Home Khazanah Islam Ramadhan Sebentar Lagi, Apa Yang Harus Di Persiapkan?

Ramadhan Sebentar Lagi, Apa Yang Harus Di Persiapkan?

Bulan Ramadan adalah bulan yang memiliki kedudukan tersendiri dalam syariat Islam. Bulan yang mana setiap muslim sejati akan merasakan rindu ketika disebut namanya. Bulan dimana Allah Ta’ala membuka pintu-pintu rahmat dan ampunan. Bulan dimana kebaikan yang dikerjakan di dalamnya akan dilipatgandakan.

Bulan Ramadan memiliki berbagai keutamaan yang telah Allah siapkan. Di antaranya, Bulan Ramadan adalah waktu dimana Al-Quran Al-Karim diturunkan ke langit dunia tepatnya pada malam Lailatul Qadr, sebagaimana firman Allah ta’ala,

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dan juga firman-Nya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkanya (Al-Quran) pada malam qadr.” (QS. Al-Qadr: 1).

Bulan Ramadan juga merupakan bulan dibukanya pintu-pintu Surga, dan ditutupnya pintu-pintu Neraka. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits,

عن أبي هريرة –رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: إذا جاء رمضان؛ فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين

Dari sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila telah datang Bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, dan pintu-pintu neraka akan ditutup, dan syaithan-syaithan akan dibelenggu.” (HR. Muslim no. 1079)

Dan masih banyak lagi keutaman-keutamaan yang lain, yang menjadikan bulan ini lebih tinngi derajatnya dari bulan-bulan yang lain.

Maka dengan segala keutaman dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadan, serta kedudukannya dalam syari’at, hendaknya seorang muslim  memposisikan bulan Ramadan sebagai tamu yang istimewa, yang patut untuk disambut dengan suka cita, syukur, dan persiapan yang matang.

Atas dasar itu penulis mencoba berbagi dan menukil beberapa wasiat dalam menyambut Bulan Ramadan, sebagai pedoman mempersiapkan pribadi dalam menyambut bulan yang benuh berkah.

Pertama: Menumbuhkan keimanan dan rasa rindu untuk berbuat ketaatan kepada Allah Ta’ala

Karena dengan kuatnya keimanan kepada Allah, segala yang diperintahkan oleh-Nya akan menjadi mudah, dan segala yang dilarang oleh-Nya akan rela kita tinggalkan. Oleh karena itu, keimanan adalah modal utama dalam menghadapi bulan Ramadan.

Cara terbaik dalam menambah keimanan, adalah dengan menambah ketaatan kita kepada Allah Ta’ala, baik dari sisi intensitas maupun kualitas. seperti memperbanyak sholat sunnah, membaca Al-Quran, mentadabburi ayat-ayat Allah ta’ala.

Poin yang kedua adalah menumbuhkan rasa rindu dalam berbuat ketaatan kepada Allah, poin yang kedua ini tidak kalah pentingnya, ia selayaknya bahan bakar utama kita untuk menghadapi bulan Ramadan.

Ada banyak sekali cara untuk meumbuhkan rasa rindu, diantara adalah dengan menyesali waktu yang telah kita habiskan untuk selain ketaatan kepada Allah, dan juga dengan meniti jejak para salaf dan semangat mereka untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan juga mengingat tujuan adanya kita di dunia ini. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56).

Kedua: Mencari Tahu Keutamaan-Keutamaan Bulan Ramadhan

Para ulama mengatakan bahwasanya diantara cara untuk menembah kesungguhan kita dalam beribadah, adalah dengan mengetahui keutamaan tiap-tiap ibadah. Begitu juga dengan bulan Ramadan dan amalan-amalan di dalamnya.

Dan telah banyak kita temui karangan para ulama yang membahas tentang keutaman-keutamaan amalan seperti: kitab Riyadhush Sholihin karangan Imam Nawawi, kitab At-Targhib wa At-Tarhib, kitab Lathoiful Ma’arif  karangan Ibnu Rajab rahimahumullah.

Ketiga: Membiasakan Diri Untuk Mengerjakan Ketaatan Kepada Allah Ta’ala

Sebagian dari kita, kadangkala berazam atau bertekad kuat untuk mengerjakan berbagai amalan dalam bulan Ramadan, namun ketika bulan Ramadan datang, keinginan itu hilang begitu saja. Sebabnya adalah kurangnya mebiasakan diri dalam amalan tersebut, sebagaimana otot ketika kurang dilatih maka akan terasa kaku ketika mengangkat beban berat.

Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat menjelaskan, diantara cara untuk mempersipakan diri menghadapi amalan yang sifatnya wajib adalah dengan membiasakan diri dengan amalan sunnah.

Keempat: Mencari “Partner

Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an anjuran untuk memilih teman yang shaleh. Allah ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ  وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا  وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah berpaling kedua matamu dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta memperturuti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Maka mencari dan memilih teman yang dapat menjadi qudwah (contoh), dan dapat mendukung dan memotivasi kita dalam amal kebaikan adalah pilihan terbaik dalam menghadapi datangnya bulan Ramadan.

Kelima: Mempelajari Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Puasa dan Bulan Ramadhan

Diantara amalan paling mendasar dan juga paling mulia adalah puasa Ramadan, ibarat orang yang ingin melakukan salat,  mempelajari tatacara salat dan hukum yang berkaitan dengannya adalah cara agar salat itu dapat dikerjakan dengan baik dan benar, maka demikian pula puasa.

Ada banyak cara dalam mempelajari hukum-hukum seputar puasa, mendatangi majlis-majlis ilmu, atau dengan menelaah kitab-kitab para ulama seperti Zaadul Ma’ad karangan Ibnul Qoyyim, Fiqhu Sunnah karangan Sayyid Sabiq.

Keenam: Sabar dan Istiqomah

Sabar adalah kunci dalam menjalankan amalan kebaikan, sehingga sebuah amalan dapat terus berkelanjutan, demikian juga istiqomah, bahkan dikatakan bahwa istiqomah adalah sebaik-baik karomah. Wallahu ta’ala a’lam.

Demikian wasiat-wasiat yang dapat kami nukilkan, semoga Allah menjaga keikhlasan kita semua, memperpanjang umur kita dan mempertemukan kita dengan bulan Ramadan, Aamiin.

 

Referensi :

Fathul Qadiir Al-Jamii baina fannai Dirayah wa Ar-Riwayah-Surat Al-Baqarah. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Al-Imam Asy-Syaukani. Dar Ar-Risalah Al-Alamiyyah.

Al-Qawaid Al-Hassan fi Asrori Ath-Tha’ah wal Isti’dad li Ramadhan. Cetakan ketiga, Tahun 1420 H. Abu Muhammad Ridho Ahmad Shomady. Maktabah Al-Fahid: Jeddah.

Ahaadits Syahri Ramadhan. Cetakan pertama, Tahun 1418 H.  Abul Yamin Ibn ‘Asakir. Dar Ibn Affaan.

Hisban Hamid Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Saud Islamic University (LIPIA Jakarta) Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...