Home Muamalah Maknai Perintah Taubat, Jangan Biarkan Diri Terus-menerus Bermaksiat

Maknai Perintah Taubat, Jangan Biarkan Diri Terus-menerus Bermaksiat

Satu di antara sebab yang mendatangkan kebahagiaan bagi seorang muslim adalah, dengan bertaubat atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan, karena terampuninya dosa adalah di antara sebab keberkahan hidup yang Alloh berikan bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan.

Imam Ibnul Qoyyim –Rohimahulloh– pernah berkata :

السعادة بالثلاث: شكر النعمة، الصبر على البلاء، التوبة من الذنب

“Kebahagiaan itu dengan 3 hal : Bersyukur atas nikmat Alloh, bersabar atas musibah, bertaubat dari dosa.”(Al-waabil As-shoyyib, hlm 5)

Sudah menjadi Sunnatulloh bahwa, tidak ada manusia di dunia ini yang hidup dengan kesempurnaan, pasti pernah terjatuh kedalam kubangan dosa dan kemaksiatan.

Seringkali, kedua mata kita begitu mudah terpanah dengan keindahan dan kesenangan fana, sering kali juga hati tergelincir ke dalam perangkap dan jeratan dosa, hingga terus-menerus mencederai keimanan. Betapa manisnya bermaksiat, meski hanya sementara, tapi kadang mampu membuat kekhilafan diri semakin menjadi-jadi, anggota badan yang selalu kita gerakkan, seringnya berperilaku mendatangkan sebab kemurkaan dan kemarahan Ilahi.

Namun demikian, sebanyak apapun dosa yang kita lakukan kepada Alloh Subhaanahu wata’aalaa, satu hal yang harus kita tanamkan dan wajib untuk kita ketahui, bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla adalah Maha Tawwab (Maha Penerima taubat), Dia membentangkan harapan dan kasih sayang-Nya untuk setiap hamba yang kembali datang memohon ampunan dan taubat kepada-Nya, meski dosa-dosanya seluas langit dan bumi, tapi tentu saja rahmat dan ampunan Alloh lebih luas lagi.

Maka jangan pernah berhenti untuk terus-menerus memelas dan memohon pada Sang Khalik agar diberi maaf dan ampunan, serta di bukakan pintu taubat.

Makna Taubat

Secara bahasa kata “Taubat” (توبة) berasal dari kata  “ تاب-يتوب”  yang bermakna “رجع-يرجع“  yaitu: “Kembali, berbalik, atau pulang”. Adapun dalam istilah syari’at, taubat bermakna:

الرجوع من معصية الله تعالى إلى طاعته

” Meninggalkan kemaksiatan dan kembali melakukan ketaatan kepada Alloh Ta’aalaa.“(Syarah Riyadhu As-sholihiin 1/86)

Jadi, bertaubat pada hakikatnya adalah hijrah dari jalan yang Alloh murkai ke jalan yang Alloh ridhohi, dengan cara meninggalkan perbuatan maksiat dan menggantinya dengan keta’atan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.

Syarat Diterimanya Taubat

Taubat yang di lakukan oleh seorang hamba haruslah memenuhi syarat. Dalam hal ini, seorang yang bertaubat tidak serta-merta hanya sekedar mengucapkan dengan lisannya bahwa ia telah bertaubat. Sebab taubat kepada Alloh tidak hanya mencakup amalan dzahir belaka, namun juga amalan yang bersifat batinniyyah, yakni amalan yang di kerjakan oleh hati. Dari sini, para Ulama meyebutkan ada syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam taubat seorang. Jika tidak, maka taubat yang ia lakukan tidaklah sempurna, bahkan tidak diterima Alloh ‘Azza wa Jalla.

Al-Imam An-Nawawi -Rohimahulloh- menyebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang yang ingin bertaubat kepada Alloh, beliau berkata:

“jika kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang hamba adalah maksiat antara dirinya dengan Alloh, dan tidak terikat dengan hak anak Adam, maka ada 3 syarat yang harus di penuhi :

  1. Berhenti dari melakukan maksiat yang ia kerjakan.
  2. Harus didasari dengan penyesalan atas perbuatan maksiat.
  3. Ber’azam atau bertekad tidak melakukan maksiat tersebut untuk selamanya.

