Home Fiqih Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat

Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat

Shalat merupakan ibadah paling agung disisi Allah ta’ala. Shalat juga merupakan ibadah yang akan dihisab pertama kali dihari kiamat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ibadah ini akan menjadi patokan bagi ibadah-ibadah lainnya, karena jika shalatnya baik maka ibadah lainnya juga akan baik. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح له سلئر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله

“Perkara yang akan dihisab pertama kali dari seroang hamba dihari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka amal lainnya akan baik pula, dan apabila shalatnya rusak, maka shalat lainnya akan rusak pula”. (HR Thabrani)

Dari hadist di atas sudah semestinya kita menjadikan shalat kita sebagai amalan yang paling harus dijaga dan tidak ditunda-tunda apalagi sampai ditinggalkan. Karena amalan inilah yang akan menentukan amalan-amalan lainnya. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengerjakan shalat sesuai dengan tuntunan rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam, karena beliau yang membawa risalah ini dan beliau juga yang memerintahkan umatnya untuk shalat sebagaimana beliau shalat.

Hukum Memejamkan Mata Ketika Shalat.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa memejamkan mata dalam shalat tidak membatalkan shalat itu tersendiri, akan tetapi mereka sepakat bahwa memejamkan mata ketika shalat merupakan perbuatan yang dimakruhkan (tidak dianjurkan) dan harus dihindari oleh setiap orang yang mengerjakan shalat. Adapun Kemakruhan memejamkan mata dalam shalat disebabkan beberapa Hal.

Pertama, Terdapat larangan dalam sebuah hadist, rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

إذا قام احدكم في الصلاة فلا يغمض عينيه

“Apabila salah seorang dari kalian berdiri untuk mengerjakan shalat janganlah ia memejamkan kedua matanya”. (HR Thabrani)

Kedua, Menyelisihi sunnah.

Dalam Kitab Bada’ius Sana’iu dijelaskan,

وَيُكْرَهُ أَنْ يُغْمِضَ عَيْنَيْهِ فِي الصَّلَاةِ؛ لِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ نَهَى عَنْ تَغْمِيضِ الْعَيْنِ فِي الصَّلَاةِ؛ وَلِأَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَرْمِيَ بِبَصَرِهِ إلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ وَفِي التَّغْمِيضِ تَرْكُ هَذِهِ السُّنَّةِ؛ وَلِأَنَّ كُلَّ عُضْوٍ وَطَرَفٍ ذُو حَظٍّ مِنْ هَذِهِ الْعِبَادَةِ فَكَذَا الْعَيْنُ

“Dan dimakruhkan untuk memejamkan kedua mata ketika shalat, hal ini karena terdapat larangan dari Nabi salallahu ‘alaihi wasalam untuk memejamkan mata ketika shalat, dan karena sunnahnya hendaknya seseorang menfokuskan pandangannya ke tempat sujudnya, dan ketika ia memejamkan mata maka ia telah meninggalkan sunnah.” ( 1/216)

Dalam Zaadul Ma’ad Imam Ibnu Qayiim menerangkan

ولم يكن من هديه صلى الله عليه وسلم تغميض عينيه في الصلاة

“Bukan termasuk sunnah Nabi salallahu ‘alaihi wasalam memejamkan mata ketika shalat”. (1/283)

Ketiga, Memejamkan Mata Ketika shalat merupakan Perbuatan Kaum Yahudi,

Diantara alasan kemakruhan memejamkan mata ketika shalat adalah karena hal ini merupakan kebiasaan orang-orang yahudi dalam ibadah-ibadah mereka, dan kita sebagai umat islam diperintahkan untuk menyelisihinya. Imam Nawawi dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhadzab berkata,

دليلنا أن الثوري قال إن اليهود تفعله

“Adapun dalil yang kami jadikan sandaran (tentang makruhnya memejamkan mata ketika shalat) bahwasanya Imam Tsauri berkata bahwa orang-orang yahudi juga melakukannya”. (3/314)

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mugni menerangkan,

وَيُكْرَهُ أَنْ يُغْمِضَ عَيْنَيْهِ فِي الصَّلَاةِ. نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ؛ وَقَالَ: هُوَ فِعْلُ الْيَهُودِ

“Dan dimakruhkan untuk memjamkan mata ketika shalat. Dan demikian pula pendapat Imam Ahmad, dan ia berkata, sesungguhnya itu adalah perbuatan orang Yahudi”. (2/9)

Akan tetapi para ulama menjelaskan bahwa memejamkan mata tidak selamanya dihukumi Makruh, terutama ketika seseorang sulit untuk khusu’ dalam shalatnya ketika dihadapannya terdapat hal-hal atau pemandangan tertentu yang membuatnya terganggu.

Dalam Hasyiyatu Ibnu Abidin diterangkan,

بِأَنْ خَافَ فَوْتَ الْخُشُوعِ بِسَبَبِ رُؤْيَةِ مَا يُفَرِّقُ الْخَاطِرَ فَلَا يُكْرَهُ

“Apabila khawatir akan menghilangkan kekhusyu’an dengan sebab ia melihat sesuatu yang membuyarkan fikirannya maka tidak dimakruhkan (memejamkan mata) ketika shalat.” (1/645)

Imam Ibnu Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menjelaskan,

وَالصَّوَابُ أَنْ يُقَالَ: إِنْ كَانَ تَفْتِيحُ الْعَيْنِ لَا يُخِلُّ بِالْخُشُوعِ، فَهُوَ أَفَضْلُ، وَإِنْ كَانَ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْخُشُوعِ لِمَا فِي قِبْلَتِهِ مِنَ الزَّخْرَفَةِ وَالتَّزْوِيقِ أَوْ غَيْرِهِ مِمَّا يُشَوِّشُ عَلَيْهِ قَلْبَهُ، فَهُنَالِكَ لَا يُكْرَهُ التَّغْمِيضُ قَطْعًا

“Kesimpulan yang lebih tepat, Jika membuka mata ketika shalat tidak mengganggu kekhusyu’an maka ini lebih afdhal, akan tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyu’an karena diarah kiblat terdapat hiasan atau pemandangan lain yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini tidak dimakruhkan untuk memejamkan mata ketika shalat”. (1/283)

Beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari pemaparan diatas adalah,

  1. Memejamkan mata ketika shalat merupakan perbuatan yang tidak dilakukan oleh rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam,
  2. Para ulama memandang bahwa memejamkan mata ketika shalat adalah perbuatan yang dimakruhkan.
  3. Akan tetapi ada beberapa keadaan dimana tidak dimakruhkan untuk memejamkan mata ketika shalat, diantaranya adalah ketika seseorang mendapati pemandangan yang mengganggu fikirannya sehingga membuat shalatnya kurang khusyu’, maka dalam hal ini yang lebih afdhal baginya adalah memejamkan mata, hal ini sering terjadi ketika seseorang shalat di tempat-tempat umum.
  4. Hendaknya setiap orang berusaha suntuk membuka matanya ketika shalat, selain menyelisihi kebiasaan kaum yahudi dalam ibadah mereka, membuka mata dan mengarahkanpandangan ketempat sujud adalah sunnah yang harus dijaga.
Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...