Home Muamalah Merubah Musibah Menjadi Anugerah Di 10 hari Terakhir Ramadhan Masa Pandemi

Merubah Musibah Menjadi Anugerah Di 10 hari Terakhir Ramadhan Masa Pandemi

Sejak pertengahan Maret lalu masyarakat kita telah diguncang dengan berita mulai masuknya wabah Covid 19 yang telah menjadi momok bagi warga dunia belakangan ini. Sejak saat itu Ibukota mulai menerapkan social distancing bagi warganya demi menekan penyebaran virus yang berbahaya ini.

Seluruh sekolah diliburkan dan perusahaan diminta untuk menerapkan work from home bagi para pekerjanya. Mendadak semua orang menjadi terbatas geraknya dalam beraktivitas.

Social distancing kini ditingkatkan statusnya menjadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan masih berlanjut sampai kita menemui bulan Ramadhan, bulan yang spesial di hati kaum muslimin karena banyaknya pahala dan pengampunan yang Allah janjikan di bulan ini.

Karena peraturan PSBB ini semua kegiatan yang mengharuskan adanya perkumpulan manusia dilarang untuk dilakukan, tidak terkecuali kegiatan-kegiatan di masjid.

Umat Islam menjadi tidak bisa melaksanakan tarawih di masjid dan mendatangi majelis-majelis ilmu yang biasanya ramai di bulan Ramadhan.

Masa pandemi ini memiliki dampak yang begitu besar di banyak aspek kehidupan, terutama dalam hal perekonomian. Hal ini membuat kita sepakat bahwa wabah Covid 19 ini adalah sebuah ujian bagi kita.

Sebagai seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan juga kepada takdirNya, kita harus meyakini bahwa wabah ini adalah ketetapan dariNya. Maka dengan bekal keimanan tersebut, sudah selayaknya bagi kita untuk menerima segala ketetapan Allah dengan ikhlas dan sabar, dan mencoba mencari segala kemungkinan hikmah yang ada di balik kejadian ini sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

“Mengapa Allah menurunkan wabah ini bertepatan dengan datangnya bulan suci Romadhon?”

“Mengapa Allah tidak juga melenyapkan virus Corona ini sebelum datangnya Romadhan?” atau “Mengapa Allah Tidak menunda kemunculan wabah ini sampai Ramadhan selesai, agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepadaNya?”

Mungkin itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak kita, yang menjadi harapan kita umat islam.

Menginjak 10 hari terakhir di bulan suci ini. Alangkah baiknya jika kita menemukan hikmah-hikmah tersebut, sehingga sebelum Ramadhan berakhir, kita masih sempat memaksimalkan ibadah dengan keluasan waktu yang kita miliki.

1. Banyak Manusia Yang Menjadi Lebih Sibuk Di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadan menjadi suatu peruntungan tersendiri bagi para pedagang musiman, karena pada bulan ini keuntungan yang mereka dapatkan bisa berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya. Begitu banyak pintu rezeki yang terbuka saat Romadhan tiba, dari mulai berdagang makanan, pakaian, dsb. Sebagai satu contoh kita bisa melihat bagaimana padatnya Pasar Tanah Abang saat bulan Romadhan terlebih di 10 hari terakhir, begitu juga dengan pusat-pusat perbelanjaan. Mereka sibuk berbelanja untuk mempersiapkan hari raya.

Selain itu kesibukan juga terlihat di jalan-jalan yang menjadi padat karena arus mudik.

Restoran-restoran makan menjadi lebih ramai pengunjung yang melakukan tradisi bukber (buka bersama)

Semua kesibukan-kesibukan itu telah memalingkan kita dari esensi Ramadan itu sendiri. Kita melupakan bahwa ada ladang pahala yang menanti kita di bulan suci ini.

Kini fenomena itu tidak ada lagi. Lihatlah bagaimana Allah menyingkirkan semua kesibukan-kesibukan itu dengan ‘caraNya’ agar kita bisa fokus dalam beribadah kepadaNya.

