Home Fiqih Perselisihan Ulama Tentang Najisnya Anjing

Perselisihan Ulama Tentang Najisnya Anjing

Para Ulama berselisih pendapat mengenai status anjing apakah digolongkan kedalam hewan yang najis atau tidak. Hal ini perlu mendapat perhatian dari umat muslim, terlebih karena anjing termasuk hewan yang sering berkeliaran disekitar kita.

Perselisihan ini karena terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa air liur anjing termasuk ke dalam Najis mughalladzah (najis berat), dalam sebuah hadist rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

طُهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Sucinya bejana milik salah seorang  dari kalian apabila dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya sebanayak 7 kali, dan yang pertama dengan menggunakan tanah. (HR Muslim)

Perintah mencuci bejana yang dijilat anjing dengan menggunakan tanah dan 7 basuhan menunjukan bahwa air luar anjing adalah Najis. Karna jika air liur anjing tidak najis maka rasulullah tidak akan memerintahkannya untuk dicuci. Kemudian mencucinya dengan tanah dan beberapa basuhan air menunjukan bahwa air liur anjing termasuk kedalam najis Mughalladzah, yakni najis yang berat.

Dalam masalah hukum air liur anjing, maka Mayoritas ulama berpendapat bahwa Air liur anjing adalah najis. Adapun dalam Madzhab Maliki, air liur anjing tidaklah najis.

Kemudian dari sinilah lahir perselisihan tentang status najis atau tidaknya tubuh anjing, apakah dapat diqiyaskan (disamakan) hukum najisnya air liur anjing dengan tubuhnya? Yakni jika air liurnya najis lalu apakah tubuhnya juga najis karena tentunya air liur anjing juga bagian dari tubuh anjing?

Pendapat Pertama,

Anjing itu suci, baik tubuhnya atau air liurnya. Inilah pendapat yang masyuhur dalam Madzhab Maliki. dalam kitab Al-Kafii fi Fiqhi al-imam Malik dijelaskan.

ومذهب مالك في الكلب أنه طاهر

Adapun Madzhab Malik tentang Anjing, maka ia adalah suci (1/161)

Dalam kitab Hasyiyatu Shawi ala syarhi as-Shagir diterangkan,

وندب غسل الإناء سبع مرات تعبداً، إذ الكلب طاهر ولعابه طاهر

Dan disunnahkan untuk mencuci bejana sebanyak 7 kali adalah untuk taabbud, karna anjing adalah suci, dan air liurnya suci. (1/34)

Dalam Madzhab Maliki anjing termasuk hewan yang suci, karena menurut meraka semua hewan asalnya adalah suci. Adapun perintah untuk mencuci bejana bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali itu sifatnya hanyalah taabuudi. Maksud dari taabbudi disini adalah alasan mencuci bejana bekas jilatan anjing bukan karena bejana itu terkena najis air liur anjing, hanya saja dianjurkan untuk dicuci karena memang demikian perintah Allah, sama dengan memandikan jenazah, bukan karena tubuh jenazah itu najis, akan tetapi begitulah perintah Allah.

Pendapat Kedua
Tubuh anjing itu suci, sementara Air liurnya Najis. Ini adalah pendapat dalam Madzhab Hanafi, Dalam kitab Badai’u sanaai’ diterangkan,

وَمَنْ قَالَ: إنَّهُ لَيْسَ بِنَجِسِ الْعَيْنِ فَقَدْ جَعَلَهُ مِثْلَ سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ سِوَى الْخِنْزِيرِ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa (anjing) itu tidak najis tubuhnya maka ia telah menyamakan anjing dengan binatang-binatang yang lain kecuali babi, dan ini adalah pendapat yang shahih (dalam madzhab kami) (1/63)

Imam Sarakhsi dalam kitbnya al-Mabsuth menjelaskan,

سُؤْرُ الْكَلْبِ فَإِنَّهُ نَجِسٌ

Maka Air liur anjing sesungguhnya ia adalah najis (1/48)

Berbeda dengan Madzhab Maliki, Madzhab hanafi  berpendapat bahwa Air liur anjing itu najis berdasarkan perintah hadist untuk mencuci bekas jilatan anjing sebanyak 7 basuhan. Akan tetapi dalam Madzhab Hanafi hukum najisnya air liur anjing tidak bisa diqiyaskan (disamakan) dengan tubuhnya, menurut mereka tubuh anjing tetap suci meskipun air liurnya najis.

