Home Fiqih Anal Sex Dalam Kacamata Islam

Anal Sex Dalam Kacamata Islam

Islam adalah agama yang sempurna, tidaklah rasulullah salallahu alaihi wasalam wafat kecuali ia sudah menjelaskan semua hal kepada umatnya dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar, dari yang baik sampai yang buruk, dari yang halal sampai yang haram.

Hubungan ranjang bagi suami-istri juga tak luput dari perhatian islam, islam sudah menjelaskan rambu-rambunya agar tentunya hubungan ini bukan hanya semata-mata memuaskan hasrat seksual saja, namun juga sebagai ladang ibadah bagi keduanya. Namun setan tak henti-hentinya berupaya untuk menyesatkan manusia, setan mencoba mencari celah agar bisa memalingkan manusia dari ibadah menjadi musibah.

Dalam hubungan ranjang, pada asalnya suami boleh menggauli istrinya dengan cara apapun dan dibagian manapun kecuali bagian dubur (anus) istrinya. Namun setan mengajak manusia untuk melampaui batas dengan mengahasut para lelaki agar mau mencoba untuk merasakan sensasi lain yakni dengan menggauli wanita melalui lubang dubur.

Cara ini dalam istilah barat dikenal dengan “Anal Sex” (penetrasi penis ke anus) dan istilah ini sudah sangat populer sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi banyak orang tak terkecuali orang-orang islam, dan pada akhirnya tak sedikit dari mereka ikut-ikut mencobanya.

Islam sudah mengharamkan perbuatan keji ini sejak dulu, dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

Terlaknatlah siapapun yang menggauli istrinya melalui duburnya (HR Abu Dawud)

Dalam hadist ini rasulullah melaknat laki-laki yang mendatangi istrinya melalui duburnya, tentunya vonis laknat menunjukan bahwa dosa ini bukanlah dosa yang kecil, akan tetapi termasuk dari dosa-dosa besar. Perbuatan ini juga bertentangan dengan firman Allah ta’ala,

فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Dan datangilah (gaulilah) mereka sebagaimana yang Allah perintahkan” (Al-Baqarah 222)

Ibnu katsir dalam tafsirnya menukil perkataan Ibnu Abbas, Mujahid dan lainnya bahwa perintah pada ayat diatas adalah perintah untuk menggauli istri di qubul (kelamin) atau tempat keluarnya janin.

Ibnu katsir kemudian berkata,

وفيه دلالة حينئذ على تحريم الوطء في الدبر

“Dan ayat ini merupakan dalil haramnya menyetubuhi (istri) lewat dubur.” (Tafsir ibnu katsir)

Imam as-Shon’ani dalam kitabnya subulussalam berkata,

وَلِأَنَّ الْأَصْلَ تَحْرِيمُ الْمُبَاشَرَةِ إلَّا مَا أَحَلَّهُ اللَّهُ، وَلَمْ يُحِلَّ تَعَالَى إلَّا الْقُبُلَ

Karna pada asalnya adalah haram untuk menggauli (istri) kecuali pada tempat yang Allah halalkan, dan Allah tidak menghalakan tempat lain kecuali Qubul. (2/202)

Adapun bercumbu dengan istri pada tempat lain selain Qubul dan dubur maka itu boleh-boleh saja. Hal ini sebagaimana perilaku rasulullah ketika mencumbui istrinya ketika sedang haidh dibagian lain selain qubul dan dubur. Dan larangan diatas adalah larangan untuk menggauli istri dari dubur saja.

Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya “at-Tiib an-Nabawi” menguraikan beberapa alasan mengapa menggauli istri melalui dubur diharamkan.

1. Allah hanya menghalalkan untuk menggauli istri dari tempat keluarnya janin saja, adapun menggauli dari tempat keluarnya kotoran maka itu diharamkan.

2. Dalam hubungan ranjang, wanita punya hak untuk dipuaskan dan mendapatkan perlakuan yang baik. Dengan menggaulinya melalui duburnya maka itu akan menghilangkan haknya, karena itu tidak akan memuaskan hasrat seksualnya dan justru hanya akan menyakitinya.

3. Menggauli istri melalui dubur berbahaya bagi kesehatan kedua pasangan, oleh karena itu para ahli medis melarangnya.

Dikutip dari Kompas.com, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH yang juga sebagai dekan Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menjelaskan,

“Dubur atau anus tidak dipersiapkan untuk menerima benda asing dari luar masuk ke dalamnya. “Anus berperan sebagai tempat lewatnya feses atau kotoran, sehingga jelas bahwa anus bisa menjadi sumber infeksi,”

“Selain itu karena anus atau dubur tidak siap untuk menerima masuknya benda dari luar maka jika masuknya benda tersebut dilakukan secara dipaksa dan tanpa diberikan lubricant (pelumas) maka akan menyebabkan dinding anus dan bagian poros usus (rektum) rentan untuk luka,

4. Hubungan ranjang harusnya menghasilkan keharmonisan dan ikatan cinta bagi kedua pasangan. sementara menggauli istri melalui dubur hanya akan mendatangkan laknat Allah, hilangnya keberkahan, dan hanya akan membuat perseteruan diantara keduanya karena hak istri tidak tertunaikan.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...