Home Fiqih Serba-Serbi Khitbah Yang Wajib Di Ketahui

Serba-Serbi Khitbah Yang Wajib Di Ketahui

Pengertian Khitbah

Khitbah secara istilah bermakna menampakkan keinginan untuk menikahi wanita tertentu serta mengabarkan kepada walinya tentang hal ini. Dalam bahasa masyarakat kita, ini dikenal dengan istilah pinangan. Khitbah bisa dilakukan oleh orang yang berkepentingan langsung, atau bisa pula melalui utusan atau perwakilan dari keluarganya. Ketika wanita yang dikhitbah atau keluarganya menerimanya, maka setelah itu akan ada beberapa hukum dalam syariat yang berkaitan dengan khitbah.

Para ulama sendiri memasukkan khitbah dalam “Muqaddimatu Zawaj” yakni pendahuluan-pendahuluan sebelum menikah. Imam Ibnu rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyebutkan bahwa setidaknya ada 4 pendahuluan yang harus diketahui oleh orang yang hendak menikah, yakni.

  1. Hukum Menikah
  2. Hukum Khitbah
  3. Hukum melihat calon pasangan sebelum menikah
  4. Hukum meminang pinangan orang lain.

Islam begitu mengangungkan pernikahan, sehingga sebelum menikahpun islam memberikan rambu-rambu serta aturan agar tentunya pernikahan ini nantinya di bangun diatas pondasi yang kuat. Pondasi yang kuat sebelum pernikahan akan memudahkan keduanya untuk mewujudkan tujuan dari pernikahan itu sendiri, yakni pernikahan yang langgeng, kebahagian keluarga, ketentraman jiwa serta kekompakan yang akan menghalangi terjadinya konflik besar dalam rumah tangga.

Jika hal hal tersebut mampu diwujudkan, maka akan terlahir anak-anak rabbani yang terdidik dengan balutan cinta dan kasih sayang, dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.  Dan hal inilah yang Allah inginkan sesuai dengan firmannya dalam Al-Qur’an,

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجاً لتسكنوا إليها، وجعل بينكم مودة ورحمة، إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون

Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)- Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, Dan dia menjadika diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)bagi kaum yang mau berfikir. (QS Ar-Rum: 21)

Hikmah Di Syariatkannya Khitbah

Sebagaimana pada pengertian khitbah sebelumnya, khitbah bertujuan untuk saling mengenal  satu sama lain. Khitbah adalah jalan untuk mengenal serta mempelajari kecenderungan, akhlak, serta hal-hal lain yang berkaiatan dengan kedua calon pasangan, akan tetapi tentunya dengan batasan yang dibolehkan oleh syariat.

Dari proses ini maka masing-masing calon pasangan akan menemukan dan mengetahui sifat dan karakter dari keduanya, karena memang ketertarikan sebelum pernikahan itu penting. Hal ini akan semakin menambah azam dan tekad untuk sama-sama maju ke jenjang yang selanjutnya, yakni gerbang pernikahan.

Pernikahan yang dipaksakan tidak dianjurkan dalam islam, karena hal ini bertentangan dengan fitrah manusia yang memiliki ikhtiar dan pilihan. Keridho’an atau persetujuan dari mempelai pengantin merupakan sebuah kewajiban, maka orang tua tidak boleh memaksa untuk menikahkan anaknya dengan seseorang yang tidak disukainya. Karena pernikahan itu dibangun di atas rasa suka dan ketertarikan, dan dengan tujuan untuk meraih kelurga yang tentram dan penuh kasih sayang. Hal ini tentunya akan sulit terwujud apabila pernikahan dibangun di atas pemaksaan.

Dalam sebuah hadist rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

لا تنكح الأيم حتى تستأمر، ولا تنكح  البكر حتى تستأذن

Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta musyawarahnya. Demikian seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya. (HR Bukhari-Muslim)

Mayoritas ulama menyimpulkan bahwa kerelaan seorang gadis untuk menerima laki-laki yang meminangnya  adalah suatu kewajiban, sementara memaksanya untuk menerima pinangan dari laki-laki yang tidak disukainya adalah perbuatan haram dab bertentangan dengan naluri manusia.

Hukum Yang Lahir Dari Khitbah

Para Ulama menyimpulkan bahwa khitbah hanyalah janji untuk menikah, tidak dihitung sebagai bagian dari pernikahan, karena pernikahan haruslah dilangsungkan dengan akad yang sudah ma’ruf. Maka setelah khitbah keduanya tetaplah seperti orang asing yang masih tetap harus mematuhi batasan-batasan syariat antara laki-laki dan wanita.

Tidak boleh berduaan tanpa adanya pihak ketiga, dan menjauhkan diri dari segala hal yang berpotensi untuk melahirkan fitnah di antara keduanya. Namun hal ini yang banyak di acuhkan para wali setelah anak-anaknya melangsungkan khitbah, mereka tidak membatasi aktivitas keduanya, sehingga yang terjadi keduanya seperti suami istri yang sudah halal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal demikian.

Karena khitbah adalah janji dan bukan akad, maka khitbah bisa saja dibatalkan sewaktu-waktu apabila memang terjadi hal-hal yang membuat keduanya tidak mungkin untuk berlanjut ke jenjang berikutnya, tentunya dengan alasan yang masuk akal dan di bolehkan oleh agama. Adapun bertindak sewenang-wenang dengan membatalkan khitbah secara sepihak dengan tanpa alasan yang logis, maka ini termasuk kedalam pelanggaran syariat, karena orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang berkhianat terhadap janji-janji mereka.

Inilah diantara pendahuluan pernikahan yang harus dilalui oleh setiap orang yang hendak menikah, semoga setiap orang dijodohkan dengan orang yang diharapkan, dan kita menjadi jodoh yang diharapkan oleh mereka yang Allah tulis namanya untuk kita.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...