2. Dengan Di Rumah Aja Wanita Muslimah Terjaga Dari Tabarruj.

Banyak kaum muslimah di negeri ini yang belum menutup aurat-aurat mereka. Mereka berpuasa, namun dalam waktu yang bersamaan mereka tidak  menutup aurat-aurat mereka saat keluar rumah. Padahal menutup aurat adalah sebuah kewajiban sebagai seorang muslimah.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]

Ketika mereka berpuasa mereka mendapatkan pahala, dan ketika mereka keluar rumah tanpa hijab mereka mendapatkan dosa. Dengan adanya masa karantina ini mereka bisa meminimalisir dosa tersebut dan tetap bisa menjaga pahala puasanya.

 

3. Kesempatan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua.

Sebelum tersebarnya wabah ini banyak anak yang ‘jauh’ dari orang tuanya karena kesibukan aktivitas di luar rumah. Dengan adanya aturan agar tetap di rumah, membuat mereka lebih memiliki lebih banyak waktu agar dekat dengan orangtuanya dan berbakti kepada keduanya.

 

4. Kesempatan Untuk Berkarya Dan Meningkatkan Kualitas Diri.

Masa isolasi adalah masa terbaik untuk berkarya dan meningkatkan kualitas diri kita. Tidakkah kita melihat bagaimana para ulama bisa membuat karya yang fenomenal saat mereka terisolasi di dalam penjara? Sebagaimana yang terjadi pada As Sarakhsi ulama besar dalam madzhab hanafi yang menulis kitab Al Mabsuth saat beliau di dalam penjara, kemudian Sayyid Quthub dengan tafsir Fi Dzilalil Quran-nya, dan Ibnu Taimiyah dengan risalah-risalahnya, begitu juga dengan Ulama dalam negeri Buya Hamka dengan tafsir Al Alzharnya

Kita juga banyak mendengar kisah taubatnya narapidana yang menjadi baik agamanya setelah dari penjara. Mengapa demikian? Karena dalam masa isolasi itulah kita memiliki banyak waktu sendiri tanpa harus terganggu oleh lingkungan luar.

Dalam masa karantina ini banyak yang mengeluh tentang ke’gabut’an yang mengantarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tentu kita sebagai seorang muslim harus menghindari hal yang bisa menyia-nyiakan waktu kita. Ada banyak hal baik yang bisa kita kerjakan selama masakarantina ini, hal yang tidak bisa kita kerjakan di waktu biasa karena alasan sibuk, seperti menambah hafalan, murajaah hafalan, membaca berbagai jenis judul buku, membuat tulisan, memperdalam skill dan lain sebagainya..

 

5. Uzlah Dan Beri’tikaf

Uzlah adalah menyendiri utk mendekatkan diri kepada Allah dengan menghindari hubungan sosial dengan dunia luar yg penuh dengan syahwat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam telah melakukan uzlah di gua hira sebelum mendapatkan wahyu. Dan disitu beliau mendapatkan hakikat penghambaannya kepada Allah, sampai beliau mendapatkan wahyu. Begitu juga sebagaimana yang kita tau tentang kisah ashabul kahfi.

Pada hakikatnya i’tikaf adalah uzlah yang dilakukan di masjid. Jika masa karantina ini kita tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, maka kita bisa melakukan uzlah di rumah-rumah kita.

 

6. Tidak Bersalaman Dengan Non Mahram Saat Idul Fitri.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk bersalam-salaman saat hari raya, bahkan kepada non mahram. Padahal hal itu dilarang dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمَخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Sesungguhnya andai kepala seseorang kalian ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (HR. Ath Thabrani)”.

Dengan adanya penerapan social distancing pada idul fitri kali ini, kita yang biasanya kesulitan untuk menghindar dari berjabat tangan dengan yang bukan mahram bisa dengan  mudah terhindar dari hal ini.

Itulah beberapa hikmah yg bs saya temukan yang ternyata banyak sekali jika kita mau mengambil pelajaran. Mungkin dosa kita terlalu banyak, hingga tidak cukup ditebus dengan minimnya ibadah-ibadah kita di bulan-bulan ramadhan yang lalu. Mungkin juga usia kita tak lagi panjang sehingga hanya saat inilah kesempatan kita utk memperbanyak bekal untuk perjalanan nanti..

Semoga Allah meringankan kita untuk dapat memaksimalkan ibadah dan istighfar kita di penghujung ramadhan ini, sehingga ketika berpisah dengan Ramadhan nanti tak ada sesal dalam diri kita. Aamiin

Wallahu a’lam bish showab

Mega Aprila Lc
Alumni LIPIA Jakarta Jurusan Hukum Syariah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...