Home Muamalah Kenali Penyebab Rusaknya Do'a

Kenali Penyebab Rusaknya Do’a

Doa merupakan senjata bagi seorang Mukmin. Memberikan manfaat baginya, baik untuk hal yang sudah terjadi maupun belum terjadi. Bahkan doa bisa menolak dan melawan berbagai kesulitan dan bencana.

Dalam situasi genting, seorang Mukmin akan meminta perlindungan kepada Allah. Karena dalam hal tersebut akan mendapatkan pertolongan dari Allah.

Hal ini diterangkan dalam surat As-Saffat, Allah berfirman:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ

“Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah,”

لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari berbangkit.” (QS. As-Saffat:143,144)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعاءُ ينفع مما نزل و مما لم ينزِلْ ، فعليكم عبادَ اللهِ بالدُّعاءِ

“Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik untuk apa yang telah terjadi ataupun belum terjadi. Karena itu berdoalah kalian wahai para hamba Allah.” (HR. Tirmidzi : 3548)

Oleh sebab itu, berdoa merupakan keharusan bagi kita dengan benar-benar tulus dan mengharap kepada Allah.

Namun perlu diperhatikan juga, terkadang doa yang kita panjatkan bisa jadi tertolak, lantaran ada sebab-sebab yang kita lakukan yang bisa merusak doa kita. Diantaranya ialah:

Pertama, tergesa-gesa ketika bedoa dan ingin segera doanya dikabulkan tampa sabar menanti dalam berdoa.

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata:

ومن الآفات التي تمنع ترتب أثر الدعاء عليه: أن يستعجل العبد، ويستبطئ الإجابة، فيستحسر، ويدع الدعاء

“Dan diantara hal-hal yang merusak doa dan menghalangi pengaruh doa ialah ketika seorang hamba tergesa-gesa dan (merasa doanya) lama dikabulkan, kemudian ia merasa letih atau bosan, dan lalu ia meninggalkan doa.”

Kemudian Ibnu Qayyim melanjutkan perkataannya:

وهو بمنزلة من بذر بذرا، أو غرس غراسا، فجعل يتعاهده ويسقيه، فلما استبطأ كماله وادراكه، تركه وأهمله! وفي صحيح البخاري من حديث أبي هريرة أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: يستجاب لأحدكم ما لم يعجل، يقول: دعوت، فلم يستجب لي

“Dia ini seperti seseorang yang menabur benih atau menanam bibit, kemudian ia mulai merawatnya dan menyiraminya namun tatkala ia merasa terlalu lambat pertumbuhannya, ia pun meninggalkannya dan melalaikannya.

Disebutkan dalam shohih Al Bukhori no 6340, dari hadits Abu Huroiroh bahwa Rosulullah Shollallahu alaihi Wasallam bersabda : “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesah-gesah”. Dia mengatakan : Aku sudah berdoa namun tidak dikabulkan.” (Ad Daa’ Wad Dawaa’ hal 15)

Kedua, melakukan perbuatan dosa atau melakukan maksiat bisa menjadi penghalang dikabulkannya doa.

Dalam riwayat dikisahkan seorang yang sudah lama berpergian kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul. (Lihat Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke sepuluh)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa suatu yang haram bisa merusak doa kita, karena itu termasuk melakukan kemaksiatan dan melanggar perintah Allah.

وقال بعض السلف: لا تستبطئ الإجابة، وقد سددت طرقها بالمعاصي

“Sebagian salaf berkata, “Janganlah engkau memperlambat terkabulnya doa, karena kamus sudah menutupinya dengan menempuh jalan maksiat.” (Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, 1: 277)

Namun, dosa bukan berarti tidak diterimanya doa secara mutlak. Karena Allah kadang mengabulkan doa tersebut, seperti halnya permintaan dari iblis untuk ditangguhkan sampai hari kebangkitan.

Ibnu Rajab berkata dalam kitabnya “Jaami’ Al-Ulum wa Al-Hikam” mengenai maksud pada riwayat di atas

وليس صريحا في استحالة الاستجابة، ومنعها بالكلية، فيؤخذ من هذا أن التوسع في الحرام والتغذي به من جملة موانع الإجابة

“Bukan berarti secara nampaknya doa yang dipanjatkan mustahil tidak dikabulkan, dan terhalang secara keseluruhan, maka maksud disana bahwa keluasan (doa) bisa terhalang karena terdapat di dalamnya keharaman dan dikenyangkan dari yang haram sebab itulah menjadi penghalang dikabulkannya doa.” (1/275)

Bukan berarti melakukan dosa seenaknya saja dan apalagi dilakukan dengan sengaja. Karena meninggalkan dan menjauhi dosa bentuk keharusan bagi seorang Mukmin. Adapun maksud dari perkataan di sana ialah meninggalkan perbuatan dosa merupakan bentuk usaha dan mengambil sebab agar doa kita tidak terhalang olehnya.

Ketiga, Memutuskan silaturahmi.

Dalam riwayat disebutkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، ما لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، ما لَمْ يَسْتَعْجِلْ

“Senantiasa doa seorang hamba dikabulkan selama ia tidak berdoa dalam perkara dosa, atau perkara memutus silaturahmi, dan selama tidak tergesa-gesa dalam doanya.” (HR. Muslim:2735)

Hadits di atas menunjukkan bahwa memutus silaturahmi bisa menjadi sebab terhalangnya doa.

Jika ditinjau dari sisi pendalilan bahwa berdoa dalam perkara memutus silaturahmi saja dilarang apalagi sampai melakukannya. Bisa jadi itu lebih besar sebab penghalang dikabulkannya doa.

Dalam kaedah ushul fiqh menyebutkan

المسكوت عنه تارة يكون أولى بالحكم من المنطوق

“Suatu dalil yang tidak disebutkan dalam nash bisa jadi lebih utama dari yang disebutkan, dilihat dari sisi hukum.” (Lihat Mudzakkiratu Ushuli Al Fiqh, hal 284)

Hal ini juga selaras apa yang dimuat oleh situs www.islamweb.net no fatwa 175787 menyatakan:

وهو داخل في عموم الإثم المذكور قبله، ولكنه خصصه بالذكر تنبيها على عظم إثم قطيعة الرحم

“Ia termasuk dalam keumuman dosa yang disebutkan sebelumnya, akan tetapi dikhususkan dalam penyebutannya sebagai peringatan atas besarnya dosa bagi orang yang memutus silaturahmi.”

Itulah beberapa sebab-sebab bisa menjadi penghalang dikabulkannya doa. Namun masih ada lagi sebab-sebab lainnya. Di sini (penulis-pen) hanya menyebutkan sebab yang lebih utama saja, melihat dari sisi interaksi hamba kepada Tuhannya selama penantian. Maka hal ini harus dijaga agar doa yang sudah lama dipanjatkan tidak sia-sia.

Riza Ashfari Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...