Home Fiqih Apa Hikmah Dibolehkannya Jual Beli ?

Apa Hikmah Dibolehkannya Jual Beli ?

Sebelumnya, ada sebuah kaedah yang harus diperhatikan terlebih dahulu. Karena setiap kaedah yang ditulis oleh para ulama hasil dari buah pikiran setelah memahami konteks sebuah nash Al Qur’an atau hadits.

Perlu diketahui, bahwa setiap kaedah yang dibangun di atas nash akan melahirkan dua kemungkinan, baik ia membawa maslahat atau mafsadat. Jika syariat memerintahkan sesuatu berarti itu membawa maslahat. Dan jika syariat melarangnya berarti membawa mafsadat.

Karena dua hal inilah para ulama mengambil kesimpulan bahwa tujuan disyaratkannya sebuah hukum agar tetap berlangsungnya kehidupan manusia dalam tinjau hukum Islam.

Sebagimana Imam al Ghazali menjelaskan bahwa tujuan dibentuknya syariat: pertama, untuk menjaga agama. Kedua, untuk menjaga jiwa. Ketiga, untuk menjaga akal. Keempat, untuk menjaga nasab. Kelima, untuk menjaga harta.

Lima dasar di sanalah menjadi pokok dasar kaedah untuk membangun sebuah hukum.

Kami akan mempraktikkan salah satu kaedah di atas, sebagai contoh kaedah kelima yaitu menjaga harta.

Dalam kaedah menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap muamalah hukumnya halal, sampai datangnya dalil yang mengharamkannya.

Ibnu Taimiyah menerangkan dalam kitabnya “Majmu’ al Fatawa,”

أن الأصل في العقود والشروط: الجواز والصحة ولا يحرم منها ويبطل إلا ما دل الشرع على تحريمه وإبطاله نصا أو قياسا عند من يقول به.

“Pada dasarnya di dalam akad dan syarat diperbolehkan dan sah, tidak haram dan tidak dibatalkan kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya dan pembatalannya secara nash atau qiyas bagi siapa yang memperbolehkan dengannya (qiyas).” (29/132)

Atas dasar kaedah di atas kita bisa simpulkan bahwa jual beli termasuk muamalah yang diperbolehkan, karena ada nash yang memperbolehkan, sebagaimana dalam firmanNya:

 وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba’.” (QS Al-Baqarah:275)

Lalu, apa hubungannya antara kaedah pokok dengan kaedah cabang ?

Kaedah pokok ialah kita diperintahkan untuk menjaga harta. Kaedah cabang kita diperbolehkan bermuamalat dalam bentuk jual beli. Artinya Allah menunjukkan rahmatNya kepada hambaNya bagaimana kita bisa memiliki barang seseorang dengan cara yang halal tampa dengan mencuri, menjambret, memalak, dan begal.

Namun, perlu diperhatikan juga, untuk merealisasikan transaksi jual beli harus adanya keridhoan diantara kedua belah pihak; agar muamalat menjadi halal.

Makanya ketika ada ayat yang bunyinya

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kalian.” (QS. An Nisa’:29)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membuat sebuah kaedah di dalamnya atas dasar ayat di atas, dalam kitab “Majmu’ al Fatawa” disebutkan,

لم يشترط في التجارة إلا التراضي وذلك يقتضي أن التراضي هو المبيح للتجارة

“Tidak mensyaratkan dalam sebuah perdagangan kecuali dengan jalan suka sama suka, hal ini menunjukkan bahwa rasa suka sama suka sebab dibolehkannya dalam perdagangan.”(29/155)

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa transaksi jual beli jalan untuk menjaga harta antara sesama; demi mewujudkan kemaslahatan bersama tampa adanya kedzaliman di muka bumi ini dan sebagai wasilah pencegahan terjadinya tindakan kriminalitas ditengah-tengah masyarakat

Riza Ashfari Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...