkan Firmannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang jujur” (QS At-Taubah : 119)

Allah memerintahkan para kaum muslimin untuk membersamai orang-orang yang jujur, Yakni Ka’ab bin Malik dan kedua sahabatnya. Maka ketika auay ini turun semua sahabt rasulullah mengucapkan selamat kepada mereka bertiga atas kejujuran mereka yang berbuah manis, kejujuran yang menghantarkan mereka kepada derajat yang mulia, dan yang paling istimewa adalah kisah taubat mereka Allah abdikan dalam Al-Qur’an.

Kejujuran memang berat, tapi kejujuran akan membuat hati tenang, sementara dusta mungkin ringan akan tetapi dusta akan mewariskan kegelisahan serta kecemasan dalam hati seseorang. Dalam sebuah hadist Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ

“Sesungguhnya kejujuran akan mendatangkan ketenangan, sementara dusta akan mendatangkan kegelisahan.” (HR Tirmidzi)

Orang yang jujur dalam perkataannya maka hatinya akan tenang, hal itu karena tidak ada yang disembunyikan serta ia tidak akan mendapatkan masalah dikemudian hari. Sementara dusta hanya akan membuat seseorang gelisah, ia gelisah apakah orang-orang percaya terhadap kedustaannya, ia gelisah karena setiap kebohongan pasti akan mendatangkan kebohongan berikutnya, dan ia dituntut untuk membuat skenario kebohongan yang berlanjut.

Ia juga gelisah jika nanti kebohongannya akan memberikannya masalah dikemudian hari, dan ia akan gelisah sepanjang hari karena kebohongannya adalah sebuah dosa yang hanya akan menyisakan noda-noda hitam dihatinya.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...