Home Biografi Ulama Imam Al-Buwaithy, Memilih Mati Dalam Belenggu Rantai Besi

Imam Al-Buwaithy, Memilih Mati Dalam Belenggu Rantai Besi

Nama lengkap beliau adalah Yusuf bin Yahya Abu Ya’qub Al-Buwaithy Al-Mishry. Lahir di Mesir dan wafat di penjara Baghdad pada tahun 231 H. (Tarikh Baghdad, 16/439)

Beliau Al-Buwaithy, disebutkan oleh Imam As-Subki sebagai,

كَانَ إِمَامًا جَلِيلًا عابدا زاهدا فَقِيها عَظِيما مناظرا جبلا من جبال الْعلم وَالدّين غَالب أوقاته الذّكر والتشاغل بِالْعلمِ غَالب ليله التَّهَجُّد والتلاوة

“Imam yang agung, ahli ibadah lagi zuhud, ahli fiqh besar, laksana gunung ilmu dan agama. Sebagian besar waktunya berisi kesibukan untuk ilmu, sedangkan malamnya digunakan untuk tahajud dan membaca Al-Qur’an”. ( Thabaqot Asy-Syafi’iyah Al-Kubra, 2/162)

Beliau Al-Buwaithy, fasih dalam bertutur kata, gamblang penjelasannya, dan lantang membela kebenaran, juru bicara Imam Syafi’i yang dipercaya untuk memberi fatwa.

“Orang ini (Imam Al-Buwaithy) adalah lisanku”, ungkap imam Syafi’i.

Beliau Al-Buwaithy, seorang murid yang memiliki kedudukan istimewa di hati gurunya, Imam Syafi’i. Suatu ketika Imam Syafi’i sakit, dan terjadi perdebatan akan siapa yang menggantikan beliau mengisi di majelis ilmunya. Maka ketika kabar tersebut sampai ke telinga Imam Syafi’i, beliau menyampaikan kepada salah satu muridnya yaitu Al-Humaidy,

لَيْسَ أحدٌ أحق بمجلسي من يوسف بْن يَحْيَى، وليس أحد من
أصحابي أعلم منه

“Tidak ada seorangpun yang berhak mengisi majelisku selain Yusuf bin Yahya, dan tidak ada seorangpun dari sahabatku yang lebih alim (berilmu) darinya”.(Tarikh Baghdad, 16/439)

Pada tahun 204 H, Imam Syafi’i meninggal dunia. Dan Al-Buwaithy menggantikan beliau mengisi majelis ilmunya, sehingga beliau menjadi ulama besar madzhab Syafi’i, rujukan dalam permasalahan fiqh madzhab syafi’i.

Beliau dicintai dan dihormati masyarakat, hingga kala itu pengikut madzhab syafi’i bertambah pesat hingga mencapai puluhan ribu dari penduduk Mesir.

Teguh di atas kebenaran, itulah yang membuat beliau terbelenggu di rantai besi dalam penjara. Sebuah keteguhan yang tak tergoyah walau dihadapkan pada realita pahit.

Pada masa di mana Imam Al-Buwaithy menjadi ulama Syafi’i besar, doktrin mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk mulai muncul di bawah kepemimpinan para penganut mu’tazilah. Hingga mereka berhasil menyakinkan Khalifah Al-Ma’mun akan kebenaran doktrin tersebut dan menghasutnya untuk memaksa masyarakat dan para ulama untuk mengakuinya. Kebijakan dzalim ini berlanjut hingga masa kepemimpinan Al-Watsiq bin Mu’tashim tahun 227 H.

Ahmad bin Abi Du’ad Al-Mu’tazily, mentri Khalifah Al-Watsiq membuat strategi untuk menyebarluaskan doktrin ini. Dia menghasut Al-Watsiq untuk mencopot jabatan siapa saja yang tidak mengakui doktrin tersebut, agar digantikan oleh para penganut mu’tazilah yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dia juga mengeluarkan kebijakan bagi para guru tingkat dasar untuk mengajarkan keyakinan mu’tazilah pada murid-murid mereka. Fitnah inipun meluas dan menyebar seantero wilayah kepemimpinan Al-Watsiq tanpa terkecuali.