Apabila salasatu dari syarat tersebut tidak terpenuhi, maka taubatnya tidaklah sah. Namun, apabila dosa yang ia lakukan terikat dengan hak seseorang, maka ia harus berlepas diri dari hak tersebut. misalnya, jika hak tersebut dalam bentuk berupa harta yang ia curi, maka wajib baginya untuk mengembalikan harta tersebut.”(Riyadhu As-sholihin hlm 34, Muasasah Ar-risalah)

Tentunya, Perkara yang paling utama dari semua syarat bertaubat di atas ialah keikhlasan hati, Sebab setiap amalan yang tak di dasari keikhlasan adalah amalan yang tertolak dan sia-sia lagi tak berpahala.

Jangan Menunda-nunda Taubat

Taubat dalam Islam merupakan kewajiban, dan tidak boleh di tunda-tunda untuk di akhirkan, karna mengakhirkan taubat dari kemaksiatan juga merupakan bentuk dosa, maka jangan menambah dosa yang ada dengan cara terus-menerus menunda untuk bertaubat. Syaikh Al-Utsaimin -Rohimahulloh- berkata:

وإن كانت المعصية بفعل محرم، فالواجب أن يقلع عنه فوراً، ولا يبقي فيه ولا لحظة.

“Jika maksiat yang ia lakukan ialah perbuatan yang haram, maka wajib baginya untuk segera meninggalkan perbuatan tersebut, dan tidak membiarkan dirinya berada dalam perbuatan tersebut meski hanya sebentar.”(Syarah Riyadhu As-sholihiin 1/87)

Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk menyegerakan bertaubat dari kemaksiatan. Ada banyak Nash Al-Qur’an yang menunjukkan kewajiban untuk bertaubat, di antaranya :

{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(Q.S An-Nur : 31)

Dalam ayat lain, Alloh Subhaanahu wata’aalaa juga berfirman :

{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ}

“Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.”(Q.S Hud : 3)

Sedangkan dalam Surah At-Tahrim ayat 8, Alloh memerintahkan agar bertaubat dengan taubat yang nasuha :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً}

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).

Al-Imam An-Nawawi -Rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seseorang, untuk bertaubat dari Semua dosa yang ia lakukan, karena kewajiban bertaubat telah banyak di tunjukkan dalam banyak dalil Al-Qur’an dan sunnah, serta merupakan ijma’.(Riyadhu As-sholihin hlm 34, Muasasah Ar-risalah).

Demikianlah perintah kewajiban bertaubat, selama Alloh masih memberikan kesempatan, maka jangan biarkan diri terus-menerus berlumuran dosa, segeralah untuk bertaubat. Jika bermaksiat lagi, maka kembalilah bertaubat, jika berdosa lagi, baliklah lagi untuk mohon ampun kepada Alloh Ta’aalaa dan tetap bertaubat, karena tidak ada manusia yang suci dari perbuatan dosa, hanya saja jangan sampai Alloh Subhaanahu wata’aalaa menutup hidup kita dalam keadaan penuh maksiat yang tidak terampuni.

Rosululloh Shollallohu ’alaihi wasallam bersabda:

إنما الأعمال بخواتيمها

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada bagian akhirnya.(HR.Bukhori no. 6493)

Ada dua waktu di mana Alloh tidak lagi menerima taubat seseorang :

Pertama, ketika kondisi Sakratul maut, Hal ini Alloh tegaskan dalam Al-Qur’an :

{وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ}

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang…’” (QS. An-Nisa’: 18)

 Rasululloh Shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ

“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

Kedua, Ketika matahari terbit  dari barat. Alloh Subhaanahu wata’aalaa berfirman :

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْساً إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْراً قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

Pada hari datangnya sebagian ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula).’” (Qs. Al An’aam: 158).

Syaikh  Al-Utsaimin -Rohimahulloh- berkata: “Sebagian ayat yang dimaksud di sini adalah terbitnya matahari dari arah barat sebagaimana hal itu telah ditafsirkan sendiri oleh Nabi Shollallohu  ‘alaihi wasallam.” (Syarah Riyadhu As-sholihin, I/96)

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ، فَإِذَا طَلَعَتْ، فَرَآهَا النَّـاسُ؛ آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ، فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا

“Tidak akan terjadi Kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat, jika ia telah terbit, lalu manusia menyaksikannya, maka semua orang akan beriman, ketika itu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”(Shahih Al-Bukhori, 11/352, Shohih Muslim, 2/194)

Semoga Alloh ‘Azza  wa Jalla memberikan Taufik-Nya kepada kita semua.

Wallohu a’alam bisshowaab.

Abriansyah Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Saud Islamic University (LIPIA Jakarta) Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...