Home Muamalah Meraih Pahala Dari Menangguhkan Hutang Teman.

Meraih Pahala Dari Menangguhkan Hutang Teman.

Pinjam-meminjam adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan) dalam syariat. Bahkan apabila si peminjam benar-benar sangat membutuhkan, maka sangat dianjurkan bagi yang mampu untuk meminjamkan sebagian hartanya agar bisa menolongnya.

Dalam masyarakat, pinjam meminjam termasuk akad sosial. Hampir semua orang setidaknya pernah meminjam sesuatu kepada orang lain meskipun hanya sekali seumur hidup. Pinjam-meminjam dalam islam termasuk ibadah apabila diniatkan untuk saling menolong dan meringankan beban orang lain selama tidak terdapat unsur keharaman didalamnya seperti hutang-piutang ribawi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.

Namun terkadang pada kenyataannya banyak orang yang menyepelekan hutang, mudah ketika berhutang namun sulit ketika membayar dan menangguh-nangguhkannya sampai waktu yang lama. Meskipun orang yang suka menangguhkan hutang juga berbeda-beda latar belakangnya, diantaranya:

  1. Sengaja mengulur-ulur hutang karna malas membayar dan tidak ada niat untuk membayarnya padahal sudah mampu membayarnya.
  2. Mengulur-ulur hutang karena memang belum mampu untuk membayarnya.

Untuk kasus yang pertama hendaknya yang menghutangi menagih dan menasehati orang yang dihutangi. Karena membiarkan seseorang terbelit dalam hutang dan tidak menegurnya juga termasuk perbuatan yang dzalim. Karena hutang adalah amanah, wajib dibayarkan jika sudah mampu untuk membayarnya.

Orang yang enggan membayar hutang, kemudian ia mati tanpa sempat melunasinya maka ia akan dicap sebagai pencuri dihadapan Allah kelak dihari penghakiman. Rasulullah salallahu ‘alaihi waalam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri. (HR Ibnu Majah)

Adapun untuk kasus yang kedua, maka si pemberi pinjaman punya hak untuk menagihnya jika sudah jatuh tempo. Namun jika ia ingin berbaik hati, maka ia bisa menangguhkan hutang saudaranya itu lebih lama agar ia bisa punya waktu lebih untuk melunasi hutangnya.

Dengan ini, si pemberi pinjaman akan mendapatkan pahala lebih di sisi Allah karena ia telah melakukan dua kebaikan, yang pertama karena sudah menolong saudaranya dengan memberikan pinjaman, kedua ia sudah mempermudah saudaranya dengan memberikan penangguhan hutang untuk waktu yang lebih lama.

Kemudian ia juga akan mendapatkan 2 keutamaan lain dari menangguhkan hutang saudaranya.

  1. Mendapat naungan Allah.

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

من أنظرمعسرا أو وضع أظل الله في ظله

Barang siapa yang memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang, atau bahkan membebaskannya maka ia akan mendapat naungan Allah. (HR Muslim)

  1. Pahala Yang Terus Mengalir Setiap Harinya.

Hal ini karena dengan menangguhkan hutang saudaranya maka sama saja ia telah menolong saudaranya dari hari ke hari, sampai ia bisa melunasi hutangnya. Orang yang ditangguhkan hutangnya akan sangat merasa dimudahkan, akan merasa senang dan ini adalah bagian dari kebajikan orang yang menghutangi.

Ada 3  kesimpulan penting seputar Hutang-piutang yang harus diperhatikan oleh setiap orang

Pertama, Hendaknya setiap orang tidak membuka pintu hutang kecuali jika sangat terdesak, adapun mencari hutang kesana-kemari hanya untuk memenuhi gaya hidup saja maka ini tidak diindahkan dalam islam.

Kedua, Kemudian setiap orang harus berkomitmen terhadap hutangnya, karena hutang adalah amanah. Jangan berhutang jika tidak ada niat untuk membayarnya, atau ada niat membayarnya tapi tidak jelas temponya. Hal ini tentu akan menyakiti hati pemilik pinjaman, karena ia sudah berbaik hati menolong dengan meminjamkan uangnya namun justru diperlakukan tidak baik serta dikhianati.

Ketiga, Hutang bukan perkara sepele, jika sudah punya kemampuan untuk membayarnya maka jangan ditunda-tunda. Karena jika anda mati sementara anda membawa hutang, maka anda akan mendapatkan masalah yang besar dihari penghakiman nanti.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi)

Maksud dari bergantung dengan hutangnya adalah ia belum diputuskan apakah ia termasuk orang-orang yang selamat atau binasa sampai hutangnya dilunasi.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...