Home Fiqih Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis, Bolehkah?

Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis, Bolehkah?

Mengucapkan salam merupakan syiar islam yang agung, karena dalam ucapan tersebut terkandung banyak do’a dan kebaikan. Disamping itu, saling mengucapkan salam akan menghadirkan keakraban dan rasa saling menhormati antara satu dan lainnya.

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya (HR Bukhari)

Imam shan’ani ketika  mengomentari hadist ini berkata:

“Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.”

Jika mengucapkan salam adalah hak dan tidak boleh ditinggalkan, lalu bagaimana jika laki-laki dan wanita yang bukan mahram berpapasan, lantas bolehkan salah satu dari keduanya mengucapkan salam terlebih dahulu?

Imam bukhari dalam kitab shahihnya membuat bab “Hukum Lelaki Mengucapkan Salam kepada Wanita dan Wanita Mengucapkan kepada Lelaki.” kemudian mencantumkan beberapa hadist, diantaranya hadist dari sahl bin sa’ad berkata,

 كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا  فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا

Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan- dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek-yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari)

Dalm hadist lain dari asma’ binti yazid berkata:

مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud)

Dari kedua redaksi hadist diatas terlihat bahwa nabi dan para shabatnya pernah memberi salam kepada wanita, dan ini menunjukan kebolehan untuk memberi salam kepada lawan jenis, baik laki-laki terlebih dahulu atau perempuan terlebih dahulu.

Ibnu hajar dalam kitabnya fathul baari mengomentari hadist diatas sembari membantah pendapat yang tidak membolehkan wanita memberi salam kepada laki-laki, beliau berkata,

وَالْمُرَادُ بِجَوَازِهِ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ

Adapun maksud dari kebolehan memberikan salam (kepada lawan jenis) adalah ketika merasa aman dari fitnah

Kemudian Ibnu hajar melanjutkan

النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعِصْمَةِ مَأْمُونًا مِنَ الْفِتْنَةِ فَمَنْ وَثِقَ مِنْ نَفْسِهِ بِالسَّلَامَةِ فَلْيُسَلِّمْ وَإِلَّا فَالصَّمْتُ أَسْلَمُ

“Nabi salallahu ‘alaihi wasalam karena kemaksumannya terjaga dari fitnah, maka barang siapa yang merasa yakin bahwa ia akan terhindar dari fitnah maka hendaknya ia memberi salam, dan apabila tidak, maka diam lebih selamat.”

Dari sini dapat diambil  kesimpulan bahwa memberi salam kepada lawan jenis itu boleh dengan syarat terhindar dan aman dari fitnah. Namun jika ia merasa dan takut terjatuh pada fitnah, maka hendaknya diam lebih baik sembari menundukan pandangan.

Mungkin laki-laki memberi salam terlebih dahulu kepada wanita yang lebih tua darinya, atau perempuan memberi salam kepada laki-laki yang lebih tua darinya sebagai bentuk rasa hormat sebagaimana yang sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat kita.

Tapi jika ternyata yang saling berpapasan adalah laki-laki dan wanita yang sebaya, atau masih sama-sama single, terlebih apabila tidak saling mengenal, maka tentu baiknya tidak mengucapkan salam karena dikhawatirkan jutsru akan menjadi fitnah bagi keduanya.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...