Home Fiqih 10 Sunnah-Sunnah Ketika Adzan

10 Sunnah-Sunnah Ketika Adzan

Berikut adalah beberapa sunnah-sunnah dalam adzan yang harus diperhatikan oleh kita semua.

1. Hendaknya Muadzin Bersuara Keras (lantang) Dan Bagus Suaranya.

Muadzin hendaknya bersuara lantang, namun seiring dengan berkembangnya zaman mungkin suara lantang ini sudah bisa digantikan dengan pengeras suara yang hampir digunakan diseluruh masjid. Namun untuk tempat-tempat yang belum teraliri arus listrik, maka suara yang lantang sangat dibutuhkan, karena tujuan adzan adalah untuk memanggil orang agar shalat.

Bahkan dahulu rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan para sahabat untuk adzan dari atas menara dan tenpat-tempat yang tinggi, karena itu akan membantu suara untuk lebih jauh terdengar, semakin lantang suara maka semakin jauh pula jangkauannya. Hal ini sebagaimana anjuran rasulullah yang kepada Abdullah bin zaid agar memberikan kesempatan adzan kepada Bilal, rasulullah berkata,

ألقه على بلال، فإنه أندى منك صوتاً

Biarkan bilal yang adzan, karena sesungguhnya suaranya lebih lantang dari suaramu.

Kemudian hendaklah memilih muadzin yang bagus suaranya, karna suara yang bagus akan lebih menyentuh telinga orang yang mendengarnya, karna orang yang mengajak hendaklah mengajak dengan suara sebaik mungkin. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Ibnu Khuzaimah,

أن النبي صلّى الله عليه وسلم أمر عشرين رجلاً، فأذنوا، فأعجبه صوت أبي محذورة، فعلّمه الأذان

Bahwa Nabi salallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan 20 orang untuk mengumandangkan adzan, maka suara dari Abi Mahdzurahlah yang membuat nabi kagum, maka kemudian Nabi mengajarinya adzan. (HR Ad-Darimi dan Ibnu Khuzaimah)

2. Hendaknya Adzan Dalam Posisi Berdiri.

Dalam sebuah hadist dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال لبلال: قم فأذن

Bahwa Nabi salallahu ‘alaihi wasalam berkata kepada Bilal, “Berdirilah dan Adzanlah” (HR Muttafaqun ‘alaihi)

Para muadzin rasulullah semuanya berdiri ketika adzan, kecuali ada yang berudzur, maka adzan sambil duduk. Dalam Kitab Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adilatuhu, Syaikh Wahbah zuhaili menukil Ijma’ dari Ibnu Mundzir,

أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم أن السنة أن يؤذن قائماً

Para Ahlu ilmu yang aku ambil ilmu dari mereka telah bersepakat bahwa sunnahnya adalah adzan dalam posisi berdiri. (1/705)

3. Hendaknya Muadzin Adalah Orang Yang sudah Baligh Dan Alim.

Muadzin hendaknya orang yang sudah baligh, orang yang sudah paham agama, hal ini supaya ia lebih tau hukum-hukum yang berkaitan tentang adzan, dari mulai pelafalan adzan yang baik dan benar serta mengetahui waktu-waktu shalat. Hal ini sebagaimana hadist dari Ibnu Abbas, bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

ليؤذن لكم خياركم ويؤمكم قراؤكم

Hendaknya yang Adzan adalah yang terbaik diantara kalian, dan yang menjadi Imam adalah yang paling baik bacaannya. (HR Abu Dawud)

4. Hendaknya Muadzin Dalam Keadaan Berwudhu’

Muadzin hendaknya berwudhu terlebih dahulu sebelum adzan, meskipun tidak disyaratkan harus dalam keadaan berwudhu’ ketika adzan, tentu hal ini lebih beradab kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas, ia berkata,

إن الأذان متصل بالصلاة فلا يؤذن أحدكم إلا وهو طاهر

Sesungguhnya adzan bersambung dengan shalat, maka janganlah salah seorang dari kalian shalat kecuali dalam keadaan suci. (Subulusalam 1/129)

5. Muadzin Bukanlah Orang Yang Buta.

Hal ini karena orang yang buta dikhawatirkan tidak mengetahui waktu shalat, karna zaman dahulu belum ada Jadwal tersusun untuk waktu shalat, sehingga masih sangat mengandalkan penglihatan terhadap gerak matahari, sehingga yang lebih mumpuni untuk menjadi muadzin adalah orang yang bisa melihat.

