Home Muamalah Saudaraku, Musibah Adalah Ladang Pahala Untukmu

Saudaraku, Musibah Adalah Ladang Pahala Untukmu

Alloh Subhaanahu wata’aalaa menjadikan dunia ini sebagai tempat di mana seorang hamba membuktikan keimanannya, dunia ini adalah tempat di mana seorang muslim melatih dirinya agar terbiasa  bertawakkal kepada Alloh, menguatkan keyakinannya bahwa akan ada balasan dari setiap cobaan yang menimpanya, mempertebal rasa berserah dirinya kepada Dzat yang Maha Adil atas setiap kejadian yang menimpanya. Sejatinya musibah yang terjadi tidaklah datang begitu saja, tapi kehadirannya membawa hikmah, dan terdapat ‘ibroh di dalamnya.

Setiap musibah yang dialami oleh manusia pastinya ada dalam pengetahuan Alloh, atas izin Alloh ‘Azza wa Jalla, Dia Maha mengetahui apa yang di alami oleh seorang hamba, Dia Maha Melihat setiap sesuatu yang menimpa seorang hamba, tidak satu pun  tersembunyi Oleh-Nya.

Tidaklah angin yang berhembus dan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya kecuali Alloh mengetahui arahnya, tidak satu pun pergerakan dalam sedetik di alam semesta ini kecuali atas izin Alloh, tidak pula dedaunan berjatuhan ke permukaan tanah kecuali Alloh mengetahuinya, segala sesuatu yang terjadi di daratan maupun di lautan ada dalam pengetahuan-Nya.

Alloh Subhaanahu wata’aalaa berfirman :

وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا یَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةࣲ فِی ظُلُمَـٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبࣲ وَلَا یَابِسٍ إِلَّا فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِن

Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya, dan tidaklah jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”(QS. Al-an’am: 59)

Imam Ibnu Katsir -Rohimahulloh- berkata dalam tafsirnya tentang penafsiran ayat ini:

 وَيَعْلَمُ الْحَرَكَاتِ حَتَّى مِنَ الْجَمَادَاتِ، فَمَا ظَنُّكَ بِالْحَيَوَانَاتِ، وَلَا سِيَّمَا الْمُكَلَّفُونَ مِنْهُمْ من جنهم وإنسهم

“Dan Dia mengetahui dari setiap pergerakan, bahkan benda mati sekalipun, terlebih lagi jika yang bergerak itu adalah hewan, apalagi mereka yang terkena taklif dari kalangan Manusia dan Jin.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/260)

Jika kita mengimani bahwa setiap perkara telah Alloh gariskan, maka seharusnya kita pun meyakini bahwa Alloh tidak akan lalai dari setiap kejadian yang kita alami, adanya ujian pasti akan ada balasan, adanya musibah pasti ada ganjaran; pahala jika bersabar dan berlapang dada, serta dosa jika murka dan tidak ikhlas menerima.

Nikmat dan Penderitaan itu Ujian

Nikmat dan Penderitaan adalah cobaan dari Alloh Subhaanahu  wata’aalaa, Sebagaimana firman-Nya:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَیۡرِ فِتۡنَةࣰۖ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”(QS. Al-Anbiya’: 35)

Dalam ayat lain Alloh menegaskan :

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَیۡءࣲ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَ ٰ⁠لِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِینَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Imam Ibnu Katsir –Rohimahulloh– berkata:

أي: يَخْتَبِرُهُمْ وَيَمْتَحِنُهُمْ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ 

Yakni, melatih dan menguji mereka. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui (supaya nyata) orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwal kalian.” (Muhammad: 31)

Kemudian beliau berkata:

فَتَارَةً بِالسَّرَّاءِ، وَتَارَةً بِالضَّرَّاءِ مِنْ خَوْفٍ وَجُوعٍ

Adakalanya Alloh Subhaanahu wata’aalaa Mengujinya dengan kesenangan dan adakalanya mengujinya dengan kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar.( Tafsir Ibnu Katsir, 1/467)

Syaikh Ibnu ‘Utasimin -Rohimahulloh- ketika menafsirkan QS.Al-Baqarah ayat 155, beliau berkata:

Al-khouf” bermakna “Takut” (Kepanikan/kengerian, pen)”. Dan ini Mencakup semua rasa takut, baik secara umum maupun secara khusus, adapun rasa takut secara umum yakni seperti saat ketika suatu negeri terancam adanya kedatangan musuh. Dan rasa takut secara khusus, yakni seperti ketika seseorang dimana dirinya di uji terhadap sesuatu yang menakutinya dan dari sesuatu yang mengerikan.”)Tafsir  Al-‘utsaimin: Al-fatihah wa Al-Baqarah, 2/178)

Makna Dan Pahala Bersabar

Sebelum mengetahui apa saja pahala orang yang bersabar, terlebih dahulu mari memahami apa sebenarnya arti dari kesabaran.

Syaikh Ibnu ‘Ustaimin -Rohimahumulloh-  berkata:

الصبر في اللغة: الحبس. والمراد به في الشرع: حبس النفس على أمور ثلاثة

الأول: على طاعة الله

الثاني: عن محارم الله

الثالث: على أقدار الله المؤلفة

“Sabar” Secara etimologi bermakna “Menahan”. Sedangkan secara istilah (terminologi) dalam syariat bermakna “Menahan diri dari dari tiga perkara:

Pertama, Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Alloh.

Kedua, Sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan

Ketiga, Sabar terhadap takdir Alloh yang tidak menyenangkan.” (Syarah Riyadhu As-sholihin, 1/172).

 Adapun ganjaran bagi orang-orang yang bersabar sebagai berikut:

Pertama: Sabar merupakan pelita bagi seorang hamba, yang pahalanya tidak terhingga.

