Home Fiqih Menghadiri Walimah Dalam Keadaan Berpuasa, Apa Yang Harus Dilakukan?

Menghadiri Walimah Dalam Keadaan Berpuasa, Apa Yang Harus Dilakukan?

Menghadiri undangan walimah (pernikahan) adalah suatu kewajiban sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist diatas rasulullah menggunakan lafal perintah yang tegas, ini menunjukan bahwa menghadiri undangan walimah  merupakan sebuah kewajiban dengan catatan bahwa walimah yang diadakan sesuai dengan ketentuan syariat.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang menghadiri walimah sementara ia dalam keadaan berpuasa, apa yang harus dilakukan? Apakah ia harus ikut menyantap hidangan bersama tamu yang lain, atau cukup datang saja dan mendoakan kebaikan kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia?

Dalam menjawab pertanyaan ini, ada 3 hal yang harus diperhatikan:

  1. Menghadiri undangan pernikahan hukumnya tetap wajib meskipun ia sedang berpuasa, baik itu puasa wajib atau puasa sunnah.
  2. Apabila ia sedang menghadiri walimah sementara ia sedang mengerjakan puasa wajib, seperti puasa qadha’ atau puasa nadzar maka hendaknya ia tetap datang dan mendoakan pengantin tanpa harus ikut menyantap hidangan bersama tamu yang lain.
  3. Apabila ia menghadiri walimah sementara ia sedang mengerjakan puasa sunnah, seperti puasa senin kamis dan sebagainya, maka dalam hal ini ada 2 pendapat dikalangan para ulama.

Pendapat pertama: Hendaknya ia tetap berpuasa

Ibnu Abdin seorang ulama bermadzhab Hanafi di dalam kitabnya Raddu Al-Mukhtar ala Durr Al-Mukhtar berkata :

فإن كان صائما أجاب ودعا، وإن لم يكن صائما أكل ودعا، وإن لم يأكل ولم يجب أثم

“Apabila ia dalam keadaan berpuasa maka dia wajib memenuhi undangan dan mendo’akan, dan apabila dia tidak dalam keadaan berpuasa maka dia boleh makan dan mendo’akan, dan apabila dia tidak makan dan tidak memenuhi undangan maka dia berdosa.”

Ibnu Juzai Al-Kalbi seorang ulama bermadzhab maliki  di dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berkata :

وهو في الأكل بالخيار ويحضر الصائم فيدعو

“Untuk urusan makan, para undangan boleh memilih untuk makan atau tidak. Jika orang yang berpuasa hadir, maka dia hendaknya mendoakan.”

Pendapat pertama berpandangan bahwa tujuan dari menghadiri undangan adalah untuk memenuhi hak pengantin untuk di doakan, adapun makan-makan maka itu bukanlah tujuan utama, sehingga ia hendaknya tetap melanjutkan puasanya.

Pendapat kedua: Hendaknya ia berbuka

Imam Nawawi seorang ulama bermadzhab Syafi’i di dalam kitabnya Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab berkata :

وان كان تطوعا فالمستحب أن يفطر، لانه يدخل السرور على من دعاه، وان لم يفطر جاز

“Dan apabila puasanya adalah puasa sunnah maka sebaiknya berbuka karena akan memberi kebahagiaan bagi yang mengundang. Kalaupun tidak ingin berbuka boleh-boleh saja”

Ibnu Qudamah seorang ulama bermadzhab hambali  di dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berkata:

وإذا دعي الصائم، لم تسقط الإجابة، فإذا حضر وكان الصوم واجبا، لم يفطر. وإن كان تطوعا، استحب له الفطر

“Apabila seorang yang berpuasa diundang untuk menghadiri walimah, maka tetap wajib menghadirinya. Apabila ia hadir sementara ia berpuasa wajib, maka tidak boleh membatalkan puasanya. Dan apabila ia berpuasa sunnah maka disunnahkan baginya untuk membatalkan puasanya (dan makan bersama tamu undangan)”

Pendapat kedua ini beranggapan bahwa ikut menyantap hidangan bersama tamu undangan lain termasuk dalam perbuatan menyenangkan hati orang yang mengundang, sehingga dengan tidak ikut menyantap hidangan ditakutkan akan melukai hati orang yang mengundang.

Menyenangkan hati orang lain adalah sebuah kewajiban, sementara puasa sunnah adalah anjuran, tentu apabila keduanya bertemu maka yang wajiblah yang lebih diprioritaskan.

 

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...