Home Fiqih Ta'aruf Berduaan, Bolehkah?

Ta’aruf Berduaan, Bolehkah?

Ta’aruf atau yang dikenal dalam fiqih klasik  dengan istilah “Nadhor” adalah proses yang dianjurkan dalam syariat islam. Proses ini dilakukan sebelum pernikahan, tujuannya adalah untuk saling mengenal dan menimbulkan rasa ketertarikan diantara kedua belah pihak sebelum melangsungkan ikatan pernikahan.

Nadhor sendiri begitu dianjurkan agar nantinya tidak ada rasa penyesalan yang timbul setelah pernikahan. Karena syariat sangat memperhatikan kemaslahatan bagi setiap orang. Dengan adanya proses ini setiap orang bisa menimbang-nimbang apakah akan melanjutkan kejenjang yang lebih serius atau justru mencukupkan disitu saja.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إلَى مَا يَدْعُوهُ إلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ

Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang wanita, jika memungkinkan untuk melihat sesuatu (dari wanita tersebut) yang membuat kalian tertarik untuk menikahinya, maka lakukanlah. )HR Abu Dawud)

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni mengatakan,

لَا نَعْلَمُ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ خِلَافًا فِي إبَاحَةِ النَّظَرِ إلَى الْمَرْأَةِ لِمَنْ أَرَادَ نِكَاحَهَا

“Kami tidak mengetahui dari kalangan ahlu ilmi perbedaan pendapat tentang kebolehan untuk melihat wanita bagi laki-laki yang berhasrat untuk menikahinya.” (Al-Mughni 7/96)

Ibnu Qudamah menukil kesepakatan bahwa para ulama telah sepakat tentang kebolehan proses nadhor ini, hanya saja ada sedikit perbedaan dikalangan para ulama tentang bagian mana saja yang boleh dilihat dari badan wanita.

Kemudian kebolehan ini tidak bersifat mutlak, artinya ada rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam proses nadhar ini, seperti hendaknya proses ta’aruf atau nadhor dihadiri pihak lain sebagai perantara agar terhindar dari fitnah. Itu artinya nadhor mandiri, atau nadhor yang dilakukan berdua-duaan saja tidak diperbolehkan.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni menjelaskan,

ولا يجوز له الخلوة بها لأنها مُحرّمة ، ولم يَرد الشرع بغير النظر فبقيت على التحريم

Lelaki yang melamar, tidak boleh berduaan dengan wanita yang dilamarnya, karena ini haram. Dan tidak ada dalil yang menyebutkan pengecualian larangan ini, ‘kecuali nadzar’. Sehingga kembali kepada hukum diharamkan. (Al-Mughni, 7/453).

Karena berdua-duaan ketika nadhor bisa membuat keduanya jatuh dalam perkara yang diharamkan

Berdua-duaan ketika nadhor tidak dibolehkan, karena perbuatan ini bisa saja mengundang fitnah, terlebih karena kedua-duanya masih berjiwa muda, tentunya sangat mudah untuk jatuh dalam perangkap syaithan, maka sebisa mungkin untuk menghindari berdua-duaa sebagaimana rasulullah pernah mengingatkannya dalam sebuah hadist,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Tidaklah seorang laki-laki berduaan kecuali yang ketiganya adalah syaithan (HR. Tirmidzi)

Hendaknya Ta’aruf itu dilakukan dirumah si wanita, karena itu lebih menghormatinya dan kemudian juga dihadiri oleh pihak keluarga sehingga aman dari fitnah dan lebih resmi serta lebih terjaga. Atau juga ta’aruf bisa dilakukan disuatu tempat dengan syarat hadirnya pihak ketiga sebagai perantara agar terhindar dari fitnah. Adapun hanya berdua-duaan disuatu tempat, ,meskipun tujuannya baik tetap tidak dibolehkan dalam syariat ini.

Kemudian Imam Ibnu Qudamah menuliskan beberapa poin penting yang harus dijaga ketika sedang melakukan proses ta’aruf:

  1. Tidak boleh berduaan
  2. Tidak boleh memandangnya dengan syahwat, seperti memandang tajam kearahnya dengan penuh penghayatan sampai-sampai menimbulkan syahwat.
  3. Boleh mengulang-ulang pandangan. Sesekali memandang kemudian menunduk dan mengulanginya lagi sembari memperhatikan keindahan wanita yang dilihatnya.
  4. Bagian yang boleh dilihat dari wanita yang dinikahi hanyalah wajah dan telapak tangan saja (menurut mayoritas ulama)
Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca surat al Kahfi di hari jumat salah, Benarkah ?

Perlu diketahui bahwa secara umum ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang dianjurkan membaca surat-surat tertentu pada hari jumat, seperti surat Yasin, al Kahfi, dan...

Apa itu Hatibul Layl ?

  حاطب ليل Pencari kayu bakar di malam hari. Sebenarnya gelar ini digagas oleh para kritikus riwayat terhadap sekian banyak ulama dan perawi ketidak mampuannya dalam membedakan...

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...