Home Muamalah Hilangnya Kenikmatan Disebabkan Karena Dosa

Hilangnya Kenikmatan Disebabkan Karena Dosa

Sebagai insan yang beriman, adalah sebuah kewajiban bagi seorang hamba untuk senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri). Sebagaimana ungkapan yang sudah sangat familiar, “bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”

Jika salah dan lupa adalah perkara yang tidak terlepas dari kehidupan seorang hamba, maka introspeksi diri seharusnya menjadi amalan yang tidak bisa dilalaikannya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mari berintrospeksi diri sejauh apa hubungan kita dengan Allah Selama ini ? Sejauh apa kita peduli pada Allah dan ajaran-ajaran-Nya ? maka pada hakikatnya sejauh itu pula Allah peduli pada diri kita, karna Alloh senantiasa memberkahi kehidupan seorang hamba sesuai dengan kadar kedekatannya dengan Alloh, dan sebanyak apa kita bermaksiat kepada Alloh, maka Alloh akan menghapus kenikmatan yang ada pada diri kita sesuai dengan kadar kemasiatan yang kita lakukan.

Oleh karna itu, coba renungkan ! Mengapa terkadang kebahagiaan dan berbagai kenikmatan; berupa harta, usaha, jabatan, kesehatan atau kenikmatan duniawi lainnya yang sebelumnya kita rasakan, yang sebelumnya kita dapatkan berganti dengan kesengsaraan ?

Atau mengapa selama ini selalu saja kita mengalami berbagai ujian, cobaan, musibah yang begitu berat, serta masalah dan berbagai kesengsaraan lainnya? Karena ternyata, penyebabnya datang dari diri kita sendiri; semua itu di sebabkan adanya berbagai kemaksiatan yang telah kita lakukan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, kitalah yang telah jauh dari-Nya, sehingga Alloh mendatangkan hukuman setimpal.

Coba kita perhatikan apa yang di sebutkan oleh imam Ibnul Qoyyim-Rohimahulloh- dalam kitabnya Ad-da’u wa Ad-dawaa :

وَمِنْ عُقُوبَاتِ الذُّنُوبِ: أَنَّهَا تُزِيلُ النِّعَمَ، وَتُحِلُّ النِّقَمَ، فَمَا زَالَتْ عَنِ الْعَبْدِ نِعْمَةٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَاحَلَّتْ بِهِ نِقْمَةٌ إِلَّا بِذَنْبٍ

“Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan nikmat dan mendatangkan adzab. Tidaklah suatu nikmat hilang dari seorang hamba, melainkan karena dosa. Tidaklah juga adzab menimpanya, melainkan disebabkan dosa.”(Ad-da’Wa Ad-dawaa hlm 74)

Saudaraku, Apa yang di ungkapkan oleh Imam Ibnul Qoyyim-Rohimahulloh- Sesuai dengan apa yang di sebutkan Alloh dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syuro ayat 30 :

وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Imam Ibnul Qoyyim -Rohimahulloh- juga berkata :
“Nikmat Alloh tidak akan terpelihara dari seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar ketaatan yang ia lakukan kepada-Nya, dan tidak akan bertambah nikmat itu kecuali semisal kadar kesyukuran pada-Nya, dan tidak akan hilang nikmat tersebut dari seorang hamba kecuali sesuai dengan ukuran maksiat kepada Robbnya, karna sesungguhnya maksiat itu ibarat api yang membakar kenikmatan yang ada, sebagimana api membakar kayu yang kering.” (Badaai’ul Fawaaid 2/20)

Kemudian beliau juga berkata,
“Sesungguhnya Maksiat itu dapat menghilangkan nikmat Alloh yang ada, dan memutus nikmat yang akan datang.”(Ad-da’Wa Ad-dawaa hlm 106)

Dalam ayat yang lain Alloh Subhaanahu wata’aalaa menegaskan dalam firman-Nya Surah Al-anfal ayat 53 :

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرًا نِّـعۡمَةً اَنۡعَمَهَا عَلٰى قَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌۙ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”

Dari ayat di atas, kita bisa memetik hikmah, bahwa Alloh tidak mengubah nikmat-Nya yang telah diberikan kepada seseorang sampai ia sendiri yang mengubahnya. Sehingga, jika seorang hamba mengubah ketaatannya kepada Allah menjadi maksiat, dan syukur menjadi kufur kepada-Nya, serta mengubah penyebab datangnya keridhaan Alloh menjadi kemurkaan-Nya, maka Alloh pun akan mengubah keadaan dan kondisinya, sebagai balasan yang setimpal. Karna Alloh tidak pernah menzhalimi para hamba-Nya, Alloh maha adil lagi bijaksana. Maka jika seorang hamba mengubah kemaksiatan menjadi ketaatan kepada- Nya, niscaya Allah akan mengubah hukuman, musibah, masalah, kesengsaraan, menjadi kesejahteraan dan kebahagiaan, serta dari kehinaan menjadi kemuliaan.

Sebagai penutup,Jika ingin kehidupan kita penuh dengan keberkahan maka perbaikilah hubungan kita dengan Alloh, jika kita ingin hidup bahagia, maka bangunlah kedekatan dengan Alloh Subhaanahu wata’aalaa, dekatilah Alloh dengan sedekat-dekatnya, karna dengan sperti itu Alloh akan menjaga dan memelihara kebahagiaan, bahkan menambah kenikmatan yang ada pada diri kita. Semoga Alloh senantia memberkahi hidup kita dan memberi Taufik-Nya

Abriansyah Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Saud Islamic University (LIPIA Jakarta) Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...