Home Muamalah Petuah Ulama Dalam Mengendalikan Hati Bagi Penuntut Ilmu

Petuah Ulama Dalam Mengendalikan Hati Bagi Penuntut Ilmu

Sebagai seorang Muslim, belajar merupakan keharusan bagi setiap individu. Ini merupakan salah satu bentuk melawan diri dari sifat kejahilan.

Keharusan ini merupakan jalan terbaik untuk mengenal Allah. Oleh karena itu, para ulama tidak hanya sekedar mencari ilmu semata tapi mereka mengawali dengan belajar adab terlebih dahulu. Ketika ilmu membersamai dengan adab maka akan mudah dalam memahaminya dan mempelajarinya.

Adapun beberapa adab yang diajarkan oleh para ulama, yaitu:

Pertama, ilmu merupakan ibadah.

Sebagai penuntut ilmu harus menanamkan dalam benaknya bahwa ilmu adalah cabang dari ibadah, karena ia merupakan ibadah yang paling mulia dan yang paling utama.

Hal ini selaras apa yang Allah firmankan dalam surat at-Taubah

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS at-Taubah:122)

Atau dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam (masalah) agama.” (HR Bukhari no 71, dan Muslim no 1037)

Mengenai dua nash al-Quran dan sunnah di atas Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan bahwa kata ‘fiqh’ di sana ialah ilmu syar’i, karena ilmu syar’i mencangkup dari ketauhidan, keyakinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Oleh sebab itu, ilmu syar’i memiliki kedudukan yang paling mulia di sisi Allah. (Lihat: Syarh Hilyah Thalibil-ilmi, hal 13)

Kedua, niatkan untuk mengangkat kejahilan.

Tentu, hal utama dari penuntut ilmu ialah meniatkan untuk mengangkat kejahilan dalam diri. Baik dalam ketidak pahamannya tentang Tuhannya, tidak tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah, tidak tahu syariat-syariatNya, dll. Sebab inilah menjadi tolak ukur baginya agar apa yang ia tempuh selama ini tidak sia-sia.

Imam Ahmad ketika itu ditanya, “bagaimana seorang penuntut ilmu agar niatnya benar dan menjadi tolak ukur baginya ?”, Lalu ia menjawab, “niatkan agar mengangkat kejahilan dalam dirimu dan orang lain.” (Lihat: Syarh Hilyah Thalibil-ilmi, hal 13)

Bahkan Imam al-Zarnuji menambahkan, hendaklah diiringi juga dengan mencari keridaan Allah, dan menghidupkan Agama ini. Karena hidupnya agama dilihat dari keilmuannya. (Lihat: Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq at-Ta’allum, hal 40)

Ketiga, penuh dengan keikhlasan.

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin memberikan penjelasan mengenai maksud dari arti ikhlas dalam menuntut ilmu, sebagai berikut:

1. Meniatkan untuk melaksanakan perintah Allah. Karena dorongan tersebut bisa meraih kecintaan dan keridaanNya.

2. Meniatkan untuk menjaga syariatNya. Karena dengan belajar sama halnya menjaga syariat Allah. Baik dalam bentuk tulisan dan hafalan.

3. Meniatkan untuk membela syariat Allah dan melindunginya.

4. Meniatkan untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa ssallam. Karena tidak mungkin sunnah Nabi diketahui melainkan dengan cara mempelajarinya.

Dari empat perkara di atas hendaklah bagi penuntut ilmu untuk ikhlas di dalamnya. (Lihat: Syarh Hilyah Thalibil-ilmi, hal 14)

Keempat, menumbuhkan rasa cinta.

Tidak perlu dipungkiri bahwa cinta membuat seseorang akan bahagia dalam meraihnya. Jika begitu, lakukanlah ketika kamu menuntut ilmu; agar apa yang kamu upayakan menjadi optimal. Ketika rasa cinta mengarungi setiap langkahmu, maka bersaksilah kepada dirimu bahwa tanda-tanda kebaikan akan menyertaimu.

Ibnu Qoyyim menyebutkan dalam kitabnya ‘Raudhah al-Muhibbin’ bahwa setiap pergerakan yang dilandasi dengan rasa cinta akan melahirkan perbuatan yang benar. Dengannya ia akan mudah digerakkan untuk selalu menghadirkan hati untuk selalu cinta kepada Allah dan RasulNya. (Lihat: Syarh Hilyah Thalibil-Ilm, hal 18)

Akan tetapi jika sebaliknya, hati yang bersih akan ternodai dengan rasa benci. Kebencian inilah awal mulanya akan menolak kebenaran. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَٰلَهُمْ

“Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS Muhammad:9)

Yang demikian akan berimbas ke hati. Jika hati dipenuhi dengan rasa kebencian, maka ini akan membahayakan pada pemilik hati. Yaitu, hati yang tergiring dalam kekufuran.

Menurut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengenai maksud dari makna kufur di sana ialah hati yang benci dengan apa yang Allah turunkan berupa al-Quran dan sunnah. Karena sama halnya ia mengingkari adanya Rabb.

Maka menanamkan rasa cinta ketika belajar akan melahirkan kebaikan di dunia dan di akhirat. (Lihat: Syarh Hilyah Thalibil-Ilm, hal 18)

Itulah beberapa amalan hati yang harus kita pelajari dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan lebih utama ketika menuntut ilmu. Wallahu’alam

Riza Ashfari Mizan
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca surat al Kahfi di hari jumat salah, Benarkah ?

Perlu diketahui bahwa secara umum ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang dianjurkan membaca surat-surat tertentu pada hari jumat, seperti surat Yasin, al Kahfi, dan...

Apa itu Hatibul Layl ?

  حاطب ليل Pencari kayu bakar di malam hari. Sebenarnya gelar ini digagas oleh para kritikus riwayat terhadap sekian banyak ulama dan perawi ketidak mampuannya dalam membedakan...

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...