Home Fiqih Mulut Bau, Jangan Ke Masjid!

Mulut Bau, Jangan Ke Masjid!

.Islam begitu memperhatikan kebersihan umatnya, karena kebersihan merupakan salah satu tanda baiknya agama seseorang. Diantaranya islam menganjurkan umatnya agar selalu dalam keadaan berwudhu. kemudian islam juga mensyariatkan mandi wajib setelah berhubungan badan bagi suami istri dan bagi orang yang junub serta orang yang selesai dari haidh dan nifas.

Selain itu islam juga menganjurkan umatnya untuk gemar memakai wangi-wangian, hal in tentunya agar orang-orang disekitarnya senang dan tidak merasa terganggu dengan bau tubuhnya. Kemudian juga islam sangat-sangat menganjurkan umatnya untuk gemar bersiwak (gosok gigi) disetiap waktu untuk menjaga mulutnya agar tetap dalam keadaan bersih.

Lebih dari islam memasukkan mandi sebelum hari jum’at kedalam amalan-amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, hal ini supaya ketika seseorang menghadiri shalat jum’at maka ia hadir dalam keadaan bersih dan rapi agar tentunya membuat orang-orang disekitarnya merasa nyaman. Dalam sebuah hadist, rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

اذا أراد احدكم أن يأتي الجمعة فاليغتسل

Jika salah seorang dari kalian hendak menghadiri shalat Jumat hendanya mandi terlebih dahulu. (HR Muslim)

Karna kebersihan adalah kewajiban setiap orang dan hak bagi saudaranya, kebersihan membuat orang lain nyaman dan senang, sementara kotor dan bau tentunya akan membuat orang-orang disekitarnya akan merasa risih, dan hal ini termasuk dalam perbuatan menyakiti saudaranya sendiri.

Bahkan dalam syari’at islam, orang yang baru memakan makanan yang menimbulkan bau yang menyengat, maka ia tidak boleh masuk kedalam masjid tanpa keperluan mendesak. Seperti memakan bawang-bawangan dan makanan lain yang memiliki bau menyengat, hal ini supaya bau mulutnya tidak mengganggu jama’ah yang lain.

Dalam  sebuah hadist dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

من أكل من هذه الشجرة فلا يقربن مسجدنا

Barang siapa yang memakan tumbuhan ini (bawang-bawangan) maka jangan dekati masjid kami (HR Bukhari-Muslim)

Bahkan dalam hadist lain dari Anas bin Malik bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

من أكل من هذه الشجرة فلا يقربنا ولا يصلين معنا

Barang siapa yang memakan tumbuhan ini (bawang-bawangan) jangan mendekati kami dan jangan shalat bersama kami. (HR Bukhari-Muslim)

Bau yang menyengat dari bawangan-bawangan yang tersisa di mulut maka ini akan membuat orang-orang disekitarnya akan terganggu, terlebih lagi ketika shalat dengan shaf yang saling rapat dan berhimpitan tentu bau-bau ini akan sangat mudah untuk mampir di hidung orang-orang di sekitarnya.

Maka dimakruhkan bagi orang-orang yang baru menkonsumsi makanan-makanan yang baunya menyengat, baik itu dari tumbuhan bawang-bawangan atau dihari ini makanan yang baunya menyengat seperti jengkol, pete, duren dan lainnya untuk tidak hadir ke masjid untuk shalat berjama’ah karena dikhawathirkan akan mengganggu orang-orang disekitarnya.

Imam Nawawi dalam Majmu’ syarh al-Muhadzab Menjelaskan,

يكره لمن أكل ثوما أو بصلا أو كراثا أو غيرها مما له رائحة كريهة وبقيت رائحته أن يدخل المسجد من غير ضرورة

Dimakruhkan bagi orang yang memakan bawang-bawangan atau selainnya yang memiliki bau menyengat dan baunya itu masih tersisa (dimulutnya) untuk masuk kemasjid dengan tanpa keperluan penting. (2/147)

Dari penjelasan para ulama, larangan untuk masuk kemasjid disini adalah larangan kemakruhan, bukan larangan keharaman, artinya tidak diharamkan baginya untuk masuk kemasjid dan shalat di dalamnya namun dimakruhkan (tidak dianjurkan). Namun tentu afdhalnya adalah jika masih tersisa baunya agar tidak shalat berjama’ah dimasjid, karena shalat berjama’ah adalah fadhilah (keutamaan) sementara tidak menyakiti saudaranya dengan bau-bau yang menyengat adalah kewajiban.

Bau yang menyengat ini bukan saja akan mengganggu orang-orang disekitarnya, namun juga akan mengganggu para malaikat disekitarnya. Dalam sebuah hadist rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

Sesungguhnya manusia menjauh (menderita) dari apa yang dijauhi oleh anak adam. (HR Muslim)

Dari penjelasan diatas, berikut beberapa kesimpulan penting yang harus dipahami dengan baik.

Pertama, Kebersihan adalah sebagain dari Iman, salah satu tanda baiknya iman seseorang dapat diukur dari sebagaimana baik dirinya menjaga kebersihannya.

Kedua, Larangan untuk hadir ke masjid bagi orang yang memakan makanan yang memiliki bau menyengat adalah kemakruhan (tidak dianjurkan) bukan keharaman. Namun apabila bisa menghilangkan sisa-sisa bau tersebut seperti dengan mengunyah permen dan mengunyah makanan lainnya yang bisa menghilangkan bau mulutnya maka hilanglah kemakruhannya.

Ketiga, Hendaknya setiap orang memperhatikan mulutnya, karena mulut adalah bagian tubuh yang paling sering digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Jangan sampai orang lain merasa risih dan terganggu dengan bau mulut kita, karena bukan hanya ia saja yang tersakiti namun malaikat-malaikat yang berada disekitarnya juga akan tersakiti dengan bau mulutnya.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...