Home Fiqih Mengenal Tingkatan Mufti Fiqih

Mengenal Tingkatan Mufti Fiqih

Dalam ranah ilmu fiqih akan didapati dalam pembahasannya dengan istilah mufti. Yaitu, ulama yang memiliki wewenang dalam menginterpretasikan nash Al Qur’an dan Sunnah. Dan juga memberikan fatwa kepada umat.

Semua itu dilandasi dari kecakapan mereka dalam mengambil kesimpulan suatu hukum. Baik menguasai dari sisi ushul, bahasa, dan mantik.

Salah satu mufti yang dikenal adalah Imam asy-Syafi’i, sebagai salah satu contoh imam yang diikuti oleh mayoritas Muslim di Indonesia. Keahlian Imam Syafi’i dalam kedisiplinan ilmu-ilmu alat, lahirlah interpretasi dan fatwanya. Atau dikenal dengan Madzhab Syafi’i.

Mengenai Madzhab Syafi’i, Imam Jalaluddin al-,Mahalli menjelaskan dalam syarh beliau terhadap al-Minhaj ath-Thalibin bahwa Madzhab Syafi’i adalah

ما ذهب إليه الشافعي وأصحابه من الأحكام في المسائل

“Apa-apa yang ditempuh oleh Imam asy-Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam permasalahan.” (Kanz ar-Raghibin,1/69)

Beranjak dari penjelasan Imam al-Mahalli, definisi disana memberikan arti bahwa secara otomatis Madzhab Syafi’i tidak hanya sebatas pendapat imam saja, namun juga ada pendapat para pengikutnya.

Lantas, siapa saja yang pantas dikatakan dan dapat diperhitungkan dalam madzhab-madzhab fiqih untuk diambil pendapatnya dan dijadikan rujukan oleh umat ? Oleh sebab itu, para ulama membagi mufti menjadi beberapa tingkatan sesuai kadar kemampuan yang dimilikinya, yaitu:

Pertama, Mufti Mustaqil (independen).

Hal ini dijelaskan dalam pemaparan para ulama bahwa mufti yang berada dalam tingkat ini termasuk dalam peringkat tertinggi dalam madzhab. Atau dengan sebutan lain mujtahid muthlaq. Artinya, keahlian mereka dalam berhukum dan tidak terikat dengan madzhab, bahkan tidak taqlid. (Lihat: al-Majmu’ fi Syarh al-Muhadzdzab, 1/75).

Bisa dikatakan dalam Madzhab Syafi’i, mufti mustaqilnya adalah Imam asy-Syafi’i. Sebagaimana juga yang dimiliki para imam madzhab lainnya seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad. Karena diantara keistimewaan mereka adalah terdapat pada kemampuan dalam melahirkan metode apa yang dianut oleh madzhabnya. (Lihat: Nihayah az-Zain, Nawawi al-Jawi al-Bantani, 1/9,10).

Kedua, Mujtahid Madzhab.

Seorang mufti yang tidak taqlid kepada imamnya, baik dalam madzhabnya (pendapat) atau dalilnya. Akan tetapi ia tetap menisbatkan kepada imam karena masih mengikuti metode imamnya dalam berijtihad. (Lihat: al-Majmu’ fi Syarh al-Muhadzdzab, 1/76). Atau kemampuannya dalam beristinbat dengan kaidah-kaidah imamnya. (Lihat: Nihayah az-Zain, 1/9).

Diantara ulama syafi’iyah yang sampai pada derajat mujtahid madzhab adalah Imam al-Muzani dan Imam al-Buwaithi. (Lihat: Nihayah az-Zain, 1/9). Dan juga Ibnu Suraij al-Baghdadi. (Lihat: Nailul-ibtihaj, Ahmad Baba al-Tanbakti, hal 441,442).

Adapun dalam Madzhab Hanafi, ulama yang sampai pada tingkatan ini ialah Imam Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, dan Zufar bin Hudzail. (Lihat: Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Abdul Hay al-Laknawi, 1/8).

Sedangkan ulama kalangan Madzhab Maliki yang sampai pada derajat ini adalah Ibnu al-Qosim dan Asyhab. (Lihat: Nailul-ibtihaj, hal 441,442).

Mufti golongan ini adalah yang bertaqlid pada ushul imamnya akan tetapi berbeda dalam furu’nya disebagian saja. (Lihat: Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 1/8).

Bahkan Imam an-Nawawi mengatakan bahwa golongan ini yang berhak mengoreksi pendapat imamnya. Karena ada beberapa hadits yang di mana imam sengaja meninggalkannya seperti Imam asy-Syafi’i, dikarenakan sudah manshukh, di-takhsis, atau di-takwil. Hal ini tidak bisa diketahui kecuali mujtahid yang sampai pada derajat ini dan orang yang telah menelaah semua karya imam asy-Syafi’i dan pengikutnya. Bahkan ini merupakan syarat yang amat sulit menurut penilaian Imam an-Nawawi, sekaliber ia betul-betul paham fiqih di dalam madzhabnya, ushulnya, dan mampu menyimpulkan atau meng-qiyas-kan dari pendapatan imam dengan baik. (Lihat: al-Majmu’ fi syarh al-Muhadzdzab, 1/105).

