Home Tafsir Tafsir Surat Al-Ikhlas

Tafsir Surat Al-Ikhlas

Ayat Pertama

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.

Ayat di sana menerangkan tentang tauhid Uluhiyyah, sebagai menepis sangkaan orang-orang Musyrik terhadap Allah. Orang Yahudi berkata, “kami menyembah Uzair, anak Tuhan”. Orang Nasrani berkata, “kami menyembah al-Masih, anak Tuhan”. Orang Majusi berkata, “kami menyembah matahari dan bulan”. Orang Musyrik Mekkah (Quraisy) berkata, “kami menyembah berhala-berhala”. Dan inilah sebab turunnya ayat di atas sebagai mana dari riwayat Ikrimah ra.

Kata أحد memiliki arti tidak sama, tidak mirip, tidak boleh mempersekutukanNya, tidak serupa, baik di dzatNya maupun sifatNya, dan tidak mirip di dalam perbuatanNya. Makna yang disebut di sana semuanya benar.

Pada dasarnya kata أحد ialah وَحَد dengan menggunakan wau ( و ), lalu diganti dengan alif ( أ ) agar mempermudah dalam pengucapannya.

Tidak hanya sebatas dalam ucapan, tapi dalam maknanya pun membawa arti yang sangat mendalam. Kata أحد merupakan nama khusus yang disemat hanya kepada Allah. Karena kata أحد salah satu sifat Allah. Dan kata أحد memiliki arti nafyu (peniadaan), sedangkan kata وحد memiliki arti itsbat (ketetapan).

Maka korelasi antara pertanyaan dan jawaban sama. Orang-orang Musyrik (Quraisy) bertanya, “sifati kepada kami bagaimana bentuk Tuhanmu (Muhammad), apakah terbuat dari emas atau perak ?Kemudian Allah jawab, “katakanlah (Muhammad) Allahu ahad”. Dan seketika makna “ahad” menafikan semua sifat-sifat Tuhan mereka, Yahudi, Nasrani, Majusi, dan orang Musyrik Mekkah bahwa Allah berbeda dengan Tuhan yang mereka sembah.

Ayat Kedua

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu.

Makna الصمد ialah kepadaNya para makhluk meminta kebutuhan mereka, tidak ada yang di atas kecuali Dia, tidak makan, dan tidak minum.

Lafadz الصمد dalam bentuk ma’rifah (yang sudah diketahui) memberi arti bahwa orang-orang Musyrik tatkala itu sudah mengetahui bahwa Allah lah yang memberikan mereka makan dan semisalnya. Dan mereka tahu bahwa yang menciptakan langit dan bumi ialah Allah swt.

Jika أحد bentuk nakiroh (yang belum diketahui) memberikan arti meniadakan sangkaan atau dugaan mereka bahwa Allah bukanlah seperti apa yang mereka sifati. Sedangkan lafadz الصمد dalam bentuk ma’rifah memberikan arti ketetapan atau keyakinan mereka bahwa Allah ialah tempat mereka meminta segala sesuatu.

Bisa kita simpulkan bahwa mereka mengakui Allah lah yang menciptakan langit, bumi, dan yang memberikan mereka makan atau semisalnya. Hal ini dikenal dengan sebutan tauhid Rububiyyah. Akan tetapi mereka tidak mengakui bahwa Allah lah yang berhak disembah atau dikenal dengan sebutan tauhid Uluhiyyah.

Ayat Ketiga

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

Artinya: (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Ayat di atas sanggahan untuk orang-orang yang menuduh Allah bahwa Ia mempunyai anak.

Sebagaimana dalam riwayat menjelaskan bahwa Yahudi menganggap bahwa Uzair anak (laki) Tuhan, Nasrani mengatakan bahwa al Masih anak (laki) Tuhan, orang Musyrik Mekkah mengatakan bahwa malaikat anak (perempuan) Tuhan.

