Home Muamalah Bolehkah Berdo’a Untuk Diwafatkan?

Bolehkah Berdo’a Untuk Diwafatkan?

Kematian adalah hak Allah, Sebagaimana Allah yang menghidupkan maka Ia pula yang berhak untuk mematikan. Adapun manusia maka ia tidak punya hak untuk mengakhiri hidupnya sendiri sebelum tiba ketetapan Allah baginya, Secara tegas Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allâh adalah Maha Penyayang kepadamu.” [An-Nisa’/4:29]

Para ulama menyebutkan bahwa bunuh diri termasuk kedalam Dosa-dosa besar, karena ia berusaha mendahului takdir Allah dan bunuh diri merupakan bentuk dari ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah.

Jika membunuh diri sendiri haram, lalu apakah boleh meminta kepada Allah untuk dimatikan? Karena itu tidak termasuk dalam “Membunuh diri sendiri” akan tetapi meminta Allah agar dimatikan?

Problematika hidup, kemiskinan, sakit yang berkepanjangan, dan masalah-masalah duniawi begitu sering membuat banyak orang berputus asa dari kehidupan. Tidak sedikit dari mereka yang memilih jalan “bunuh diri” sebagai jalan pintas untuk terlepas dari beban hidup, namun justru ia hanya berpindah dari satu masalah ke masalah yang lebih besar di akhirat nanti. Diantara mereka ada juga yang bersabar, namun ada diantara mereka juga kurang bersabar sehingga meminta agar Allah wafatkan mereka.

Para ulama berpendapat bahwa meminta untuk dimatikan karena problematika dunia seperti masalah ekonomi, sakit, hal lainnya termasuk perbuatan yang dimakruhkan (tidak dianjurkan) ini karena beberapa hal.

1. Menafikan Sifat Sabar,

Sifat sabar merupakan bukti dari baiknya keimanan seseorang, dan orang yang meminta untuk diwafatkan karena persoalan duniawi maka ia akan terhalang dari mendapatkan pahala kesabaran yang Allah janjikan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Setiap orang akan diuji, ujian itulah yang akan membedakan keimanan setiap orang, yang paling sabar diantara mereka adalah yang terbaik dan berhak mendapatkan balasan yang tidak terbatas, sebagaimana firman Allah ta’ala:

انمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar : 10]

Dalam sebuah hadist, dari Ummu Al-A’la ia berkata,

عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْهِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. “Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”. (HR Abu Dawud)

Begitu besarnya pahala dan janji Allah bagi hamba-hambanya yang bersabar, dan kemuliaan ini tidak didapati oleh orang-orang yang meminta ubtuk diwafatkan hanya karena persoalan duniawi semata.

2. Menafikan Sifat Ridha Terhadap Ketetapan Allah.

Orang yang meminta diwafatkan dan tidak bersabar menunggu ajalnya tiba maka ia termasuk orang-orang yang tidak ridha terhadap ketetapan Allah, Padahal ketetapan Allah selalu diiringi kebaikan.

Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidak ada satupun musibah (cobaan) yg menimpa seorang muslim berupa duri atau yg semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” [HR.Muslim]

Ujian, sakit, kegelisahan dan persoalan lainnya merupakan ketetapan Allah bagi hamba-hambanya. Allah tidak memberi sakit, kecuali dibalik rasa sakit itu terdapat kemuliaan, ampunan, pengguguran dosa dan derajat yang terangkat. Ini menunjukan bahwa ketetapan Allah adalah kebaikan, hendaknya setiap orang ridha dan bersabar terhadapnya.

Namun larangan ini tidak bersifat mutlak, artinya ada keadaan dimana seseorang boleh untuk meminta diwafaatkan. Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإنْ كَانَ لاَبُدَّ مُتَمَنِّياً، فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ، أحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوفَّنِي مَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Janganlah seorang dari kalian berharap untuk mati karna musibah yang menimpanya, namun jika ia terpaksa harus memintanya, hendaknya ia berdo’a : “Ya Allah, biarkan aku hidup jika memang kehidupan lebih baik untukku, dan wafatkanlah aku jika memang kematian itu lebih baik untukku” (HR Bukhari-Muslim)

Dari hadist ini jelas terlihat bahwa pada asalnya meminta untuk diwafatkan adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan, namun ada keadaan tertentu yang membuat seseorang boleh meminta untuk diwafatkan. Para ulama menjelaskan bahwa keadaan itu adalah ketika seseorang  takut fitnah terhadap agamanya, bukan karena persoalan dunia yang dihadapinya.

Ini sebagaimana yang dialami oleh Maryam, yang perkataannya Allah abadikan dalam Al-Qur’an,

فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (Maryam :23)

Maryam berharap agar diwafatkan bukan karena rasa sakit yang diderita ketika melahirkan putranya, akan tetapi karena ia takut akan dituduh telah berbuat zina, sehingga nantinya akan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya, dan kemudian akan diasingkan dan dicap sebagai wanita buruk.

Dari keterangan diatas maka kesimpulan sederhananya adalah meminta untuk diwafatkan karena persoalan dunia seperti ujian dan sakit yang berkepanjangan pada asalnya tidak dianjurkan, namun jika ia sudah tidak mampu bersabar terhadap beban hidupnya maka boleh-boleh saja ia meminta untuk diwafatkan akan tetapi ia akan kehilangan begitu banyak kemuliaan yang Allah janjikan terhadap hamba-hambanya yang penyabar.

Adapun meminta untuk diwafatkan karena takut fitnah terhadap agamanya maka para ulama sepakat tentang kebolehannya, namun tetap yang lebih baik adalah tetap bersabar dengan segala ketetapan Allah. Semakin ridha dan semakin sabar terhadap ketentuan Allah akan semakin menambah kemuliaan serta keridhaan Allah baginya.

Imam Ibnu Taimiyah berkata,

إنَّ الثواب على المصائب معلق على الصبر عليها، وأما الرضا فمنزلة فوق الصبر، فإنَّه يوجب رضا الله عزَّ وجل

“Sesungguhnya ganjaran kebaikan terhadap musibah bergantung pada tingkat kesabaran terhadapnya, adapun ridha terhadapnya (musibah) maka kedudukannya berada diatas kesabaran, dan keridhaan itulah yang akan mendatangkan ridha Allah.”

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...