Home Fiqih Hukum Mengkonsumsi Bekicot, Bolehkah?

Hukum Mengkonsumsi Bekicot, Bolehkah?

Bekicot dalam bahasa arab disebut dengan nama halzun barri (الحلزون البري). Yang mana dalam fiqih, bekicot termasuk dalam golongan hasyarot (hewan kecil yang hidup didarat) yang tidak memiliki transportasi darah merah.

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai hukum bekicot, perlu diketahui bahwa hasyarot dibagi menjadi 2: hasyarot yang memiliki transportasi darah merah dan hasyarat yang tidak memilikinya.

Adapun pendapat para ulama fiqh terkait hukum hasyarot (kecuali belalang, biawak, dan ulat) terbagi menjadi 3:

  1. Semua jenis hasyarot hukumnya haram (baik yang memiliki transportasi darah merah maupun tidak} karena itu termasuk hewan yang menjijikan. Ini adalah pendapat Hanafiyyah
  2. Semua jenis hasyarot yang tidak membahayakan hukumnya halal, ini adalah pendapat Malikiyah, tetapi mereka mensyaratkan kehalalannya dengan disembelih: bagi hasyarot yang memiliki transportasi darah merah, maka disembelih dengan cara memutuskan tenggorokan (saluran pernafasan) dan saluran sirkulasi darah (vena dan arteri) dengan niat dan tasmiyah (membaca bismillah), adapun bagi hasyarot yang tidak memiliki transportasi darah merah seperti bekicot darat maka penyembelihannya seperti penyembelihan belalang, yaitu dengan melakukan apa saja yang dapat mempercepat kematiannya dengan tasmiyah dan niat.
  3. Merincikan hukum dengan mengharamkan sebagian dan menghalalkan sebagian yang lain. Ulama syafiiyah membolehkan sebagian hasyarot baik karena menyerupai biawak maupun karena hewan tersebut tidak menjijikan. Ini adalah pendapat syafi’iyah dan hanabilah.

Hukumnya

Mayoritas ulama berpendapat bahwa bekicot hukumnya haram untuk dikonsumsi, sedangkan sebagian ulama lain menghalalkannya.

Pendapat pertama: HARAM. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya: Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Syafi’iyah, dan Daud Ad-Dhahiri yang menegaskan pengharaman hasyarot, termasuk bekicot.

Imam An-Nawawi dalam kitabnya “Al-Majmu’” berkata,

مذاهب العلماء في حشرات الأرض…. مذهبنا أنها حرام، وبه قال أبو حنيفة وأحمد وداود. وقال مالك حلال

“Madzhab-madzhab ulama tentang hasyarot…madzhab kami (syafi’iyah) hukumnya haram, ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Daud. Sementara Malik berkata: halal”. (9/16)

Adapun alasan pengharamannya dikarenakan beberapa sebab:

1. Hewan Yang Dianggap Menjijikan

Abu Fadhl Al-Hanafi dalam kitabnya “Al ikhtiyar lita’lil al-mukhtar” berkata,

وكل ما ليس له دم سائل حرام إلا الجراد، مثل الذباب والزنابير والعقارب، وكذا سائر هوام الأرض وما يدب عليها وما يسكن تحتها، وهي الحشرات كالفأرة والوزغة واليربوع والقنفذ والحية ونحوها لأن جميع ذلك من الخبائث فيحرم لقوله – تعالى : ويحرم عليهم الخبائث

“Dan semua yang tidak mempunyai transportasi darah merah adalah haram kecuali belalang, seperti lalat, tawon, kalajengking, dan begitu pula semua serangga berbahaya dan binatang melata baik yang tinggal di atas muka bumi maupun di bawahnya yaitu hasyarot seperti tikus, cicak, jerboa, landak, ular dan semisalnya. Karena semua itu termasuk sesuatu yang buruk (menjijikan) sehingga ia di haramkan, sebagaimana firman Alloh ta’ala: “dan (Dia) mengharamkan segala yang buruk bagi mereka”. (Al-A’rof: 157) (5/14)

Imam Abu Hamid Al-Ghazaly  dalam kitabnya “Al-wasith fil madzhab” berkata,

كل ما استخبثته العرب فهو حرام قال الله تعالى {يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات} وإنما خرج على ما هو طيب عندهم فالحشرات كلها مستخبثة

Semua yang dianggap menjijikan oleh orang-orang arab maka ia haram. Alloh ta’ala berfirman: “mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “apakah yang dihalalkan bagi mereka?” katakanlah, “yang dihalalkan bagimu adalah makanan yang baik-baik”. Adapun hasyarot keluar dari apa yang dianggap baik oleh mereka, karenanya seluruh hasyarot dianggap menjijikan. (7/163)

Shalih Al-Fauzan dalam kitabnya “Al-mulakhas al-fiqhi” berkata,

ويحرم من الحيوانات ما يستخبث؛ كالحية، والفأرة، والحشرات

“Dan diharamkan hewan-hewan yang dianggap menjijikan; seperti: ular, tikus, dan hasyarot. (2/582)

2. Tidak bisa disembelih

Ibn Hazm dalam kitabnya “Al-Muhalla” berkata,

وقد صح البرهان على أن الذكاة في المقدور عليه لا تكون إلا في الحلق أو الصدر، فما لم يقدر فيه على ذكاة فلا سبيل إلى أكله فهو حرام؛ لامتناع أكله، إلا ميتة غير مذكى

“Sementara dalil yang shahih telah menegaskan bahwa cara penyembelihan hanya bisa dilakukan pada leher atau dada, maka hewan yang tidak bisa disembelih, tidak ada jalan keluar untuk memakannya, sehingga hukumnya haram; karena tidak memungkinkan dimakan kecuali dalam keadaan bangkai, yang tidak disembelih”.(6/76)

Syaikh Ali Farkus hafidzohulloh mengatakan dalam fatwa beliau no.1039

“Keterangan yang melarang makan bekicot, menurut saya lebih mendekati kebenaran. Karena bekicot darat termasuk hewan melata yang tidak bisa disembelih karena tidak memiliki transportasi darah merah. Dan semua binatang yang tidak mungkin bisa disembelih, maka tidak ada cara untuk bisa memakannya, karena statusnya bangkai.”

