Home Khazanah Islam Hadits Dhaif tapi Gak Palsu?

Hadits Dhaif tapi Gak Palsu?

Keras, provokatif, dan merasa paling benar dari yang lainnya.. Itulah yang menggambarkan sikap penulis saat awal-awal belajar ilmu syar’i.

Hanya bermodalkan pengetahuan tentang klasifikasi hadits ahad yang ditinjau dari segi kuat dan lemahnya sanad terbagi menjadi dua; maqbul (diterima) dan mardud (ditolak), seringkali penulis menolak mentah-mentah penggunaan hadits dhaif (yang merupakan kategori hadits yang mardud) sebagai hujjah tanpa melihat siapa yang menilainya tanpa melihat dalam konteks apa hadits dhaif itu digunakan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, sikap penulis yang kurang baik ini pun luntur. Bahkan dalam beberapa kesempatan, penulis yang awalnya sangat antipati terhadap hadits dhaif ini justru menggunakannya sebagai bagian materi yang disampaikan.

Ini semua tidak lain karena kesadaran penulis akan kedangkalan ilmu yang dimiliki. Belum lagi ketika mengetahui perkara ini merupakan perkara khilafiyah diantara para ulama yang mengharuskan kita untuk bertasamuh dalam artian menghargai pendapat yang menyelisihi kita.

Ada beberapa ulama seperti Ibnu Rajab, Ibnu Jauzi, dan Ibnul Arabiy yang secara mutlak menolak penggunaan hadits dhaif, tidak dalam hukum tidak pula dalam fadlailul a’maal.

Dan ada pula diantara para ulama seperti Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al Haitsamy, dan Ibnu Daqiq Al Iidy yang menolak dijadikan hujjah dalam hukum dan aqidah, namun membolehkannya dalam fadlailul a’maal, targhib, dan tarhib asalkan mengikuti syarat yang telah ditentukan oleh ulama yang tsiqah.

Terlepas dari itu semua, hanya saja penulis ingin menyampaikan bahwa tidak semua yang dikatakan para ulama tentang istilah “dhaif” dalam suatu hadits itu berarti dhaif seperti yang kita pahami.

Sebagai contoh ketika Imam Ahmad rahimahullah mengatakan dalam suatu masalah bahwa hadits yang bersangkutan adalah hadits “dhaif” itu bukan berarti “bathil”, bukan juga berarti “mungkar” dan bukan pula terdapat rawinya yang “muttaham” dimana kita tidak dibolehkan beramal dengannya.

Akan tetapi hadits dhaif menurut beliau ialah sebagian kecil dari hadits shahih dan sebagian dari hadits hasan. Dan ini tidak lain disebabkan Imam Ahmad rahimahullah sendiri yang membagi macam-macam hadits menjadi hadits shahih dan hadits dhaif. Sedangkan hadits dhaif menurut beliau terdapat tingkatannya.

Dalam versi Arab Ibnu Qayyim menyebutkan dalam kitab I’laamul Muwaqqi’in menjelaskan,

وليس المراد بالضعيف عنده الباطل ولا المنكر ولا ما في روايته متهم بحيث لا يسوغ الذهاب إليه فالعمل به؛ بل الحديث الضعيف عنده قسيم الصحيح وقسم من أقسام الحسن، ولم يكن يقسم الحديث إلى صحيح وحسن وضعيف، بل إلى صحيح وضعيف، وللضعيف عنده مراتب.

Jadi bisa dikatakan istilah lafadz “dhaif” merupakan istilah “mujmal” (abstrak) tergantung siapa yang mengatakan. Bisa jadi suatu hadits dikatakan palsu menurut kita, tapi benar (shahih) menurut perawinya. Dan kejadian semacam ini (penggunaan istilah tidak pada tempatnya) bisa dikatakan sering dijumpai dalam kajian literatur fiqh. (1/25)

Dalam pembahasan yang sama misalnya, istilah hadits “hasan” mungkin kita sering mengartikannya sebagai hadits yang memiliki derajat yang sedikit lebih rendah dari shahih. Namun siapa sangka ternyata Imam Tirmidzi memiliki makna yang lebih umum dari pada itu. Beliau dikatakan dalam kitab Al Ilal Ash Shoghir menjelaskan:

قال أبو عيسى وما ذكرنا في هذا الكتاب حديث حسن فإنما أردنا به حسن إسناده عندنا كل حديث يروى لا يكون في إسناده من يتهم بالكذب ولا يكون الحديث شاذا ويروى من غير وجه نحو ذاك فهو عندنا حديث حسن

Abu Isa mengatakan “Dan apa yang kita katakan dalam kitab ini dengan istilah hadits hasan, yang kita maksud adalah yang hasan sanadnya menurut kami (atau) setiap hadits yang diriwayatkan dan tidak ada seseorang yang muttaham bil kadzib (dituduh berbohong) dalam isnadnya, tidak pula hadits tersebut syadz, tidak diriwayatkan juga tanpa wajh, dan itulah yang menurut kami hadits hasan. (Al Ilal Ash Shoghir)

Makanya tidak salah ketika Syaikh Yusuf Al Qardhawi mengingatkan akan pentingnya memahami fakta dalam suatu kajian keilmuan yang tanpa disadari sering ditinggalkan oleh beberapa ulama. Beliau mengatakan,

بعض العلماء يعيشون في الكتب ولا يعيشون في الواقع، بل هم غائبون عن فقه الواقع، أو قل: فقه الواقع غائب عنهم؛ لأنهم لم يقرؤوا كتاب الحياة كما قرؤوا كتب الأقدمين

Sebagian ulama hidup berada dalam beberapa kitab, namun tidak hidup dengan fakta lapangan. Bahkan mereka jauh dari fiqh al Waqi’ (yang terjadi di lapangan), atau dengan kata lain fiqh Al Waqi’ yang jauh dari mereka. Itu karena mereka tidak membaca kitab kehidupan sebagaimana mereka membaca kitab-kitab terdahulu.

Wallahu A’laam

Shalahuddin Al-Ayyubi Lc.
ليس كل ما في خواطرنا يقال.. وليس كل ما يقال مقصود... وليس كل ما يكتب واقع نعيشه...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...