Home Fiqih Kotoran Hewan Tidak Najis?

Kotoran Hewan Tidak Najis?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada 2 hal yang harus dipahami.

  1. Para ulama sepakat bahwa kotoran hewan yang dagingnya tidak boleh (haram) dimakan maka kotorannya adalah najis. Seperti kotoran anjing, babi, singa, beruang. dagingnya haram di makan maka kotorannya najis, baik itu kencing atau tinja dan kotoran lainnya.
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang status najisnya kotoran dari hewan-hewan yang dagingnya boleh dimakan, seperti kotoran ayam, sapi dan kambing.

Dalam masalah ini setidaknya ada 2 pendapat dikalangan para ulama tentang status najis atau tidaknya kotoran hewan yang dagingnya boleh dimakan.

Pendapat pertama. Kotoran Hewan yang dagingnya boleh dimakan tidak najis, dan ini adalah pendapat dalam Madzhab Maliki dan Hambali.

Dalam kitab Hasyiyatu shawi ‘ala Syarhu as-Shagir diterangkan,

وَمِنْ الطَّاهِرِ: فَضْلَةُ الْمُبَاحِ، مِنْ رَوْثٍ وَبَعْرٍ وَبَوْلٍ وَزِبْلِ دَجَاجٍ وَحَمَامٍ وَجَمِيعِ الطُّيُورِ، مَا لَمْ يَسْتَعْمِلْ النَّجَاسَةَ

Dan Diantara yang suci: Kotoran hewan yang boleh dimakan, dari mulai tinja, kencing, tahi kambing, tahi ayam dan kotoran segala jenis burung selama mereka tidak memakan yang najis.(1/47)

Dalam madzhab maliki hewan yang halal dimakan maka kotorannya tidak najis, akan tetapi mereka memberikan syarat selama hewan-hewan tersebut tidak memakan najis, maka jika ada ayam yang setiap harinya memakan najis, maka kotoran ayam tersebut dihukumi najis.

Adapun dalil yang menjadi sandaran dalam pendapat ini diantaranya Hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ia berkata,

قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ، فَاجْتَوَوْا المَدِينَةَ «فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِلِقَاحٍ، وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا

Ada sejumlah orang dari suku Ukl dan Uranah yang datang menemui Nabi salallahu ‘alaihi wasalam, namun mereka dalam keadaan sakit karena tidak betah di madinah. Lalu rasulullah memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencingnya dan susunya. (HR Bukhari)

Hadist ini menunjukan bahwa kencing unta tidaklah najis, dan unta adalah hewan yang dagingnya boleh dimakan, maka hukum ini juga berlaku pada kotoran hewan-hewan lain yang dagingnya boleh (halal) dimakan.

Imam Ibnu Qayiim dalam kitabnya “Zaadul Ma’ad” menerangkan hadist ini dan berkata,

وفي القصة دليل على التداوي والتطبب، وعلى طهارة بول مأكولة اللحم

Dalam kisah tersebut terdapat dalil mengenai bolehnya berobat dan datang ke tabib (dokter) dan juga menunjukan sucinya kencing hewan yang halal dagingnya. (4/48)

Diantara dalil lain adalah adanya riwayat yang menjelaskan bahwa rasulullah pernah shalat dikandang kambing dan memerintahkan para sahabat lain untuk juga shalat dikandang kambing, beliau bersabda,

صلوا في مرابض الغنم

“Shalatlah kalian di kandang kambing” (HR Ahmad)

Kemudian para sahabat diantaranya Abu Musa radhiyallahu ‘anhu shalat ditempat itu. Hadist ini menunjukan bahwa kotoran kambing suci, karena rasulullah tidak mungkin memerintahkan sahabatnya untuk shalat di tempat yang najis, dan sudah maklum bahwa dikandang tersebut sudah pasti terdapat kotoran-kotoran kambing.

Pendapat Kedua, Kotoran hewan yang dagingnya halal tetaplah Najis, dan ini adalah pendapat dalam Madzhab Syafi’i dan Juga Madzhab Hanafi

Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatu at-Thalibin berkata,

كَالدَّمِ، وَالْبَوْلِ، وَالْعُذْرَةِ، وَالرَّوْثِ، وَالْقَيْءِ. وَهَذِهِ كُلُّهَا نَجِسَةٌ مِنْ جَمِيعِ الْحَيَوَانِ، أَيْ: مَأْكُولُ اللَّحْمِ وَغَيْرُهُ

(Diantara yang najis) seperti darah, air kencing, tinja dan tinja hewan dan muntahan. Maka ini semuanya Najis dari semua binatang, yakni hewan yang dagingnya boleh dimakan maupun tidak. (16)

Adapun Dalil yang manjadi sandaran dalam pendapat ini diantaranya Hadist dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

أَتَى النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – الْغَائِطَ، فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ، وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ، وَقَالَ هَذَا ركس

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mendatangi tempat buang hajat, maka beliau memerintahkanku untuk mengambilkan 3 batu, maka aku hanya mendapatkan 2 buah batu dan aku tidak mendapatkan yang ketiga, maka aku menggantinya dengan kotoran hewan, maka kemudian beliau berkata “Ini najis”. (HR Bukhari)

Kemudian diantara dalil lain adalah ketika seorang a’rabi (badui) mendatangi masjid kemudian kencing dipojok masjid dan mengotori masjid, maka kemudian rasulullah berkata kepada para sahabat:

دعوه واريقو على بوله سجلا من ماء أو ذنوبا من ماء

Biarkan dia menyelesaikan Hajatnya, kemudian siramkanlah diatas bekas kencingnya beberapa siraman atau seember air (HR Bukhari)

Kedua hadist diatas menunjukan kenajisan dari Kotoran hewan baik tinjanya maupun kencingnya, baik itu kotoran yang keluar dari tubuh manusia, hewan yang halal ataupun hewan yang tidak halal dimakan, karena semua kotoran adalah sama, sesuatu yang menjijikkan dari manapun kotoran tersebut keluar.

Jika kotoran hewan tidak najis, maka rasulullah tidak akan mensifati kotoran binatang dengan “riksun” yang berarti adalah najis. Kemudian rasulullah juga tidak akan memerintahkan sahabat untuk menyiramkan air diatas bekas air kencing orang badui di masjid.

Adapun dalil yang dipakai oleh pendapat pertama tentang halalnya meminum kencing unta, maka itu ditujukan untuk pengobatan, bukan dalam hal menghalakan kencing unta. Sementara berdalil dengan shalat rasulullah dan para sahabatnya dikandang kambing, maka hal ini tidak bisa disamakan dengan keadaan kandang kambing dizaman ini, dan juga shalat yang dilakukan rasulullah dikandang kambing tidak sampai mengenai kotoran kambing.

Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiah, atau perbedaan yang wajib ditoleransi, setiap orang boleh untuk condong pada salah satu dari kedua pendapat yang ada. Namun untuk kehati-hatian, keluar dari perselisihan ulama tentunya lebih aman, yakni dengan mencuci dan membersihkan segala sesuatu yang bersentuhan dengan kotoran hewan.

Wallahu a’lam.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...