Hal ini karena Air liur itu berasal dari daging yang ada di dalam tubuh anjing, dan memang daging anjing itu najis, sama seperti daging kucing juga najis, akan tetapi tubuhnya tidak najis. Maka tidak mesti najisnya air liur menyebabkan tubuhnya juga menjadi najis.

Pendapat Ketiga

Air Liur dan Tubuh anjing sama-sama najis. Ini adalah pendapat dalam Madzhab Syafi’i dan Hambali.

Imam al-Mawardi dalam kitabnya al-Hawi al-kabir menjelaskan,

أَنَّ الْحَيَوَانَ كُلَّهُ طَاهِرٌ إِلَّا خَمْسَةً: وَهِيَ الْكَلْبُ، وَالْخِنْزِيرُ

Sesungguhnya semua hewan itu suci kecuali 5 binatang : (Diantaranya) yakni Anjing dan Babi. (1/65)

Imam Ibnu Qudamah Dalam kitab al-Kafi Fi Fiqhil Imam Ahmad menerangkan,

ولا يختلف المذهب، في نجاسة الكلب والخنزير، وما تولد منهما

Tidak ada perselisihan dalam madzhab tentang najisnya anjing dan babi dan yang lahir dari keduanya (1/109)

Diantara dalil yang dijadikan sandaran dalam pendapat adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitabnya,

أنه صلّى الله عليه وسلم دعي إلى دار قوم، فأجاب، ثم دعي إلى دار أخرى فلم يجب، فقيل له في ذلك، فقال: إن في دار فلان كلباً، قيل له: وإن في دار فلان هرة، فقال: إن الهرة ليست بنجسة

Bahwasanya rasulullah salallahu alaihi wasalam diundang untuk hadir ke kediaman suatu kaum maka ia mennghadirinya, kemudian diundang lagi ke kediaman kaum yang lain maka ia tidak menghadirinya. Maka kemudian beliau ditanya mengapa ia hadir di tempat itu namun tidak hadir ditempat ini, maka rasulullah berkata: Sesungguhnya di kediaman si fulan terdapat anjing, dan kemudian ada yang berkata: di kediaman si fulan terdapat kucing, kemudian rasulullah berkata : dan kucing tidaklah najis. (HR Hakim dan Tirmidzi)

Dalam hadist ini rasulullah bersedia menghadiri undangan di kediaman suatu kaum karena disana terdapat kucing dan rasulullah mengatakan bahwa kucing itu tidak najis. Sementara rasulullah menolak untuk menghadiri undangan di kediaman kaum yang lain karena di sana terdapat anjing. Dapat dipahami dari hadist bahwa rasulullah menolak untuk menghadiri undangan tersebut karena anjing yang ada di kediaman mereka itu najis, sehingga rasulullah enggan untuk menghadiri undangan, berbeda dengan kucing yang ada di kediaman kaum yang lain, sesungguhnya ia suci sehingga ia sudi untuk menghadiri undangan.

Cara yang paling tepat dalam menyikapi perbedaan ini adalah dengan melihat urf (budaya) dan juga madzhab yang tersebar di tempatnya tinggal. Jika mayoritas masyarakat bermadzhab dengan pendapat yang mengatakan bahwa anjing itu najis secara keseluruhan, maka jangan sekali-kali menyentuh anjing dan bermain-main atau bahkan menggendongnya meskipun ia berpendapat dengan pendapat yang mengatakan bahwa anjing tidak najis.

Tentunya Hal ini supaya tidak terjadi fitnah dan keributan ditengah-tengah masyarakat, terlebih sudah menjadi budaya ditengah masyarakat awam bahwa anjing itu najis. Dan tentunya memilih untuk tidak bersentuhan dengan anjing lebih aman, karena sikap ini merupakan bagian dari kehati-hatian dan keluar dari perselisishan ulama.

Wallahu a’lam

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...