Home Khazanah Islam Maharnya Bekerja Selama 8 Tahun, Inilah Sifat Istri Nabi Musa

Maharnya Bekerja Selama 8 Tahun, Inilah Sifat Istri Nabi Musa

Hijrah Nabi Musa Dari Mesir Ke Madyan

Nabi musa dibesarkan di Mesir tepatnya di istana Fir’aun, dibesarkan dengan kasih sayang oleh dan perlindungan oleh Istri Fir’aun yakni Asiyah. Dahulu Musa diharapkan menjadi Qurratu a’yun  yakni penyejuk hati bagi Fir’aun dan istrinya, namun justru Nabi Musa malah menjadi petaka dan sebab kebinasaan bagi Fir’aun.

Pada suatu ketika, Nabi Musa melihat seorang laki-laki dari suku Qibty yang merupakan pengikut fir’aun berkelahi dengan seorang laki-laki dari Bani Isra’il yang merupakan suku Nabi Musa alaihisalam. Maka kemudian Nabi musa bergegas untuk menolong saudaranya dan memukul laki-laki dari suku Qibty tersebut sampai ia terkapar dan mati, padahal Nabi Musa tidak bermaksud untuk membunuhnya.

Maka lama kelamaan kabar ini menyebar dan sampai kepada Fir’aun bahwa yang membunuh laki-laki dari pengikutnya adalah Musa. Maka Fir’aun pun marah dan memerintahkan pasukannya untuk mencari Musa dan membunuhnya. Kemudian datanglah seorang laki-laki memberi tahu Nabi Musa bahwa nyawanya dalam bahaya, dan menasehatinya agar secepatnya keluar dari Mesir demi keselamatanya. Dan Nabi Musa memilih Madyan sebagai tempat pelariannya dari kejaran pasukan Fir’aun yang ingin membunuhnya.

Nabi Musa Di Kota Madyan

Diperjalanan menuju kota Madyan Nabi Musa singgah di tempat sumber mata air, disitu terdapat banyak orang yang sedang memberi minum hewan ternak mereka. Kemudian mata Nabi Musa teralihkan kearah 2 orang wanita yang sedang menunggu giliran untuk memberi minum kepada hewan ternak mereka.

Maka Nabi Musa pun mendekati keduanya untuk bertanya tentang keadaan keduanya. Maka keduanya berkata bahwa mereka sengaja menunggu karna tidak ingin berdesakan dengan para lelaki yang sedang memberi minum ternak mereka. Mereka juga mengabarkan bahwa ayah mereka sudah tua, dan sudah tidak mampu lagi untuk menggiring hewan ternaknya untuk meminum air di tempat ini.

Setelah mendengar penjelasan mereka, Nabi musa bergegas manarik hewan ternak itu dan membawanya ke sumber mata air untuk memberinya minum guna membantu kedua wanita tersebut agar tidak berdesak-desakan dengan laki-laki lain. Setelah membantunya, Nabi Musa kembali berteduh dibawah pohon kemudian berdo’a kepada Allah agar menghilangkan rasa lapar dan haus yang sedang ia rasakan.

Dan Allah kabulkan do’a Nabi Musa. Ternyata kedua wanita yang ditolongnya bercerita kepada Ayahnya tentang kebaikan Nabi musa yang ternyata Ayah dari kedua wanita tersebut adalah seorang Nabi, yakni Nabi Syu’aib alahisalam. Maka Nabi syua’ib memerintahkan salah satu dari anaknya untuk menemui Nabi Musa agar ia bisa berkenalan dengan Musa dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan hatinya menolong kedua putrinya.

Maka datanglah salah seorang anaknya menemui Nabi musa dan kemudian mengajaknya untuk bertemu dengan Ayahnya dirumahnya. Maka Musa pun menerima permintaan tersebut dan bergegas menuju rumah gadis tersebut. Sesampainya dirumah, Nabi musa berkenalan dengan ayah kedua wanita itu dan setelah beberapa saat, ayah kedua wanita tersebut menawarkan Nabi musa untuk menikah dengan salah satu dari kedua putrinya, namun dengan mahar bekerja selama 8 tahun. Cerita ini Allah abdikan dalam Al-Qur’an,

قال إني أريد أن أنكحك إحدى ابنتي هاتين على أن تأجرني ثماني حجج فإن أتممت عشرا فمن عندك وما أريد أن أشق عليك ستجدني إن شاء الله من الصالحين

Berkata Syu’aib, sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu akan bekerja denganku 8 tahun dan jika kamu cukupkan 10 tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu, dan In syaa Allah engkau akan mendaptiku termasuk orang-orang yang baik (Al-Qashas 27)

Maka nabi Musapun menerima lamaran tersebut dengan Mahar bekerja selama 8 tahun. Lalu sebenarnya seperti apa sifat wanita yang menjadi istri Nabi Musa sampai-sampai Ia mau bekerja selama 8 Tahun sebagai mahar untuk menikahinya?