Kemudian pada ayat di atas bisa juga sebagai tafsir pada ayat sebelumnya yaitu الصمد, sebagaimana diterangkan oleh ibnu Katsir dalam tafsirnya dari riwayat ar Rabi’ bin Anas. Bahkan ibnu Katsir mengomentari bahwa tafsir di atas bagus.

Hal ini tdk bertentangan dalam kaidah penafsiran. Karena tafsir tersebut dikenal dgn istilah tafsir al Qur’an dengan al Qur’an.

Syaikh Abu al Hasan Hisyam al Mahjubiy menerangkan dalam kitabnya “Thuruqu Tafsir” (metode dlm penafsiran)

“Sebagian ayat al Quran datang dlm bentuk mujmal, sehingga tafsir dan penjelasannya bisa ditemukan dalam al Qur’an itu sendiri, baik pada ayat setelahnya secara langsung atau ayat selainnya yg mana penjelasannya jauh dari ayat setelahnya tapi masih dalam satu surat atau penjelasannya pada surat yg lain.”

Ayat Keempat

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia di dalan namaNya, sifatNya, dan perbuatanNya.

Oleh karenanya, itulah kenapa dari ayat pertama sampai ayat keempat berbicara tentang kemurnian seorang hamba terhadap Tuhannya. Sebab jika diperhatikan kembali tidak ada satupun yang menyinggung kata al Ikhlas, akan tetapi dari sisi maknanya mengandung arti al Ikhlas yang artinya murni dan bersih.

Imam Fakhrur Razi berkata dalam tafsirnya

ولأن من اعتقده كان مخلصا في دين الله، ولأن من مات عليه كان خلاصه من النار

“Karena orang yang meyakini akan menjadi ikhlas dalam menjalankan agama Allah, dan karena orang yang mati dengan ikhlas, dia akan dijauhkan dari neraka.”

Kemudian, diantara faedah surat Al Ikhlas ialah siapa yang membaca seakan-akan dia membaca sepertiga al Quran.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّها لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari 4762)

Muhammad Ali ash-Shobuny mengomentari maksud hadits di atas di dalam kitabnya “Shofwatu at-Tafasir” :

قال العلماء: وذلك لما تضمنته من المعاني والعلوم والمعارف، فإِن علوم القرآن ثلاثة: توحيد، وأحكام وقصص

“Para ulama berkata: oleh karena itu, ayat di sana mengandung maksud-maksud (ketauhidan), ilmu pengetahuan (ilmu Al-Qur’an), pengenalan (Tuhan kepada hambaNya), adapun ilmu Al-Qur’an yang dimaksud ialah ada tiga: pertama tentang ketauhidan, kedua tentang hukum Islam, dan ketiga tentang kisah-kisah.”

 

Allahu ‘alam

 

 

Referensi Utama:
Tafsri al Quran al adzhim Karya Ibnu Katsir.

Tafsir Mafaatihul Ghaib karya Fakhruddin ar Razi juz 32 seri surat Al Ikhlas.

Tafsir Adhwaaul Bayaan fii Iidhoohil Quran juz 9 hal 151, karya Muhammad al Amin asy Syinqithiy.

Tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir kalam al-Manan, karya Abdurrahman bin Nasir as-Sa’dy, cetakan ad Dar al Alamiyah hal 1197.

Tafsir Shofwatu at-Tafasir karya Muhammad Ali ash-Shobuny

Riza Ashfari Mizan
Alumni Imam Muhammad Bin Sa'ud Islamic University (LIPIA Jakarta)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca surat al Kahfi di hari jumat salah, Benarkah ?

Perlu diketahui bahwa secara umum ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang dianjurkan membaca surat-surat tertentu pada hari jumat, seperti surat Yasin, al Kahfi, dan...

Apa itu Hatibul Layl ?

  حاطب ليل Pencari kayu bakar di malam hari. Sebenarnya gelar ini digagas oleh para kritikus riwayat terhadap sekian banyak ulama dan perawi ketidak mampuannya dalam membedakan...

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...