Home Fiqih Hukum Istri Bersedekah Dengan Harta Suami Tanpa Sepengetahuannya, Bolehkah?

Hukum Istri Bersedekah Dengan Harta Suami Tanpa Sepengetahuannya, Bolehkah?

Dalam kehidupan rumah tangga, suami memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan istrinya, hal ini dikarenakan suami adalah seorang pemimpin bagi istrinya, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap istrinya. Ketika istri bermaksiat maka suami akan mendapat bagian dari dosa yang dilakukan istrinya, sebaliknya apabila istri melakukan amal kebaikan maka suami juga mendapat bagian dari ganjaran pahala.

Oleh karena demikian, dalam kehidupan berumah tangga, istri wajib untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada suaminya sebelum memutuskan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu yang besar; karena izin dan ridha suami terhadapnya adalah ridha Allah juga.

Lalu apabila istri hendak beribadah seperti bersedekah dengan harta suami, apakah istri wajib untuk meminta izin terlebih dahulu? Padahal ia yakin apabila suaminya mengetahui hal tersebut suaminya tidak akan marah karena ia hanya bersedekah dengan nominal yang terbilang kecil, seperti bersedekah kepada pengemis?

Dalam hal ini, ada 2 Hal yang Harus diketahui,

  1. Para ulama sepakat tentang bolehnya istri untuk bersedekah dengan harta suaminya apabila ia mendapat izin secara terang-terangan untuk bersedekah.
  2. Mayoritas Ulama berpendapat tentang bolehnya istri untuk bersedekah dengan harta suami tanpa izinnya apabila ia hanya bersedekah dengan nominal yang sederhana, namun apabila hendak bersedekah dengan nominal yang besar, maka ia wajib meminta izin kepada suaminya.

Hal ini sebagaimana sabda rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam,

إذا أنفقت المرأة من بيت زوجها غير مفسدة، كان لها أجرها وله مثله بما اكتسب

“Jika seorang istri berinfak dari harta suaminya bukan untuk hal yang tidak baik, maka ia akan mendapatkan pahala dan suaminya juga mendapatkan pahala dari apa yang sudah ia usahakan dari harta tersebut.” (HR Muslim)

Dalam hadist tersebut Rasulullah menerangkan bahwa apabila istri bersedekah dengan harta suaminya, maka istri tersebut akan mendapatkan pahala dari sedekahnya, dan suaminya juga akan mendapatkan pahala yang sama karena uang tersebut adalah hasil usaha dari suaminya. Dalam hadist diatas rasulullah tidak mengharuskan adanya izin dari suaminya, hal ini menunjukan bahwa boleh saja istri bersedekah dengan harta suaminya tanpa sepengetahuannya akan tetapi dengan batasan yang wajar.

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim membagi izin kepada 2 bagian.

Pertama, Izin sharih (Yakni izin secara terang-terangan)

Kedua, Izin yang tersirat secara urf (kebiasaan).

Imam Nawawi menerangkan,

الْإِذْنُ الْمَفْهُومُ مِنَ اطِّرَادِ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ كَإِعْطَاءِ السَّائِلِ كِسْرَةً وَنَحْوَهَا مِمَّا جَرَتِ الْعَادَةُ بِهِ وَاطَّرَدَ الْعُرْفُ فِيهِ وَعُلِمَ بِالْعُرْفِ رِضَاءُ الزَّوْجِ وَالْمَالِكِ بِهِ فَإِذْنُهُ فِي ذَلِكَ حَاصِلٌ وَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ

“Izin yang dipahami dari keseragaman urf (budaya) dan kebiasaan masyarakat seperti memberi peminta-minta segenggam makanan dan yang semisalnya yang diketahui secara kebiasaan masyarakat bahwa seorang suami akan memberikan izin (apabila istri bersedekah dengannya), maka izin itu sudah di dapati meskipun sang suami tidak berbicara secara terang-terangan.” (7/112)

Imam Nawawi menerangkan bahwa istri boleh bersedekah dengan harta suami selama ukuran yang disedekahkan itu dalam timbangan urf (kebiasaan) masyarakat adalah hal yang lumrah untuk di izinkan, artinya suami manapun tidak akan merasa keberatan apabila istrinya bersedekah dengan segenggam roti, sepiring nasi, atau uang recehan kepada orang yang membutuhkan. Dan inilah yang disebut dengan izin urf, yakni izin yang seragam dengan kebiasaan masyarakat.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj menegaskan,

الإذن العرفي يقوم مقام الإذن الحقيقي، فصار كأنه قال لها: افعلي هذا

“Izin urf (kebiasaan) sejajar dengan izin secara hakiki, seakan-akan ia (suami) berkata kepada istrinya : “Lakukanlah” (meskipun suami tidak berbicara).”

Adapun jika ternyata ukuran yang di sedekahkan adalah sesuatu yang bernominal besar dalam timbangan urf masyarakat, maka hal ini memerlukan izin suami, dan apabila istri memaksakan untuk tetap bersedekah tanpa meminta izin suaminya, maka ia akan mendapatkan dosa.

Imam Nawawi kemudian menambahkan,

فَإِنِ اضْطَرَبَ الْعُرْفُ وَشَكَّ فِي رِضَاهُ أَوْ كَانَ شَخْصًا يَشُحُّ بِذَلِكَ وَعُلِمَ مِنْ حَالِهِ ذَلِكَ أَوْ شَكَّ فِيهِ لَمْ يَجُزْ لِلْمَرْأَةِ وَغَيْرِهَا التَّصَدُّقُ مِنْ مَالِهِ إِلَّا بِصَرِيحِ إِذْنِهِ

“Apabila berkesesuaian dengan urf, akan tetapi di ragukan ridha darinya (suami) atau karena keadaan seseorang yang terkenal pelit, maka tidak boleh bagi setiap istri untuk bersedekah dengan harta suaminya kecuali dengan izinnya secara terang-terangan.”(7/112)

Maka dalam hal ini selain mempertimbangkan keadaan urf dan adat masyarakat, maka yang lebih penting dari itu adalah istri harus mengetahui keadaan suaminya. Terkadang ada suami yang terlalu pelit untuk berbagi meskipun hanya sesuap nasi, maka dalam hal ini apabila istri mengetahui bahwa suaminya pelit maka ia tidak boleh untuk bersedekah kecuali dengan izin suaminya secara terang-terangan.

Dari penjelasan diatas, maka ada beberapa kesimpulan penting yang harus dipahami,

Pertama, Bolehnya istri untuk bersedekah dengan harta suaminta tanpa izinnya, apabila harta yang disedekahkan berukuran sederhana, dan secara urf kebiasaan masyarakat hal itu adalah sesuatu yang lumrah, yang mana suami tidak akan keberatan apabila ia mendapati istrinya bersedekah dengannya.

Kedua, Adapun bersedekah dengan harta suami dalam ukuran yang cukup besar, maka istri wajib untuk meminta izin kepada suaminya dan berdosa apabila istri tetap memaksakan untuk bersedekah dengan tanpa izin suaminya.

Ketiga, Apabila istri mengenal bahwa suaminya adalah orang yang pelit, maka ia harus meminta izin terlebih dahulu sebelum bersedekah meskipun dengan ukuran yang kecil sekalipun.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...