Home Aqidah Bagaimana Cara Menyikapi Takdir?

Bagaimana Cara Menyikapi Takdir?

Kita mungkin sering mendengar pernyataan kalau hasil tidak akan menghianati usaha, atau banyak realita terjadi sesuai dengan ekspektasi manusia.

Betul?

Seiring berkembangnya zaman, teknologi dan ilmu pengetahuan memang bisa menembus apa saja, tapi nyatanya tidak dengan takdir. Terkadang kita sudah mengerahkan segala usaha untuk mendapat apa yang kita ingin, tapi nyatanya nasib berkata lain.

Allah sembunyikan takdir dari indera dan praduga manusia.
Mengapa? Barangkali supaya kita tidak menjadi hamba yang angkuh jumawa, seolah bisa membolak-balikan banyak perkara dengan hanya mengandalkan kekuatan ilmu pengetahuan belaka, kemudian melupa bahwa di sana ada Dzat yang Maha berkuasa atas seluruh alam raya.

Dia berkuasa menakdirkan yang rendah menjadi tinggi seketika, menjadikan sembuh bagi yang sakit dengan sekejap mata, juga mudah saja bagi-Nya menjadikan kesenangan bagi yang sengsara dan berduka, atau mendadak gundah gulana padahal baru saja ia merasa bahagia.

Ingat! Mudah bagi Allah. Dia hanya cukup berkata : “Jadilah!” maka, terjadilah segala yang menjadi kehendak-Nya.

Begitulah takdir perjalanan hidup manusia, terkadang tidak bisa dinalar dengan logika, tidak bisa dirumuskan dengan ilmu pengetahuan semata.

Maka, beriman kepada takdir menjadi suatu amalan utama. Kita wajib percaya bahwa apa-apa yang menimpa diri kita adalah takdir, keberadaannya sudah tertulis bahkan puluhan ribu tahun sebelum semesta tercipta.

Jika ternyata takdir yang Allah tetapkan tidak sesuai dengan keinginan, maka janganlah berburuk sangka.

Namun bersabarlah, akan ada pahala dan hikmah dari setiap musibah yang menimpa.
Dan bersyukurlah jika takdir-Nya sesuai dengan yang kita suka karena dengan syukur, Allah tidak akan segan untuk menambahkan nikmat-nikmat bagi hamba-Nya.

Sekali lagi, berimanlah kepada takdir, agar segala kecemasan dalam hidup segera berakhir. Hanya orang berimanlah yang akan menerima segala ketentuan Allah dengan berlapang dada, karena mereka paham, skenario Allah tidaklah bisa dipecahkan dengan rumus apapun yang ada di dunia. Lalu, mau bagaimana lagi selain menerima dengan sebaik-baik penerimaan?
⁣⁣⁣
Menerima takdir bukan lantas berarti pasrah dan enggan berbuat apa-apa, justru Allah memerintahkan kita untuk terus berusaha dan berbenah. Allah berfirman dalam kitab-Nya,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (nasib) suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasibnya sendiri.” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Namun, arti menerima adalah menyerahkan sepenuhnya hasil akhir, setelah berbagai ikhtiar dikerahkan, semua usaha dilakukan dan segala doa baik dilangitkan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Bersyukur dan tenanglah dengan apa pun yang terjadi, karena Allah tidak menakdirkan bagi hamba-Nya kecuali jika takdir tersebut adalah yang terbaik. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Orang yang menggantungkan segala hidupnya pada Allah, dan percaya jika takdir-Nya adalah yang terbaik, dia akan dengan mudah menepis rasa gelisah, serta tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan duka, meskipun sedang dirundung luka dan berbagai masalah yang tiada habisnya. Dia yakin pahala besar di sisi Rabbnya telah dipersiapkan sebagai hadiah untuk segala kesabarannya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Sebaliknya, ketika kenikmatan demi kenikmatan datang, ia tidak terlena, tidak silau dengan gemerlap dunia yang hanya sementara. Dia paham semua yang didapat bukan murni hasil peluh keringatnya, melainkan karena rahmat Allah yang Mahakuasa. Lalu dia akan bersyukur, memuji kebesaran Ilah dan segala kesempurnaan-Nya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Begitulah sikap orang beriman, tidak berlebihan dalam mengekspresikan bahagia dan tidak pula terlalu mendramatisir duka, dia selalu tenang dengan takdir apapun yang ada di depan. Dia paham bahwa takdir telah tertulis, pena telah diangkat, dan catatan pun telah kering.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jadi teringat pepatah Arab yang kerap saya jadikan moto dalam menjalani hidup :⁣⁣⁣

أقدارنا مكتوبة فلنعش بهدوء⁣⁣⁣

⁣⁣”Takdir kita telah tertulis. Maka, hiduplah dengan tenang.”⁣⁣⁣

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...