Sisi yang lain, terdapat kaidah yang diakui bersama bahwa tidak mengkonsumsi binatang yang halal dimakan setelah disembelih termasuk tindakan menyianyiakan harta, yang itu dilarang secara syariat. Sementara binatang seperti membuang bekicot, tidak termasuk bentuk menyia-nyiakan harta.

Sementara mengqiyaskan bekicot dengan belalang (seperti yang dipahami malikiyah) adalah qiyas yang tidak benar. Karena belalang dikecualikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari keumuman bangkai yang haram. Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa”. Adapun pendapat Imam Malik akan bolehnya menkonsumsi bekicot dapat diartikan bahwasannya kebolehan tersebut adalah ketika dalam keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak selama tidak membahayakan, sebagai bentuk kompromi antara dua pendapat Ulama dan keluar dari ranah khilaf (perselisihan).

Pendapat kedua: HALAL. Ini adalah pendapat Malikiyah.

Dalam kitab “Al-Mudawanah”  dinyatakan,

ولقد سئل مالك عن شيء يكون في المغرب يقال له الحلزون يكون في الصحارى يتعلق بالشجر أيؤكل؟

قال: أراه مثل الجراد ما أخذ منه حيا فسلق أو شوي فلا أرى بأكله بأسا، وما وجد منه ميتا فلا يؤكل

Imam Malik ditanya tentang binatang yang ada di daerah Maroko, namanya bekicot. Biasanya berjalan dibebatuan, naik pohon. Bolehkah ia dimakan?

Imam Malik menjawab: “Saya berpendapat itu seperti belalang. Jika ditangkap hidup-hidup, lalu direbus atau dipanggang, maka tidak masalah untuk dikonsumsi, namun jika ditemukan dalam keadaaan mati, maka jangan dimakan.(1/542)

Al-Baji juga menukil keterangan Imam Malik tentang bekicot dalam kitabnya “Al-Muntaqa Syarh Muwatha’” sebagai berikut,

ذكاته بالسلق، أو يغرز بالشوك والإبر حتى يموت من ذلك، ويسمى الله تعالى عند ذلك، كما يسمى عند قطف رؤوس الجراد

“Cara menyembelihnya adalah dengan dimasak, atau ditusuk kayu atau jarum sampai mati. Dengan dibacakan nama Alloh (bismillah) ketika itu, sebagaimana membaca bismillah ketika memutuskan kepala belalang”. (3/10)

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa Imam Malik membolehkan mengkonsumsi bekicot, karena ia seperti belalang dan prinsip madzhab maliki bahwa semua hasyarot adalah halal termasuk bekicot.

Adapun kehalalannya dengan syarat ditangkap dalam keadaan hidup kemudian disembelih, namun karena bekicot tidak memiliki transportasi darah merah, maka cara penyembelihannya bisa dengan apa saja yang mempercepat kematiannya sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Syaikh Sholeh Al Munajjid hafizhohullah berkata dalam fatwa beliau no.114855

جواز أكل الحلزون بنوعيه : البري والبحري ، ولو طبخ حيّاً فلا حرج ؛ لأن البري منه ليس له دم حتى يقال بوجوب تذكيته وإخراج الدم منه ؛ ولأن البحري منه يدخل في عموم حل صيد البحر وطعامه

“Boleh saja memakan dua jenis bekicot yaitu bekicot darat dan bekicot air. Sekalipun dimasak hidup-hidup, tidaklah masalah. Karena bekicot darat itu tidak memiliki darah yang mengalir, lantas bagaimana mungkin dikatakan wajib disembelih. Sedangkan bekicot air termasuk dalam keumuman ayat “Dihalalkan bagimu binatang buruan air dan makanan (yang berasal) dari air.

Fatwa MUI

MUI menetapkan fatwa tentang hukum mengkonsumsi bekicot dengan ketentuan hukum sebagai berikut:

  1. Bekicot merupakan salah satu jenis hewan yang masuk kategori hasyarot
  2. Hukum memakan hasyarot adalah haram menurut jumhur Ulama (Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyah), sedangkan Imam Malik menyatakan kehalalannya jika ada manfaat dan tidak membahayakan
  3. Hukum memakan bekicot adalah haram, demikian juga membudidayakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan konsumsi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Fase Pensucian Sebelum Masuk Syurga.

Diantara nikmat terbesar yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang taat adalah nikmat syurga, dimana syurga merupakan pembalasan yang setimpal bagi mereka yang sabar melawan...

Belajar Husnudzan Dari Semut

Husnu “Dzan’’ berasal dari dua kata, pertama “Husnu” yang berarti baik, dan kata “Dzan yang berarti "Prasangka”. Jika keduanya digabungkan, maka memberikan makna prasangka...

Belajar Bahasa Arab Wujud Dari Kesempurnaan Iman Kepada Allah

Berbahasa merupakan salah satu dari sekian banyaknya pilihan manusia untuk mewujudkan keharmonisan di dalam kehidupan mereka. Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sarana paling...

Mengingat Nasehat Buya Hamka Bagi Para Pendakwah

Dakwah merupakan metode yang terbaik untuk mengajak hambaNya menuju jalan yang diridai oleh Allah Y. Hal ini salah satu wujud dari jawaban kita terhadap...