Home Biografi Ulama 4 Kunci Sukses Menuntut Ilmu Ala Imam Asy-Sya'bi

4 Kunci Sukses Menuntut Ilmu Ala Imam Asy-Sya’bi

Amir bin Syurahbil bin ‘Abd bin Dzi Kibar, itulah nama beliau. Seorang tabi’in yang lahir enam tahun setelah masa khilafah al-Faruq Umar bin Khotob radhiyallahu ‘anhu dengan tubuh yang kurus dan mungil, karena saudara kembarnya lebih banyak mendapatkan jatah di rahim ibunya sehingga beliau tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan tubuhnya. Namun, kelak tak ada yang mampu menyamainya baik saudara kembarnya maupun orang lain dalam hal ilmu.

Beliau (Asy-Sya’bi) berkata,


إني زوحمت في الرحم

“Sesungguhnya aku mendapat jatah sempit dalam rahim (ibuku)”.

Beliaulah Asy-Sya’bi, yang gemar berkutat dengan ilmu dan mencurahkan berbagai upaya untuk mendapatkannya sejak masa belia. Menurut beliau, perjalanan menuntut ilmu yang bermanfaat itu tidak sia-sia meskipun harus melalui berbagai kesulitan. Hal itu bisa dilihat dari perkataan beliau:

لو أن رجلا سافر من أقصى الشام إلى أقصى اليمن فحفظ كلمة تنفعه فيما يستقبل من عمره، رأيت أن سفره لم يضع

“Seandainya ada seseorang yang pergi dari ujung Syam sampai ke ujung Yaman, lalu ia menghafalkan satu kata yang bermanfaat untuknya di kemudian hari, maka sungguh perjalanannya tidak sia-sia”.

Selama hidupnya, Asy-Sya’bi telah bertemu dengan tidak kurang dari 500 shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau telah menjadi ulama pada zamannya ketika masih banyak sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup dan berada di tengah-tengah umat; seorang ulama yang lembut hatinya dan tawadhu’.

Muhammad bin Muzahim berkata: datang seorang laki-laki memaki beliau di kerumunan manusia, maka Asy-Sya’bi berkata: “Jika anda berdusta, semoga Alloh mengampunimu. Namun jika anda benar, maka semoga Alloh mengampuni saya”.

Beliaulah Asy-Sya’bi: cerdas, tajam analisanya, bagus pemahamannya, kuat daya hafal serta ingatannya. Mari kita lihat betapa cerdasnya beliau melalui kemampuan beliau dalam bidang ilmu yang yang paling tidak beliau kuasai.
Asy-Sya’bi berkata,

ما أروي شيئا أقل من الشعر، ولو شئت، لأنشدتكم شهرا لا أعيد

“Aku tidak pernah meriwayatkan suatu disiplin ilmu yang lebih sedikit dari pada bait-bait syair, namun seandainya aku mau aku bisa mengucapkan bait-bait syair tersebut selama satu bulan penuh tanpa ada pengulangan”.

Dari sini dapat kita ukur betapa cerdasnya beliau. Jika kemampuan beliau dalam disiplin ilmu yang paling tidak beliau kuasai sudah sehebat ini, maka bagaimana dengan banyaknya disiplin ilmu yang telah beliau kuasai?

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah rahasia beliau dalam kesuksesannya menuntut ilmu? Mari kita lihat jawaban beliau ketika ditanya tentang hal ini,


قيل للشعبي: من أين لك كل هذا العلم؟ قال: بنفي الاغتمام، والسير في البلاد، وصبر كصبر الحمام، وبكور كبكور الغراب

Asy-Sya’bi ditanya: “dari mana engkau mendapatkan ilmu (kecerdasan) ini?”, beliau menjawab: (1) Tidak mengandalkan kemampuan diri, (2) Melakukan perjalanan lintas negri (3) Sabar, sebagaimana sabarnya burung merpati, (4) Bersegera, sebagaimana bersegeranya burung gagak.

Maka seperti inilah harusnya seorang tholibul ilmi, selalu mengandalkan Alloh dan bergantung pada-Nya dalam setiap urusannya, tidak bangga ataupun pesimis dengan kemampuan diri, kemampuan yang mampu Alloh berikan kepada siapapun dan hilangkan dari siapapun, kapanpun Dia kehendaki.

Seperti inilah harusnya seorang tholibul ilmi, mau susah payah dan berkorban untuk mendapatkan ilmu di manapun ia berada. Tidak bersantai dan hanya mengandalkan cara instan berbekal teknologi. Ketahuilah, bahwa teknologi mungkin mampu untuk mengambil peran guru sebagai pentransfer ilmu, namun ia tidak dapat menggantikan perannya sebagai pentransfer karakter dan akhlak, secanggih apapun teknologi tersebut.

Seperti inilah harusnya seorang tholibul ilmi, sabar dalam menuntut ilmu, tidak tergesa-gesa, tidak mudah menyerah. Ketahuilah, jika kamu mencurahkan seluruh hidupmu untuk ilmu, kamu baru akan mendapatkan sebagiannya. Jadi, bagaimana kalau kamu hanya mencurahkan separuh, seperempat, sepersepuluh, atau potongan sangat kecil dalam hidupmu untuknya?

Seperti inilah harusnya seorang tholibul ilmi, bersegera dalam mencari ilmu, tidak menunda-nunda. Hasan Al-Bashri berkata: “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari esok. Jika esok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini”.

Wa lillahi taufiq

Referensi:
Siyar A’lam An-Nubala
At-Thabaqat Al-Kubra
Hilyatul Aulia
Tarikh Dimasyqo
Tadribur Rowi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...