Home Aqidah Bertanya Ke Dukun, Kafirkah?

Bertanya Ke Dukun, Kafirkah?

Iman kepada perkara yang ghaib merupakan rukun iman yang harus diimani oleh setiap orang islam. Namun perkara ghaib disini adalah perkara ghaib yang dikabarkan oleh Allah dan rasulnya. Adapun jika ada manusia yang mengaku bahwa ia bisa melihat atau meramal sesuatu yang ghaib, seperti meramal sesuatu yang akan terjadi dimasa depan, maka tentu ini tidak boleh dipercaya. Karena hanya Allahlah yang mengetahui masa depan.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..” [An-Naml/27: 65]

Manusia-manusia yang mencoba meramal masa depan dikenal dengan istilah dukun, atau paranormal dan sejenisnya. Mereka mengaku bahwa bisa melihat masa depan, meramal nasib seseorang, padahal apa yang keluar dari lisan mereka adalah kedustaan dan kekufuran.

Namun sayangnya banyak manusia yang lalai dari agamanya, sehingga banyak diantara mereka yang mendatangi dukun dengan tujuan yang beragam. Padahal mendatangi mereka adalah kesalahan yang sangat fatal, bahkan termasuk kedalam dosa-dosa besar, bahkan dalam beberapa keadaan perbuatan tersebut dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya.

Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa mendatangi ‘arrâf (paranormal) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya shalat 40 hari. (HR. Muslim)

Maksud shalatnya tidak diterima adalah pahalanya tidak ada, namun ia tetap harus shalat dan tidak gugur kewajiban shalatnya.

Syaikh utsaimin dalam kitabnya  Qaulul Mufid merincikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat seseorang tidak diterima shalatnya atau bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari agamanya:

  1. Sekedar bertanya saja. Ini hukumnya haram berdasarkan hadist diatas dan sha;atnya tidak diterima.
  2. Bertanya kepada dukun, meyakininya, dan menganggap (benar) perkataannya. Ini kekafiran, karena pembenarannya terhadap dukun tentang pengetahuan ghaib, berarti mendustakan terhadap Al-Qur’an.
  3. Bertanya kepada dukun untuk mengujinya, apakah dia orang yang benar atau pendusta, bukan untuk mengambil perkataannya. Maka ini tidak mengapa, dan tidak termasuk larangan dalam hadits di atas. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad untuk mengujinya.
  4. Bertanya atau berdebat dengan dukun untuk menampakkan kelemahan dan kedustaannya, maka ini dianjurkan bahkan bagian dari dakwah.
Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...

Menghayati Kandungan Surat Yusuf Ayat 86

by: Riza Ashfari Mizan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالى berfirman, قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah...

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...