Home Muamalah Bercanda Tapi Bohong, Bolehkah?

Bercanda Tapi Bohong, Bolehkah?

Merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar adalah selalu berkata jujur di dalam setiap keadaan, karena kejujuran akan menghantarkan seseorang pada kedudukan yang mulia di hadapan Allah dan juga manusia. Orang yang jujur akan dipercaya oleh orang lain, karena kepercayaan adalah sesuatu yang mahal dan tidak bisa di dapatkan dari orang murahan. Sementara kedustaan hanya akan membawa malapetaka dan kehinaan bagi pemiliknya.

Dalam sebuah hadist, dari Abdullah bin mas’ud bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Raulullahh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga”. (HR Bukhari)

Kejujuran akan menghantarkan pemiliknya kepada kebaikan, dan kebaikan akan selalu menghnatarkan pelakunya menuju syurga Allah. Maka hendaknya setiap orang menjaga dirinya dari segala kedustaan dan selalu menanamkan sifat kejujuran dalam segala aktivitasnya.

Larangan Berbohong Meskipun Bercanda

Dalam sebuah hadist, rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

لا يؤمن العبد الإيمان كله حتى يترك الكذب من المزاحة، ويترك المراء وإن كان صادقا

“Seorang hamba tidak sempurna imannya sampai ia meninggalkan dusta meskipun sedang bercanda, dan meninggalkan perdebatan meskipun ia benar”. (HR Ahmad)

Rasulullah menafikan kesempurnaan iman seseorang selama ia masih suka berdusta meskipun itu hanya bahan gurauan atau bahan bercandaan, karna bercanda tidak harus selalu dibalut dengan dusta. Jangan hanya karena mengharap perhatian dari orang lain kemudian kita menempuh segala cara untuk menyenangkan hati mereka.

Bahkan yang lebih parah dari itu adalah ketika seseorang berdusta hanya karena ingin membuat orang lain tertawa, Bercanda seperti ini dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” (HR Abu Dawud)

Hal ini sangat miris, karena islam mengajarkan kejujuran namun ia justru dengan bangganya mengajarkan sebaliknya, yakni kedustaan dihadapan manusia. Bercanda tidak selalu harus dengan dusta, karena rasulullah dan para sahabat juga pernah bercanda, tertawa lepas bersama, akan tetapi tidak saling bertutur dusta. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

إني لأمزح ولا أقول إلا حقا

“Sesungguhnya aku tidak bercanda dan juga tidak berkata kecuali hal yang benar”. (HR Thabrani)

Ganjaran Pahala Bagi Orang Yang Jujur Meskipun Ketika Bercanda

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya majmu’ Fatawa menukil perkataan Ibnu Mas’ud, ia berkata

 إن الكذب لا يصلح في جَدٍّ  ولا هزل وأما إن كان في ذلك ما فيه عدوان على المسلمين ، وضرر في الدين : فهو أشد تحريماً من ذلك ، وعلى كل حال  ففاعل ذلك  – أي : مضحك القوم بالكذب- مستحق للعقوبة الشرعية التي تردعه عن ذلك

“Berbohong itu tidak layak baik dalam keadaan serius maupun bercanda’. Apabila dalam candaan menimbulkan permusuhan di antara manusia dan menimbulkan madharat dalam agama, maka lebih diharamkan lagi. Pelakunya berhak mendapatkan hukuman yang bisa membuat jera.” (Majmu’ Al-Fatawa 32/256)

Dari keterangan diatas, beberapa kesimpulan penting yang harus kita ketahui,

Pertama, Kejujuran akan menghantarkan pemiliknya pada kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah dan di hadapan umat manusia.

Kedua, Bercanda itu boleh, rasulullah dan para sahabatnya juga pernah saling bercanda dan tertawa bersama.

Ketiga, Bercanda yang terlarang adalah bercanda yang dihiasi dengan kedustaan, apalagi jika hal tersebut ditujukan untuk membuat orang lain tertawa, maka orang seperti ini masuk dalam ancaman rasulullah bahwa ia termasuk orang-orang yang celaka.

Keempat, banyak hal-hal positif yang bisa dijadikan bahan bercandaan yang sederhana, bercanda itu tidak mesti harus membuat orang lain tertawa terbahak-bahak, namun sentuhan sederhana yang membuat orang lain senang dan tidak menyinggung, maka itu sudah cukup dan lebih aman.

Kelima, Berdusta meskipun bercanda bisa berpotensi untuk menimbulkan kisruh dan permusuhan, terlebih biasanya bercandaan yang dibalut dengan dusta akan berisihi hal-hal yang menjelakkan orang lain atau membahas sesuatu hal secara berlebihan, dan hal ini tanpa disadari justru bisa membuat orang lain tidak nyaman. Keadaan mental tiap orang berbeda-beda, maka menjaga tutur kata yang baik dan jujur lebih aman dan lebih selamat.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...