Alloh Subhaanahu wata’aalaa berfirman:

إِنَّمَا یُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَیۡرِ حِسَابࣲ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”(Az-zumar: 10)

Syaikh ‘Abdurrohaman As’sadi -Rohimahumulloh- dalam tafsirnya menyebutkan :

بغير حد ولا عد ولا مقدار، وما ذاك إلا لفضيلة الصبر ومحله عند اللّه، وأنه معين على كل أمور

“Yaitu tanpa batas, tidak terhitung, juga tidak terukur, tidak lain hal itu karena keutamaan dari bersabar, dan kedudukannya di sisi Alloh, dan Sesungguhnya ia merupakan penolong dalam setiap perkara.”(Taisiru Al-karim Ar-rahman, hlm 720)

Rosululloh Shollallohu ’alaihi wasallam menyebutkan dalam sabdanya bahwa sabar merupakan pelita yang menerangi kehidupan seorang hamba:

الصبر ضياء

“Sabar itu merupakan pelita.”(Shohih Muslim: 223)

Syaikh Ibnu ’Ustaimin -Rohimahumulloh- berkata:

يعني أنه يضيء للإنسان، عندما تحتلك الظلمات وتشتد الكربات، فإذا صبر؛ فإن هذا الصبر يكون له ضياء يهديه إلي الحق

“Maksudnya, sabar dapat menerangi seorang insan, meneranginya di saat gelap dan di saat beratnya musibah menimpa. Jika seseorang bersabar, kesabaran itu merupakan penerang yang dapat menunjukinya ke jalan  yang Haq.”(Syarah Riyadhu As-sholihin, 1/187)

Beliau juga berkata: “Sinar itu cahaya yang mesti terdapat padanya sifat panas, dan demikianlah sabar, terdapat padanya panas dan kelelahan, karena di dalamnya terdapat keletihan yang besar, oleh karena itu ganjarannya tidak terhingga.”(Syarah Riyadhu As-sholihin, 1/191)

Kedua, Orang yang diuji dengan kesabaran atas kematian seseorang, kehilangan nyawa orang yang ia cintai, maka Alloh akan mengganjarnya dengan Syurga.

Kematian adalah sebuah kepastian, tidak satupun manusia yang mengetahui kapan ajalnya akan datang, tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan seseorang hidup, maka ketika Alloh ‘Azza wa Jalla mengambil nyawa orang-orang yang kita cintai, mewafatkan anak, istri, suami, karib kerabat atau orang-orang yang di sayangi, jika kita bersabar, ikhlas dengan penuh kerelaan, maka balasannya adalah Syurga.

Dari Abu Hurairah -Rodiyallohu’Anhu-, bahwasannya Nabi Shollallohu ’alaihi   wasallam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثم أَحْتَسَبَه إلا الجَنَّةِ

Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali syurga.” (HR. Bukhari: 5944)

Syaikh Ibnu ’Ustaimin -Rohimahumulloh- berkata :

“Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan bersabar atas di cabutnya nyawa seseorang yang dicintai di dunia, dan Alloh ‘Azza wa Jalla membalasnya jika ia mengharap pahala karena-Nya, dan membalasnya dengan Syurga.”(Syarah Riyadhu As-sholihin, 1/230)

Ketiga, Musibah adalah penghapus dosa, sekalipun hanya  tertusuk oleh duri.

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah -Rodiyallohu ’Anhumaa-dari Nabi Shollallohu ’alaihi wassalam  bahwa beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”(Muttafaqun ‘alaih)

Keempat, Orang yang bersabar, Jika Alloh menginginkan kebaikan padanya, maka Alloh akan menimpakan musibah untuknya, dan hukumannya di dunia disegerakan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.

Rosululloh Shollallohu ’alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Alloh inginkan kebaikan padanya, maka Alloh akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari: 5645)

Dalam hadits yang lain Rosululloh Shollallohu ’alaihi wassallam menegaskan :

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

Apabila Alloh menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Alloh akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Alloh menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Alloh akan menahan adzab baginya akibat dosanya (di dunia), sampai Alloh membalasnya (dengan sempurna) pada hari Kiamat. (HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik, dan shohihkan oleh Syaikh Albani dalam shohihul Jaami’ no. 308)

Kelima, Jika Alloh mencintai seseorang, maka Alloh akan menimpakan musibah padanya.

Coba renungkan sabda Rosululloh Shollallohu ’alaihi wasallam:

إن أعظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي الله فله الرضى، ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya bala, dan apabila Alloh subhanahu wa ta’ala mencintai suatu kaum, Dia memberi cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridho, maka baginya keridhoan Alloh dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan Alloh.”(HR. At-Tirmidzi: 2396. ia berkata: Hadits ini Hasan)

Syaikh  Ibnu ‘Ustaimin –Rohimahumulloh– berkata: “Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin, apabila ia di uji dengan suatu musibah, maka jangan ia menyangka bahwa sesungguhnya Alloh Subhaanahu wata’aalaa murka padanya, akan tetapi bisa jadi itu merupakan tanda dari kecintaan Alloh terhadap hamba-Nya, Dia Subhaanahu wata’aalaa  mengujinya dengan berbagai musibah. Maka apabila seorang insan ridho, bersabar dan berniat meraih pahala, maka baginya keridhoan Alloh, dan apabila ia murka, maka baginya kemurkaan Alloh.”(Syarhu Riyadhu As-sholihin, 1/259)

Semoga Alloh Subhaanahu wata’aalaa menjadikan kita orang-orang yang senantiasa bersabar dalam setiap musibah dan ujian yang kita alami di dunia. Wallohu a’alam

 

Tolitoli, 14 Jumada al-Akhiroh 1442.

Abriansyah Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Saud Islamic University (LIPIA Jakarta) Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...