Meskipun demikian, bukan berarti adzannya orang yang buta tidak sah, tetap sah karena diantara muadzin rasulullah adalah Ibnu Ummi Maktum, beliau adalah seorang yang tidak bisa melihat.

Adapun dizaman ini, maka semuanya serba mudah, orang yang buta bisa memastikan waktu shalat dari pendengaran terhadap adzan-adzan yang berkumandang di masjid-masjid lain. Terlebih di saat sekarang masjid terdapat dimana-mana dan jaraknya juga saling berdekatan, kemudian dengan bantuan pengeras suara membuat suara adzan terdengar dari satu masjid ke masjid lain.

6. Meletakkan Jari-jari Di Telinga.

Hampir semua muadzin baik yang berilmu dan yang awam mengamalkan sunnah ini, hal ini sudah ma’ruf ditengah masyarakat. Dalam sebuah riwayat di dalam Kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,

أن بلالاً أذن، ووضع إصبعيه في أذنيه

Bahwa Bilal sedang adzan, dan ia meletakkan kedua jar-jari tangannya di telinganya. (Muttafaqun ‘alaihi)

7. Menghadap Kiblat.

Hendaknya setiap muadzin menghadapkan tubuhnya ke arah kiblat, karena semua muadzin rasulullah menghadap kiblat ketika adzan. Dan karena didalam lafal-lafal adzan terdapat munajat dan do’a, maka selayaknya untuk menghadap kiblat ketika adzan.

Adapun ketika sampai pada lafadz “ Hayya ‘ala shalah” dan “Hayya ‘alal falah” maka dianjurkan untuk memutarkan tubuh menghadap kekanan ketika lafadz pertama, dan memutar menghadap kekiri ketika lafal kedua tanpa harus membuat posisi kaki bergerak dan berpindah.

Dalam sebuah hadist, dari Abu Juhaifah ia berkata,

رأيت بلالاً يؤذن، فجعلت أتَتبَّع فاه ههنا وههنا يميناً وشمالاً، يقول: حي على الصلاة، حي على الفلاح، وأصبعاه في أذنيه

Aku melihat bilal adzan, dan aku memperhatikan mulutnya bergerak kesana kemari kekanan dan kekiri, ia berkumandang “Hayya ala shalah, Hayya alal falah” dan kedua tangannya berada dikedua telinganya (Muttafaqun ‘alaihi)

8. Adzan Diawal Waktu.

Hendaknya adzan dikumandangkan diawal waktu, hal ini supaya orang-orang bisa bersiap-siap lebih awal untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah. Diriwayatkan dari Jabir bin Samuroh ia berkata,

كان بلال لا يؤخر الأذان عن الوقت، وربما أخر الإقامة شيئاً

Adapun bilal tidak pernah mengakhirkan adzan dari waktunya, dan mungkin sedikit mengakhirkan Iqamah. (HR Ibnu Majah)

9. Tenang Ketika Mendengarkan Adzan.

Hendaknya setiap orang yang mendengar adzan untuk tenang, tidak bergerak kesana kemari. Dan apabila ia mendengarkan adzan di masjid dalam keadaan duduk, maka hendaknya ia tidak berdiri dan tetap tenang sampai adzan selesai dikumandangkan.

Hal ini dikarenakan bergerak kesana kemari ketika adzan berkumandang serupa dengan syaithan yang apabila mendengarkan adzan ia bergerak kesana kemari dan lari karna merasa terganggu dengan lantunan adzan.

10. Masjid Memiliki Muadzin Tetap.

Diantara yang dianjurkan oleh para ulama adalah hendaknya setiap masjid memiliki muadzin tetap. Afdhalnya adalah 2 muadzin, Sebagaimana dulu rasulullah memiliki 2 muadzin tetap yakni Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Namun boleh-boleh saja menambah jumlah muadzin menjadi 4, sebagaimana dahulu Utsman bin Affan memiliki 4 Muadzin.

Dan tidak mengapa untuk menambah Jumlah muadzin lebih dari angka sebelumnya tergantung kebutuhan dan maslahat bersama. Para ulama juga menganjurkan jika terdapat banyak muadzin agar adzan dilakukan secara berganti-gantian, sebagaimana dahulu Bilal dan Ibnu Ummi maktum saling bergantian ketika adzan.

 

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...