Home Fiqih Jenis-Jenis Hewan Darat Yang Haram

Jenis-Jenis Hewan Darat Yang Haram

Makanan merupakan komponen penting dalam proses keberlangsungan hidup manusia, tubuh yang tidak terisi makanan maka tidak akan berfungsi karena makanan merupakan sumber energi, dari energi itulah tubuh akan bertahan hidup. Sumber makanan manusia berasal dari 2 hal,

1. Makanan Nabati, yakni makanan yang tumbuh diatas bumi dari tumbuh-tumbuhan, seperti sayur mayur, dan buah-buahan. Semua tumbuh-tumbuhan boleh dan halal untuk dikonsumsi sebagaimana Firman Allah ta’ala,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia, makanlah makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi”. (QS. Al-Baqarah 168)

Semua tumbuhan yang tumbuh di atas muka bumi halal untuk dikonsumsi, kecuali tumbuhan yang terbukti memiliki kandungan racun yang bisa merusak tubuh atau tumbuh-tumbuhan yang bisa memabukkan, maka tumbuh-tumbuhan tersebut haram dikonsumsi karena bisa memberikan dampak negatif dan membahayakan bagi tubuh.

2. Makanan Hewani, Yakni segala jenis bintang yang hidup di muka bumi ini. Kemudian binatang terbagi menjadi 2:

Hewan darat. Yakni hewan yang hidup di daratan, seperti ayam, kambing, sapi dan unta.

Hewan Air. Yakni hewan-hewan yang hidup di air, baik di air laut maupun di air sungai seperti: ikan, cumi-cumi dan hewan lainnya.

Pada dasarnya semua semua hewan yang hidup di darat itu halal untuk dikonsumsi kecuali beberapa jenis hewan seperti,

Pertama, Hewan yang di sebutkan secara langsung dalam Nash keharamannya seperti Babi, Allah ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

Katakanlah “Tidaklah aku peroleh dari apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang-orang yang hendak memakannya, kecuali jika makanan itu adalah bangkai, atau darah yang mengalir atau babi karena semua itu adalah kotor” (QS Al-An’am : 145)

Dalam ayat di atas Allah menyandingkan keharaman babi sebagaimana keharaman bangkai dan darah, kemudian Allah mengumpulkan kesemuanya itu dalam satu sifat yang sama yakni “rijsun” yang berarti adalah sesuatu yang kotor yang tidak boleh dikonsumsi.

Kemudian di antara hewan yang secara langsung ditegaskan keharamannya dalam hadist Nabi adalah keledai. Dari Jabir radhiyallau ‘anhu ia berkata,

نهى النبي صلى الله عليه وسلم يوم خيبر عن لحوم الحمر الأهلية

“Pada perang khaibar Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam melarang untuk mengkonsumsi keledai (HR Bukhari-Muslim)

Kedua, Hewan-hewan yang disebutkan ciri-ciri keharamannya dalam Nash, seperti hewan buas yang bertaring dan juga golongan hewan yang berkuku tajam. Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن كل ذي ناب من السباع وعن كل ذي مخلب من الطير

“Sesungguhnya Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam melarang (untuk dimakan) setiap hewan bertaring kuat dari binatang buas, dan juga hewan yang berkuku tajam dari jenis burung. (HR Muslim)

Di antara contoh binatang yang bertaring adalah seperti singa dan beruang, adapun yang memiliki kuku tajam dari jenis burung adalah burung elang dan yang sejenisnya. Adapun binatang lain yang tidak memiliki gigi taring dan kuku yang tajam maka ia halal dan boleh untuk dikonsumsi.

Ketiga, Hewan pemakan bangkai, seperti burung Hering dan yang sejenisnya. Burung ini merupakan burung yang suka memakan bangkai, maka islam melarang untuk mengkonsumsinya karena islam melarang untuk mengkonsumsi segala sesuatu yang jorok, kotor dan menjijikkan.

Keempat, Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya dan hewan yang dilarang untuk membunuhnya, maka kedua jenis hewan ini haram untuk di konsumsi. Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya seperti ular, kalajengking, tikus, burung gagak, burung rajawali, dan anjing hitam. Hewan-hewan tersebut haram untuk dokonsumsi.

Adapun hewan yang dilarang untuk mengkonsumsinya seperti semut dan lebah. Maka kedua jenis binatang ini haram untuk di konsumsi.

Kelima, Hewan yang lahir dari hasil perkawinan dengan binatang haram, seperti kambing yang lahir dari perkawinan induknya dengan babi dan hewan haram lainnya.

Binatang-binatang yang disebutkan di atas merupakan jenis-jenis binatang yang disepakati keharamannya oleh para ulama, namun masih ada beberapa jenis binatang yang keharamannya masih di perselisihkan, karena sebagian ulama menempatkannya pada jenis binatang yang halal dokonsumsi dan sebagaian lainnya menempatkannya pada binatang-binatang yang haram untuk dikonsumsi. Adapun pembahasan ini maka akan di uraikan lebih rinci pada tulisan berikutnya.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Mengenal Kitab Tafsir Jalalail

Tafsir Jalalain termasuk tafsir yang ringkas, tapi ia tergolong di dalam kelas menengah. Tafsir Jalalail memiliki kesamaan dengan tafsir Ibnu Katsir dalam tingkat memahaminya....

Kenapa Hujan Menjadi Berkah ?

  Pertama, Allah menyebutkan dalam surat Qaf ayat 9 yang berbunyi: وَنَزَّلنَا مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤء مُّبَـٰرَكا فَأَنبَتنَا بِهِ جَنَّـٰت وَحَبَّ ٱلحَصِیدِ "Dan Kami telah turunkan dari langit...

Bahaya Namimah

Islam menyariatkan kepada pemeluknya agar melakukan hubungan baik antara sesama muslim yang lainnya. Ini merupakan salah satu tujuan adanya maqosid asy syariah al khomsah....

Baca surat al Kahfi di hari jumat salah, Benarkah ?

Perlu diketahui bahwa secara umum ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang dianjurkan membaca surat-surat tertentu pada hari jumat, seperti surat Yasin, al Kahfi, dan...