Home Fiqih Memulai Thalabul Ilmu dengan Ikhtilaf Ulama, Salahkah?

Memulai Thalabul Ilmu dengan Ikhtilaf Ulama, Salahkah?

Ironis memang ketika melihat beberapa penuntut ilmu syar’i yang memiliki semangat belajar agama tetapi ia memulai dengan perbedaan pendapat yang ada di kalangan para ulama.

Tidak memulai dengan belajar madzhab tertentu terlebih dahulu justru bisa mengakibatkan kebingungan saat mau mengambil suatu pendapat dalam suatu permasalahan. Lebih dari itu kalo seandainya sang penuntut ilmu adalah seorang panutan di masyarakatnya bukan tidak mungkin malah membuat masyarakat akan merasakan adanya ketidakjelasan dalam syariat ini.

Dan mungkin inilah alasan kenapa Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ketika berbicara tentang adab seorang pelajar dan pengajar, beliau menyatakan diantara adab yang perlu dilakukan oleh penuntut ilmu diantaranya adalah supaya menjaga diri dari keterlibatannya dalam perbedaan pendapat yang ada entah hal tersebut dalam ilmu dunia maupun dalam ilmu agama. Setelah menyebutkan tiga adab pertama pada halaman 48-50 jilid 1, beliau menyebutkan adab keempat pada halaman 51 yaitu :

الوظيفة الرابعة أن يحترز الخائض في العلم في مبدإ الأمر عن الإصغاء إلى اختلاف الناس سواء كان ما خاض فيه من علوم الدنيا أو من علوم الآخرة فإن ذلك يدهش عقله ويحير ذهنه ويفتر رأيه ويؤيسه عن الإدراك والاطلاع بل ينبغي أن يتقن أولا الطريق الحميدة الواحدة المرضية عند أستاذه ثم بعد ذلك يصغي إلى المذاهب والشبه

Tugas (adab) yang keempat ialah supaya seorang penuntut ilmu pada saat permulaannya menjaga diri dari pendengaran perbedaan pendapat manusia sama saja dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat (agama). Karena sesungguhnya perkara tersebut akan membuat mengejutkan akalnya, membuat bingung pikirannya, membuat futur pendapatnya, dan membuatnya putus asa dari memahami dan melihat suatu permasalahan. Akan tetapi sebaiknya terlebih dahulu ia menguasai satu jalan yang terpuji yang diridhai oleh gurunya baru kemudian ia mendengarkan pendapat” beberapa madzhab dan beberapa syubhat. (Ihya ‘ulumuddin 1/151)

Demikian pula seandainya mendapati seorang ustadz yang belum mengambil suatu pendapat dalam suatu masalah tertentu alias hanya mengutip pendapat” madzhab dan apa” yang dikatakan didalamnya, maka ia harus waspada terhadapnya. Karena gak pantas seseorang yang buta menjadi penunjuk jalan bagi orang buta lainnya.

وإن لم يكن أستاذه مستقلا باختيار رأي واحد وإنما عادته نقل المذاهب وما قيل فيها فليحذر منه فإن إضلاله أكثر من إرشاده فلا يصلح الأعمى لقود العميان وإرشادهم

Dan seandainya gurunya belum mustaqil dalam memilih suatu pendapat dan diantara kebiasaannya hanya menukilkan pendapat” yang ada dalam berbagai madzhab dan apa yang dikatakan didalamnya, maka berhati-hatilah darinya. Karena sesungguhnya penyesatannya lebih banyak daripada bimbingannya. Dan tidaklah pantas seseorang yang buta menjadi penunjuk jalan bagi orang buta lainnya sekaligus membimbingnya. (1/151)

Nah daripada bingung di tengah jalan, sebenarnya sudah ada kitab yang cukup baik untuk pemula yang ingin memulai belajar ilmu syar’i. Terlebih kitab ini dilengkapi beberapa kutipan dari literatur fiqh klasik dalam madzhab Syafi’i dan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah begitu pula dengan hikmah pensyariatan yang didapati oleh penulisnya.

