Home Fiqih Hukum Shalat Tahiyatul Masjid Di Waktu Terlarang

Hukum Shalat Tahiyatul Masjid Di Waktu Terlarang

Shalat Tahiyatul Masjid Di Waktu Terlarang, Bolehkah?

Diantara waktu-waktu yang terlarang untuk melakukan shalat sunnah didalamnya adalah setelah shalat subuh dan setelah shalat ashar sampai waktu maghrib tiba. Hal ini berdasarkan sabda rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam,

لا صلاة بعد الصبح حتى ترتفع الشمس، ولا صلاة بعد العصر حتى تغرب الشمس

Tidak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah shalat ashar sampai terbenamnya matahari. (HR Bukhari-Muslim)

Lalu bagaimana Jika ada orang yang masuk masjid pada waktu menjelang maghrib, apakah boleh baginya mengerjakan shalat tahiyatul masjid pada waktu ini? Bukankah telah diriwiyatkan larangan bagi siapapun yang masuk masjid untuk tidak duduk terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat tahiyatul masjid? Bagaimana menggabungkan keduanya?

Dalam masalah ini ada 2 pendapat dikalangan para Ulama.

Pendapat pertama, Tidak dibolehkan untuk shalat tahiyatul masjid pada waktu telarang, dan ini adalah pendapat dalam Madzhab Maliki dan Hanafi. Mereka berdalil dengan keumuman dalil tentang larangan untuk shalat diwaktu terlarang.

Pendapat Kedua, Dibolehkan untuk shalat tahiyatul masjid diwaktu terlarang. Ini adalah pendapat dalam Madzhab Syafi’i dan Juga Madzhab Hambali.

Adapun sebab perselisihan ini adalah karena ada dua keumuman perintah yang saling bertentangan, yang pertama adalah keumuman perintah untuk mengerjakan shalat bagi siapa saja yang masuk ke dalam masjid, sementara yang kedua adalah keumuman perintah untuk tidak mengerjakan shalat diwaktu terlarang.

Para ulama yang membolehkan shalat tahiyatul masjid maka mereka mengkhususkan perintah mengerjakan shalat tahiyatul masjid dari keumuman larangan untuk mengerjakan shalat diwaktu terlarang. Hal ini dikarenakan keumuman larangan mengerjakan shalat diwaktu terlarang juga sudah dikhususkan oleh beberapa kedaan, seperti:

  1. Mengqadha Shalat Yang Terlupa

Dalam sebuah hadist dari Anas bin Malik ia mendengar bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

من نسي صلاة فيصلّ إذا ذكرها، لا كفارة إلا ذلك

Barang siapa yang lupa untuk mengerjakan shalat, maka ia harus mengerjakannya ketika ia mengingatnya, tidak ada kafarah (tebusan) selainnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadist ini termasuk hadist yang mengkhususkan larangan shalat diwaktu terlarang. hadist ini memerintahkan siapapun yang lupa untuk mengerjakan shalat pada waktu asalnya maka ia harus mengerjakannya di waktu kapanpun ketika ia teringat. Misalkan ada seseorang yang lupa mengerjakan shalat Isya’, lalu ia baru teringat bahwa ia belum mengerjakan shalat isya’ pada keesokan harinya setelah mengerjakan shalat subuh, maka ia harus mengerjakan shalat isya’ yang ia lupakan pada saat itu juga tanpa harus menunggu sampai waktu larangan shalat setelah subuh itu berlalu.

2. Bolehnya mengerjakan Shalat Thawaf Kapanpun

Diantara hadist yang mengkhususkan larangan shalat diwaktu terlarang adalah kebolehan untuk shalat thawaf kapanpun waktunya. Dalam sebuah hadist rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

يا بني عبد مناف لا تمنعوا أحدًا طاف بهذا البيت وصلى آية ساعة شاء من ليل أو نهار

Wahai keturunan Abdi Manaf, janganlah kalian melarang siapapun untuk thawaf di rumah ini (kakbah), dan jangan pula kalian melarang siapapun untuk shalat diwaktu apapan yang ia mau dari waktu malam atau siang.

Dalam hadist ini rasulullah membolehkan siapapun untuk shalat thawaf kapanpun ia mau dan di waktu apapun tanpa memberikan batasan atau larangan untuk shalat diwaktu tertentu.

Imam Nawawi dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhadzab menjelaskan,

فأما ما لها سبب فلا كراهة فيها

Adapun shalat yang memiliki sebab, maka tidak ada kemakruhan untuk shalat diwaktu-waktu terlarang, (4/172)

Diantara shalat yang memiliki sebab adalah Tahiyatul masjid. Seseorang shalat tahiyatul masjid dengan sebab dia masuk masjid, atau misal lainnya adalah shalat gerhana matahari, seseorang baru akan mengerjakan shalat gerhana matahari ketika sebabnya ada, yakni terjadinya gerhana matahari. Demikian pula shalat-shalat lainnya seperti shalat jenazah, Sujud tilawah dan lainnya.

Adapun shalat yang tidak memiliki sebab, maka tidak dibolehkan untuk dikerjakan diwaktu ini seperti shalat 2 raka’at sunnah mutlak.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...