Home Fiqih Hukum Menjawab Salam Ketika Sedang Buang Hajat

Hukum Menjawab Salam Ketika Sedang Buang Hajat

Secara keumuman menjawab salam merupakan kewajiban seseorang terhadap saudaranya yang mengucapkan seamal kepadanya, hal itu karena salam berisi do’a kebaikan, maka sudah selayaknya kita membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan yang sama. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Dan apabila kamu diberikan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah dengan yang semisalnya. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An-Nisa 86)

Ayat ini merupakan dalil tentang wajibnya kita untuk membalas salam, baik dengan membalas dengan salam yang lebih baik atau dengan salam yang semisalnya. Imam Nawawi dalam kitabnya Majmu’ syarh al-Muhadzab berkata,

وأما جواب السلام فهو فرض بالإجماع

Adapun menjawab salam, maka hukumnya adalah wajib dengan kesepakatan dari para ulama (4/594)

Akan tetapi ada keadaan dimana seseorang tidak boleh menjawab salam apabila ada orang yang mengucapkan salam kepadanya, keadaan ini adalah ketika ia sedang buang hajat. Dalam sebuah hadist sahabat Ibnu Umar bercerita,

إِنَّ رَجُلًا مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

“Sungguh ada seseorang yang melewati rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam sementara beliau sedang kencing, maka laki-laki itu memberi salam akan tetapi rasulullah tidak menjawabnya. (HR Muslim)

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadist ini beliau berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُكْرَهُ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى الْمُشْتَغِلِ بِقَضَاءِ حَاجَةِ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ فَإِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ كُرِهَ لَهُ رَدُّ السَّلَامِ

“Para ulama dalam madzhab kami berkata bahwa dimakruhkan untuk memberi salam kepada orang yang sedang disibukkan dengan hajatnya dari kencing dan buang air besar, dan apabila ia tetap memberi salam maka dimakruhkan baginya untuk menjawab salam tersebut”. (Syarah Muslim 4/65)

Dalam hal ini setiap orang dituntut untuk memahami keadaan, hendaknya ia tidak mengucapkan salam di sembarang tempat, terlebih apabila ia mengetahui bahwa orang yang ditemuinya sedang disibukkan dengan urusan  hajatnya, adapun apabila ingin menegur dan menyapa maka bisa menggunakan senyuman atau isyarat lainnya dan menghindari ucapan salam karna dalam keadaan tersebut tidak dibolehkan untuk memberikan ucapan salam.

Kemudian apabila seseorang sedang buang hajat kemudian aia mendapati saudaranya mengucapkan salam kepadanya maka hendaknya ia tidak menjawab salamnya, hendaknya ia menunggu sampai ia menyelesaikan hajatnya baru kemudian ia menghampiri saudaranya dan menjawab salamnya.

Di dalam Sunan Abu dawud diceritakan kisah sahabat Muhajir bin qahfadz bersama rasulullah salallahu alaihi wasalam,

أنَّه أتى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وهو يبولُ، فسلَّمَ عليه، فلم يَرُدَّ عليه حتَّى توضَّأ، ثُمَّ اعتَذَرَ إليه فقال: إنِّي كَرِهتُ أن أذكُرَ الله عزَّ وجل إلا على طُهرٍ

“Sesungguhnya ia mendatangi Nabi salallahu ‘alaihi wasalam sementara Beliau sedang kencing, maka ia mengucapkan salam kepada rasulullah akan tetapi rasulullah tidak menjawabnya sampai Ia berwudhu’. Kemudian Rasulullah meminta maaf kepadanya dan berkata “ Aku tidak suka untuk menyebut nama Allah azza wa jalla kecuali dalam keadaan suci. (HR Abu Daud)

Rasulullah mengajarkan  agar kita senantiasa memuliakan nama Allah dengan tidak menyebutnya di tempat-tempat kotor dan dalam keadaan-keadaan yang tidak sopan. Demikian pula rasulullah juga mengajarkan bagaimana bersikap dan menghargai kebaikan orang lain, rasulullah tidak menjawab salam tersebut karena keadaan yang tidak tepat, akan tetapi setelah selesai dengan hajatnya rasulullah pun menghampiri orang yang mengucapkan salam kepadanya kemudian meminta maaf dan menjawab salamnya.

Dari hadist diatas para ulama menjelaskan bahwa larangan menjawab salam ketika sedang buang hajat adalah karena ketidakpatutan untuk menyebut nama Allah di tempat-tempat kotor, hendaknya nama Allah hanya disebut di tempat-tempat yang baik dan suci saja.

Imam Nawawi dalam Syarah shahih muslim berkata,

قَالُوا وَيُكْرَهُ لِلْقَاعِدِ عَلَى قَضَاءِ الْحَاجَةِ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى بِشَيْءٍ مِنَ الْأَذْكَارِ قَالُوا فَلَا يُسَبِّحُ وَلَا يُهَلِّلُ وَلَا يَرُدُّ السَّلَامَ وَلَا يُشَمِّتُ الْعَاطِسَ وَلَا يَحْمَدُ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا عَطَسَ وَلَا يَقُولُ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Para ulama berkata, dimakruhkan bagi orang yang berdiri untuk buang hajat untuk mengingat nama Allah ta’ala dengan dzikir apapun, tidak boleh bertasbih ataupun bertahlil dan tidak pula menjawab salam dan tidak pula menjawab orang yang bersin dan tidak pula bertahmid kepada Allah ketika bersin dan tidak pula menjawab adzan. (Syarah muslim 4/65)

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...