Kitab ini bernama Kitab Fiqh Manhajiy ala Madzhab Asy Syafi’i. Ditulis oleh Prof. Dr. Mustafa Bugha dan Prof. Dr. Mustafa Khan, kitab ini terbilang sangat pas dengan kondisi kebanyakan kaum muslimin saat ini yang belum sampai pada tingkatan para fuqaha terdahulu. Namun karena adanya tuntutan kewajiban untuk melaksanakan perintah Allah, akhirnya kedua muallifnya dengan kemampuan yang dimiliki menuliskan kitab ini dan tidak lain supaya bisa bermanfaat bagi kaum muslimin. Dalam muqaddimah kitab ini diterangkan

ولقد لاحظنا أن هناك حاجة إلى سلسلة فقهية تذكر فيها أمهات المسائل مقرونة بأدلتها من الكتاب الكريم والسنة المطهرة، مشفوعة ببيان ما نستطيع أن نصل إليه بعقولنا من حكمة التشريع. مع سهولة في التعبير، وإكثار من العناوين المنبهة إلى ما تحتها من مسائل. ومع اعتقادنا بأننا لم نبلغ بعد درجة أسلافنا الفقهاء العظام فإننا شعرنا أن من الواجب علينا أن نقوم بالأمر، فاستعنا بالله وقمنا بذلك على قدر استطاعتنا تاركين لأرباب الكفاءة الصحيحة تتميم ما نقص، وإصلاح ما اعوج، وتصويب ما وقع فيه من الخطأ، إذ لا ندعي – ولن ندعي- أننا قد بلغنا الغاية مع إفراغ جميع ما لدينا من وسع

Dan kami telah mengamati bahwa terdapat suatu kebutuhan terhadap rangkaian/hirarki fiqh disebut didalamnya masalah” induk yang dirangkai dengan dalil” dari Al Qur’an dan Hadits disertai hikmah pensyariatan yang akal kami sampai kepadanya. Dengan idiom yang mudah dan judul” yang mendalam disertai masalah” di bawahnya. Kendati meyakini bahwa kami belum sampai pada tingkatan fuqaha besar terdahulu, kami merasa kewajiban kita ialah melaksanakan perintah Allah. Dan kami telah memohon pertolongan kepada Allah dan kami telah menjalankannya sesuai dengan kemampuan kami sebagaimana kami telah meninggalkan kapabilitas yang benar supaya dilengkapi apa yang kurang, diperbaiki apa yang cacat, dan membenarkan apa yang salah. Sedang kami kami tidak mengklaim -dan tidak akan pernah mengklaim- bahwa kami telah sampai pada batas maksimal sebagaimana kami telah memberikan seluruh kemampuan yang kami miliki.

Dan ketika saya tanyakan kepada salah seorang dosen mata kuliah fiqh di kampus -Dr. Gamal Lashin-, beliau pun ikut berkomentar bahwa kitab ini cocok untuk seorang penuntut ilmu yang masih pemula dan bahkan bagi yang tidak memiliki seorang syaikh. Beliau menyatakan :

لكنه كتاب جيد سهل الأسلوب يمكن فهمه دون عناء ولذا فهو مناسب للطالب المبتديء الذي ليس له شيخ.

Bagaimana pun ia kitab yang bagus, mudah gaya bahasanya, memungkinkan dipahami tanpa gangguan. Maka dari itu cocok bagi seorang penuntut ilmu yang masih pemula yang tidak memiliki seorang syaikh/guru.

Jadi, kalau berada dalam keadaan yang demikian. sebagai saran kitab ini bisa dijadikan pendamping bagi pemula dalam menghadapi suatu masalah fiqh.

Shalahuddin Al-Ayyubi Lc.
ليس كل ما في خواطرنا يقال.. وليس كل ما يقال مقصود... وليس كل ما يكتب واقع نعيشه...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...