Ibnu Abi Du’ad terus menyebarkan doktrin ini dan memaksa para ulama untuk mengakuinya dengan segala cara. Hingga situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang menaruh hasad pada Imam Al-Buwaithy, mereka mengirim surat kepada Ibnu Abi Du’ad yang isinya berupa pengaduan bahwa Al-Buwaithy tidak mau mengakui kalau Al-Qur’an adalah makhluk. Al-Watsiq kemudian mengirim surat perintah kepada gubernur Mesir agar memaksanya mengucapkan kata-kata kufur tersebut.
Sang gubernur adalah seseorang yang mencintai Al-Buwaithy karena kecerdasan dan keshalihannya; maka ia menawarkan opsi kepada Al-Buwaithy,

قل فيما بيني وبينك

“Katakanlah diantara aku dan engkau saja”, beliau mengatakan itu agar Al-Buwaithy aman dari kecaman Ibnu Abi Du’ad. Namun lihatlah apa yang dikatakan oleh Al-Buwaithy,

إنه يقتدي بي مائة ألف، ولا يدرون المعنى

“Di belakangku ada ratusan ribu orang yang tidak mengerti arti dari semua ini”. (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/459)

Betapa Al-Buwaithy sangat mengerti akan kedudukannya sebagai imam besar yang perkataan dan sikapnya dalam setiap permasalahan akan diikuti oleh para pengikutnya. Karenanya beliau tidak mau mengakui bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, walaupun hanya sekedar pelafadazan semata tanpa menyakininya untuk menyelamatkan beliau dari siksa penjara. Karena jika beliau mengakatannya (Al-Qur’an adalah makhluk) dikhawatirkan bisa dijadikan acuan oleh pengikut-pengikut beliau untuk akhirnya ikut mengakui dan membenarkan doktrin tersebut. Juga agar para pengikutnya mempelajari, bahwa umat muslim harus teguh di atas prinsip kebenaran walaupun dihadapkan pada kenyataan pahit.
Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi berkata:

كَانَ البويطى أبدا يُحَرك شَفَتَيْه بِذكر الله وَمَا أَبْصرت أحدا أنزع بِحجَّة من كتاب الله من البويطى وَلَقَد رَأَيْته على بغل وفى عُنُقه غل وفى رجلَيْهِ قيد وَبَين الغل والقيد سلسلة حَدِيد وَهُوَ يَقُول إِنَّمَا خلق الله الْخلق بكن فَإِذا كَانَت مخلوقة فَكَأَن مخلوقا خلق بمخلوق وَلَئِن أدخلت عَلَيْهِ لأصدقنه يعْنى الواثق ولأموتن فى حديدى هَذَا حَتَّى يأتى قوم يعلمُونَ أَنه قد مَاتَ فى هَذَا الشَّأْن قوم فى حديدهم

“Al-Buwaithy terus menerus menggerakkan kedua bibirnya untuk mengingat Allah. Aku tidak pernah melihat orang yang kuat dalam berhujjah dengan kitabullah seperti Al-Buwaithy. Aku melihatnya di atas keledai, digantungi besi seberat 40 rithl. Lehernya dikalungi rantai besi, kakinya diikat. Antara kalung besi di leher dan rantai besi di kaki dihubungkan dengan rantai besi yang berat. Dalam kondisi tersebut ia berkata, “Allah telah menciptakan makhluk-Nya dengan kata “kun”, apabila itu (firman Allah:”kun”) adalah makhluk, itu berarti makhluk diciptakan dengan makhluk”. Bila aku masuk menemuinya, aku pasti akan mengatakan kebenaran padanya (Al-Watsiq). Aku lebih memilih mati dalam kondisi terikat dengan rantai-rantai besi ini, agar suatu hari nanti, orang-orang itu mengerti bahwa ada seseorang yang mati dalam mempertahankan akidah ini dengan dibelenggu ikatan-ikatan besi mereka”. (Thabaqoh Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 2/162)

Betapa mengagumkan kata-kata tersebut, kata-kata yang patut ditulis dengan tinta emas, sehingga bercahaya dalam sejarah pada ulama.

Agar kaum muslimin di manapun dan kapanpun bisa mempelajarinya, mempelajari keteguhan, kesabaran, dan pengorbanan dalam membela agama islam ini, mempelajari bahwa seorang ulama tidak boleh goyah dan mau untuk kompromi dengan mengorbankan agama, mempelajari bahwa umat islam harus teguh di atas kebenaran dan memperjuangkannya.

Tahun 231 H, Imam Al-Buwaithy meninggal, dalam belenggu besi, dalam penjara Baghdad. Namun pengorbanannya akan senantiasa terkenang dan menjadi inspirasi para muslimin sepanjang zaman.
Rahimahullahu rahmatan wasi’ah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...