Home Fiqih Haruskah Niat Puasa Dengan Lafal ''Nawaitu Shouma Ghodin"?

Haruskah Niat Puasa Dengan Lafal ”Nawaitu Shouma Ghodin”?

Puasa ramadhan merupakan kewajiban yang Allah turunkan kepada hamba-hambanya yang beriman. Ibadah ini cukup ditunggu-tunggu dan disambut ria oleh kaum muslimin diseluruh penjuru dunia. Hal itu karena dibulan ini Allah lipat gandakan amalan-amalan hambanya dan dibulan ini pula terdapat moment-moment istimewa yang tidak didapati dibulan-bulan lain.

Puasa sendiri layaknya ibadah-ibadah lain yang memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar ibadah ini diterima oleh Allah ta’ala. Salah satu rukun yang wajib ada dalam pelaksanaan ibadah ini adalah niat. Sebagaimana ibadah lain, niat ini menjadi penentu sah atau tidaknya puasa yang dikerjakan. Di indonesia sendiri masyarakat kita lebih familiar dengan do’a niat puasa dalam bahasa arab yang sudah diajarkan secara turun temurun, adapun lafalnya sebagai berikut,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Do’a ini sangat populer dan hampir semua orang di indonesia menghafalnya, karena memang do’a ini terdapat di buku-buku tuntunan puasa bagi anak-anak serta diajarkan secara masif, sehingga sudah sangat melekat di hafalan setiap orang. lalu dari manakah asal lafal tersebut? dan apakah niat puasa harus berbahasa arab?

Asal Muasal Niat “Nawaitu Shouma Ghadin

Niat tersebut meskipun dalam redaksi bahasa arab namun lafal tersebut bukanlah hadist, karena memang tidak pernah ternukil bahwa rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan lafal niat tertentu.

Adapun orang pertama yang mempopulerkan lafal ini adalah Imam al-Rafi’i al-Quzwaini dari kalangan Syafi’iyah. Beliau menuliskan lafal ini di dalam kitabnya Fathul aziz bi syarhi al-Wajiz,

وكمال التعيين في رمضان أن ينوي صوم الغد عن أداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى

Adapun sempurnanya (lengkap) niat ramadhan adalah ketika seseorang berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Dalam kitabnya Imam al-Rafi’i menjelaskan bahwa niat ini sudah memenuhi syarat-syarat dalam berniat (lengkap), kemudian ini juga upaya untuk memudahkan kaum muslimin untuk berniat ketika puasa ramadhan.

Lafal ini kemudian dinukil oleh ulama-ulama syafiiyah setelahnya dan diajarkan kepada murid-muridnya sampai akhirnya lafal niat ini sangat familiar di telinga kaum muslimin. Terlebih lagi karena Imam al-Rafi’i dari kalangan syafi’iyah dan mayoritas masyarakat indonesia bermadzhab syafi’i sehingga kitab beliau diajarkan di pesantren-pesantren maka tak heran jika lafal niat ini begitu familiar di tengah masyarakat indonesia.

Apakah Niat Puasa Harus Berbahasa Arab?

Rasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)

Hadist diatas merupakan dalil wajibnya niat dalam segala amalan, karena niatlah yang akan menjadi penentu diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Namun rasulullah tidak mewajibkan atau membatasi niat itu harus dalam bahasa arab, karena memang tidak semua orang bisa berbahasa arab.

Adapun masyhurnya lafal niat ”Nawaitu Shouma Ghadin” diatas karena memang pencetus pertamanya adalah orang arab, maka wajar jika beliau mengajarkan niat dalam bahasa arab, dan itu tidak berarti niat itu wajib dalam bahasa arab, maka setiap orang boleh berniat dengan bahasanya masing-masing, akan tetapi para ulama menggariskan beberapa syarat agar niat seseorang sesuai dengan apa yang diinginkan syariat.

Dalam Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah  disebutkan bahwa syarat niat puasa ramadhan yang disepakati oleh jumhur ulama itu ada 4.

1. Jazm (جزم)

Jazm yakni yakin. Orang yang hendak berpuasa ramadhan hendaknya dia yakin terhadap puasanya, tidak boleh ragu atau bimbang, seperti “kalau besok gak jadi safar saya puasa, tapi kalau jadi safar ya udah gak puasa deh.”Atau seperti puasa di diakhir bulan sya’ban “kalau besok udah masuk ramadhan berarti saya puasa ramadhan, tapi kalau belum masuk ramadhan ya berarti puasa sunnah.”

Niat-niat seperti ini tidak diperbolehkan, karena didalamnya terdapat keraguan, maka sebelum seseorang berpuasa hendaknya ia yakin terlebih dahulu terhadap puasa yang akan dilakukan.

2. Ta’yin (تعيين)

Ta’yin artinya menentukan, maksudnya setiap orang yang hendak berpuasa maka ia harus menentukan jenis puasa apa yang akan dikerjakan, jika puasa yang akan dikerjakan adalah puasa sunnah maka niatnya adalah puasa sunnah, dan apabila puasa yang akan dikerjakan adalah puasa wajib, maka ia harus berniat untuk puasa wajib.

Maka tidak cukup jika seseorang berniat ”besok saya mau puasa” namun ia tidak menentukan puasa apa yang akan dikerjakan apakah puasa ramadhan atau puasa sunnah. Hal ini karena ibadah puasa berkaitan dengan waktu maka harus ditentukan agar tidak bercampur dengan ibadah puasa lainnya sebagaimana shalat, maka ketika seseorang hendak shalat maka ia harus menentukan shalat yang ia lakukan, baik itu dzuhur, ashar atau maghrib.

3. Tabyiit (تبييت)

Tabyit atau mengukuhkan. Hendaknya seseorang sebelum mengerjakan puasa ramadhan untuk mengkuhkan niatnya sejak malam hari atau sebelum masuk waktunya. Ini sebagaimana perintah rasulullah dalam hadist,

من لم يبيت الصيام قبل طلوع الفجر، فلا صيام له

Barang siapa yang tidak berniat puasa sejak malam hari sampai terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya (HR Ibnu Majah)

4. Tajdid an-Niyah (تجديد النية)

Tajdid an-Niyah atau pembaharuan niat. Ini merupakan syarat yang disepakati oleh mayoritas ulama madzhab selain madzhab maliki. Hendaknya setiap orang memperbarui niatnya setiap malam, karena ibadah puasa dihari ini dengan ibadah puasa hari esok adalah ibadah yang terpisah sehingga setiap malamnya harus diperbaharui niatnya dan tidak cukup hanya dengan berniat sekali saja untuk satu bulan penuh.

Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa niat puasa tidak harus dengan menggunakan bahasa arab atau dengan menggunakan lafal “Nawaitu shouma Ghadin” sebagaimana yang sudah dipopuler di masyarakat, namun jika seseorang ingin tetap menggunakan lafal ini maka tidak mengapa karena lafal tersebut sudah memenuhi syarat-syarat yang sudah digariskan oleh para ulama.

Maka setiap orang boleh berniat dengan bahasanya masing-masing akan tetapi harus mencakup syarat-syarat diatas.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...