Sifat dan Akhlak Istri Nabi Musa alaihissalam

Diantara sifat terpuji yang dimilik oleh wanita tersebut langsung Allah sebutkan dalam Firman-Nya,

فجاءته إحداهما تمشي على استحياء قالت إن أبي يدعوك ليجزيك أجر ما سقيت لنا فلما جاءه وقص عليه القصص قال لا تخف نجوت من القوم الظالمين

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata “ Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar ia bisa memberikan balasan terhadap (kebaikanmu) memberi minum ternak kami. Maka tatkala mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya tentang dirinya, Syuaib berkata “Janganlah kamu takut” Kamu telah selamat dari orang-orang dzalim itu  (Al-Qashas : 25)

Sifat yang paling menonjol dan langsung Allah sebut didalam Al-Qur’an adalah sifat “Istihyaa’” yakni malu-malu. Imam at-Thabari dalam kitab tafsirnya menukil beberapa pendapat tentang makna Istihya’ dalam ayat ini, diantaranya dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu,

مستترة بكم درعها، أو بكم قميصها

(Yakni) Menutup wajahnya dengan lengan Bajunya.

Dalam riwayat lain dari Umar Bin Khattab ia berkata,

واضعة يدها على وجهها مستترة

Meletakkan kedua tanggannya diwajahnya untuk menutupinya.

Terlepas dari banyaknya riwayat yang menerangkan bagaimana cara wanita tersebut menunjukan sifat malunya, tapi intinya wanita tersebut mendatangi Nabi Musa dalam keadaan malu karna tidak terbiasa untuk berinteraksi dengan Lawan Jenis.

Bahkan Hal ini juga sudah terlihat sejak mereka mengantri untuk memberi minum hewan ternaknya, mereka menunggu agar tempat tersebut sepi sehingga mereka tidak berdesak-desakan dengan laki-laki lain ditempat itu. Dan Inilah sifat paling menonjol yang dar sifat Istri Nabi musa alaihissalam yang membuatnya sampai rela bekerja selama 8 tahun untuk memenuhi maharnya.

Malu bagi wanita adalah mahkota, mahkota yang mahal. Terlebih wanita adalah pusat fitnah bagi laki-laki, maka sudah selayaknya sifat malu adalah sifat yang lazim ada dalam diri setiap muslimah. Dan karena memang malu tidaklah mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Dalam sebuah hadist, rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

الحياء لا ياتي الا بخير

Malu tidak mendatngkan sesuatu selain kebaikan. (HR Bukhari)

Hadist ini menunjukan bahwa sifat malu semuanya adalah kebaikan. Hanya saja malu yang dimaksudkan adalah malu yang syar’i, yakni malu untuk berbuat maksiat dan menampakkan keburukan. Adapun malu untuk berkata yang benar dan menjelaskan yang salah maka ini bukanlah malu yang mendatangkan kebaikan.

Dan sifat malu ini diantara hal yang membedakan kita dengan binatang. Binatang melakukan apa saja tanpa rasa malu, Jika manusia tak punya malu lantas apa yang membedakannya dengan binatang?

Kemudian malu dan dosa saling berhubungan, orang yang sedikit malunya maka ia akan lebih mudah untuk melakukan dosa, dan diantara akibat sering melakukan dosa adalah dicabutnya rasa malu. Sementara semakin besar rasa malu seseorang, maka semakin sedikit ia bermaksiat. Oleh karena itu rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mewanti-wanti umatnya dengan wasiyat para nabi dalam sabdanya

اذا لم تستح فاصنع ما شئت

Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu (HR Bukhari)

Orang yang malunya hilang, ia akan berbuat apa saja tanpa harus memperhatikan orang-orang disekitarnya, dan itu akan lebih mudah terjerumus dalam dosa. Sementara orang yang punya rasa malu, maka dia akan berfikir sebelum bertindak.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...