Ketiga, Ashab al-Wujuh.

Tingkatkan ini mereka yang relevansinya masih bertaqlid dengan imam yang berbeda dengan tingkatan sebelumnya. Baik di dalam ushul dan dalil, akan tetapi masih mampu menentukan hukum yang belum disebutkan oleh imam. Hal ini karena kemampuan mereka dalam menyimpulkan dan meng-qiyas-kan (amalan mereka disebut dengan takhrij) pendapat imam, hanya saja mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (Lihat: Penjelasan Imam an-Nawawi, al-Majmu’ fi syarh al-Muhadzdzab, 1/76).

Adapun dikalangan ulama Madzhab Syafi’i yang sampai pada derajat ini adalah al-Qoffal (w 365 H) dan Abu Hamid (w 362 H). (Lihat: Mukhtashar al-Fawaid al-Makiyyah, hal 53).

Sedangkan dikalangan ulama Madzhab Hanafi diantaranya ialah ar-Razi. (Lihat: Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 1/10).

Keempat, Mujtahid Fatwa.

Pada derajat ini tidak sampai pada ashab al-wujuh, akan tetapi menguasai madzhab imam. Baik dalam pendalilan artinya menguasai dengan baik, dan bahkan golongan ini mampu mentarjih pada pendapat-pendapat dalam madzhab. Karena dilihat dari kecakapan mereka dalam mengurai suatu masalah, keluasan mereka dalam mengetahui ushul, dan mampu ber-istinbath dengan baik. (Lihat: al-Majmu’ fi syarh al-Muhadzdzab, 1/77).

Dalam Madzhab Syafi’i, ulama yang sampai pada tingkat ini adalah Imam ar-Rafi’ dan Imam an-Nawawi. (Lihat: Mukhtashar al-Fawaid al-Makkiyah, hal 54 dan Nihayah az-Zain, hal 1/9).

Adapun dikalangan Madzhab Hanafi diantaranya ada Abu al-Husain al-Quduri dan Burhan al-Marghinani. (Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 1/10,11).

Dengan adanya Mujtahid Fatwa dipermudah dalam mengetahui pendapat-pendapat madzhab. Karena di atas tingkatkan ini sudah terjadi perbedaan kesimpulan antara ashab al-wujuh dengan imam. Maka ulama pada tingkatan ini berperan untuk men-tarjih (memilih dalil-dalil yang kuat) terhadap pendapat-pendapat madzhab.

Kelima, Mufti Muqallid.

Pada tingkatan akhir ini mereka dikatakan mufti muqallid karena masih menguasai madzhab, baik dalam masalah yang gamblang dan masalah rumit. Dan pendapat mereka tetap bisa diambil dan dijadikan pijakan untuk menukil pendapat imam madzhab dan beserta cabang-cabangnya. (al-Majmu’ fi syarh al-Muadzdzab, 1/77).

Seperti Imam al-Isnawi (w 772 H) ulama fiqih dari kalangan madzhab syafi’i, namun terkadang melakukan tarjih dalam perbedaan pendapat antara Imam ar-Rafi’ dan Imam an-Nawawi. (Lihat: Mukhtashar al-Fawaid al-Makkiyah, hal 54).

Dan pada tingkat ini perlu diberi perhatian bahwa jika mufti muqallid tidak menemukan nukilan madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kata Imam an-Nawawi

يجب امساكه عن الفتوى فيه

“Wajib baginya menahannya ketika hendak memfatwakannya.”

Akan tetapi jika ia menemukan atau memandang bahwa tidak ada perbedaan diantara keduanya, maksudnya permasalahan sama dengan apa yang di-nash-kan dalam madzhab, maka ia boleh menyamakannya dengan meng-qiyas-kannya dan berfatwa di dalamnya.
(al-Majmu’ fi syarh al-Muadzdzab, 1/77).

Itulah lima tingkatan para mufti fiqih, insyaallah (penulis-pen) mufti muqallid adalah rujukan terakhir dalam merujuk pendapat madzhab sebagaimana Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya “al-Majmu’.

Semoga dengan ini lebih mengenal diri di mana posisi kita dengan mereka atau bisa memposisikan para ulama sesuai kadarnya masing-masing.

Oleh sebab itu posisikan Imam an-Nawawi dengan Imam ar-Rafi’ bukan dengan Imam al-Muzani. Dan begitulah seterusnya jika hendak memposisikan para ulama. Wallahu’alam.

Riza Ashfari Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...