Home Fiqih 6 Jenis Air Yang Boleh Digunakan Untuk Bersuci

6 Jenis Air Yang Boleh Digunakan Untuk Bersuci

Air merupakan media utama yang digunakan untuk bersuci, baik bersuci dari hadast kecil ataupun bersuci dari hadast besar serta bisa digunakan untuk mensucikan najis. Para ulama membagi air kedalam tiga kelompok,

  1. Air yang suci dan mensucikan. Air jenis inilah yang boleh digunakan untuk bersuci, karena selain zatnya yang suci, ia juga bisa digunakan untuk mengangkat hadast dan mensucikan najis.
  2. Air yang suci namun tidak mensucikan. Air ini suci zatnya, namun ia tidak bisa digunakan untuk mengangkat hadast, seperti misalnya air yang sudah bercampur dengan zat lain, seperti air kopi, teh dan lainnya.
  3. Air Najis. Air ini najis secara zatnya maka otomatis tidak suci dan tidak bisa digunakan untuk mengangkat hadast dan terlebih-lebih untuk mensucikan najis.

Diantara jenis Air yang tergolong kedalam air yang suci dan mensucikan diantaranya adalah:

Pertama, Air Hujan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

Dan Ia menurunkan kepada kalian dari langit air agar kalian bersuci dengannya” (QS Al-Anfal: 11)

Para ulama sepakat tentang kebolehan untuk bersuci dari hadast dan najis dengan menggunakan air hujan.

Kedua, Segala sesuatu yang asalnya adalah Air. Seperti misalnya Air salju dan Embun.

Dalam sebuah hadist, Abu bakar melihat rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam terdiam sejenak diantara takbir dan bacaan fatihah, maka ketika selesai shalat Abu bakar menghampiri rasulullah dan bertanya “Apa yang negkau baca diantara takbir dan bacaan Al-Fatihah Ya rasulullah?” Kemudian rasulullah menjawab,

أقول: اللهم باعد بيني وبين خطاياي  كما باعدت بين المشرق والمغرب، اللهم نقني من الخطايا كما ينقى ثوب البيض من الدنس، اللهم اغسل خطاياي بالماء الثلج والبرد

Aku berkata “ Ya Allah jauhkan antara aku dan dosaku sebagaimana engkau jauhkan barat dan timur, Ya Allah sucikanlah aku sebagaimana engkau mensucikan pakaian yang putih dari segala kotoran, Ya Allah bersihkanlah dosaku dengan Air salju dan embun.  (HR Bukhari-Muslim)

Hadist di atas menunjukan kesucian Air salju dan embun, karena rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bermunajat agar Allah mensucikan dosanya dengan menggunakan kedua air tersebut, pengkhususan kedua air tersebut menunjukan kesuciannya, jikalah keduanya tidak suci maka rasulullah tidak akan berdo’a dengan keduanya.

Ketiga, Air Mata Air.

Mata air juga merupakan media yang disepakati oleh para ulama tentang kebolehannya digunakan untuk bersuci, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanaman yang bermacam-macam warnanya.” (QS Az-Zumar 21)

Imam Syirazi dalam kitabnya al-Muhadzab fi fiqhil Imam Syafi’i mengatakan,

يجوز رفع الحدث وإزالة النجس بالماء المطلق وهو ما نزل من السماء أو نبع من الأرض

“Dan dibolehkan untuk mengangkat hadast dan mensucikan najis dengan air mutlak, yaitu air yang turun dari langit dan air yang keluar dari bumi (mata air)” (1/16)

Keempat, Air Laut.

Pada suatu ketika rasullah dan para sahabat sedang berlayar, namun mereka hanya membawa sedikit air. Kemudian sahabat Abu hurairah bertanya “ Wahai rasulullah, kita hanya membawa sedikit air, jika kita gunakan air ini untuk bersuci maka kita akan kehabisan air dan kita akan kehausan, lalu apakah boleh kami berwudhu’ dengan menggunakan Air laut? Kemudian rasulullah bersabda,

هو الطهور ماؤه الحل ميتته

“Airnya suci dan bangkai yang ada di dalamnya juga suci.” (HR Bukhari-Muslim)

Hadist ini menjelaskan bahwa air laut hukumnya adalah suci dan mensucikan, boleh digunakan untuk bersuci dari hadast dan menghilangkan najis.

Kelima, Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci yang tidak mungkin untuk memisahkan keduanya.

Diantara contoh air yang bercampur dengan sesuatu yang suci adalah seperti air lumut, atau air yang bercampur dengan dedaunan, atau air yang bercampur dengan tanah. Semua air tersebut meskipun sudah bercampur dengan benda lain, ia tetap terhitung suci dikarenakan ia masih disebut dengan air dan tidak mungkin untuk memisahkan diantara keduanya serta hal itu terjadi secara alami tanpa ada campur tangan manusia, misalnya seperti air yang bercampur dengan lumut, tidak mungkin dipisahkan keduanya maka ia tetap terhitung sebagai air yang suci.

Akan tetapi apabila air tersebut bercampur dengan sesuatu yang suci namun merubah hakikat air tersebut sehingga merubah salah satu sifatnya baik baunya, warnanya atau rasanya secara mutlak maka air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci, seperti air yang bercampur kopi, atau susu atau hal lainnya yang merubah hakikat air tersebut. Karena air yang bercampur dengan kopi tidak disebut air lagi, akan tetapi disebut dengan “kopi” maka hal ini sudah merubah nama dan hakikat air tersebut.

Keenam, Air yang bercampur dengan Najis namun tidak merubah sifatnya.

Air yang bercampur dengan najis, akan tetapi najis tersebut tidak merubah sifat air tersebut yakni tidak merubah warnanya, atau baunya atau juga rasanya, maka air tersebut masih boleh digunakan untuk bersuci.

Pada suatu ketika rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam pernah ditanya” Ya rasulullah apakah kami boleh berwudhu’ dari sebuah sumur yang dilemparkan ke dalamnya kotoran-kotoran manusia dan bangkai, ? maka rasulullah menjawab,

إنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Sesungguhnya Air yang suci tidak dinajiskan oleh sesuatu apapun” (HR Abu Dawud)

Para ulama menjelaskan bahwa alasan rasulullah membolehkan berwudhu’ dari sumur tersebut adalah karena air yang ada didalam sumur tersebut berukuran banyak, sehingga air tersebut tidak berubah salah satu sifatnya, baik baunya, warnanya atau rasanya meskipun air tersebut bercampur dengan barang-barang yang bernajis.

Para ulama meletakkan kaidah penting bahwa air yang banyak apabila berukuran banyak, kemudian masuk kedalamnya benda yang bernajis, selama air tersebut tidak berubah sifatnya dari bau, rasa dan warnanya, maka air tersebut tetap suci dan boleh digunakan untuk bersuci. Akan tetapi apabila berubah salah satu saja dari sifat-sifatnya, maka air tersebut dihukumi najis.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...