Home Tafsir Mufassir Karbitan

Mufassir Karbitan

Belakangan sangat banyak kita temukan orang-orang yang sebenarnya bukan ahli dalam bidang Al-Qur’an menafsir ayat-ayat Allah seenak lidahnya, meletakkan ayat untuk perkara yang sangat jauh konteksnya dengan maksud ayat tersebut, bicara tentang ayat Allah seolah benar-benar faham apa tujuan ayat tersebut diturunkan.

Lebih jauh lagi bahkan ada yang berpendapat bahwa semua orang berhak menafsirkan maksud dari ayat karena kebenaran mutlak hanya milik Allah, dan yang paling tau tentang maksud ayat adalah Allah dan rosulnya. Jadi semua orang bebas membangun pemahaman atas suatu ayat, walaupun dia tidak memahami bahasa Arab dan juga tidak memahami ilmu Ushul bahkan jika dia kafir sekalipun.

Seperti itu? Benarkah ?

Ayat yang selalu membuat seorang mukmin agar berhati-hati atas apa yang ia katakan dalam masalah apapun, Alloh SWT berfirman :

لَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra: 36).

Rosulullah sallalalhu alaihi wasalam juga bersabda,

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR Ibnu Abi Syaibah).

Dua dalil di atas sudah sangat cukup untuk membuat orang tahu diri dengan kapasitas keilmuannya agar tidak sembarang dalam berargumen mengenai ilmu yang paling sakral di dunia ini. Bagaimana mungkin dinalar, orang yang yang tidak mengakui Allah sebagai satu satunya tuhan yang berhak disembah dipersilahkan dengan santun untuk menafsirkan Al- Qur’an, atau orang yang baru belajar bahasa Arab sekali atau dua kali kemudian berani beristinbath dan berhukum dengan akalnya yang sangat terbatas tentang ilmu syariat, dimana adabnya?

Lihatlah bagaimana para Ulama sangat ketat dalam menentukan siapa saja yang boleh menafsirkan Al Qur’an. Imam Abi Thalib At thabari berkata di awal kitab tafsirnya :

“Ketahuilah di antara syarat seorang mufassir yang paling mendasar adalah aqidah yang benar dan mengetahui ilmu hadist, sungguh apabila agamanya rusak (munafik) maka dia tidak akan amanah terhadap perkara dunia, apalagi masalah agama, dia tidak akan amanah dalam menyampaikan perkara agama dari seorang ‘alim, lalu bagaimana mungkin dia akan amanah mengemban ilmu tentang rahasia yang tersembunyi dalam ayat-ayat Allah jika aqidahnya menyimpang seperti kaum Syi’ah rafidhoh.“

Itu adalah hal paling mendasar yang wajib dimiliki oleh seorang mufassir, aqidah yang benar dan ilmu hadist saja, apakah cukup ?

Imam Suyuthi menjelaskan, seorang dibolehkan menafsirkankan Al Qur’an apabila menguasai 15 ilmu , jika diklasifikasikan secara umum saya memilahnya menjadi 7 ilmu :

Pertama, bahasa Arab, mencangkup ilmu Nahwu, Shorof, dan balaghoh (ma’any, bayan, dan badi’), bukan sekedar, akan tetapi menguasai dan memahami setiap bagian dari cabang ilmu bahasa Arab secara mendetai.

Sebagaimana perkataan Imam Mujahid : “tidaklah pantas bagi seorang yang mengaku beriman kepada Alloh dan hari akhir berbicara tentang kitab Alloh apabila ia tidak menguasai bahasa Arab”.

Kedua, ilmu qiraat, karena dengan ilmu tersebut seorang mufassir dapat mengetahui perbedaan penyebutan, harokat ,bahkan perbedaan kata dari kalimat2 yang terdapat dalam Al Qur’an dan hal itu hanya bisa diketahui dengan mempelajari ilmu qiraat secara mendalam, karena ilmu tersebut sangat berpengaruh terhadap maksud dari ayat.

Ketiga, Ushul fiqh, adalah salah satu ilmu yang paling menunjang untuk mengetahui dan menghasilkan hukum dari suatu ayat, karena dengan ilmu inilah para ulama’ beristinbath dan menetapkan hukum-hukum syariat, didalamnya mencakup, naskh mansukh, lafadz ‘aam dan khos, mutlaq muqoyyad, ijma’, qiyas, istishab dll.

Keempat, Asbabun Nuzul, wajib bagi seorang mufassir untuk mengetahui sebab diturunkannya ayat, karena hal itu dapat membantu mufassir mengetahui makna ayat dan kapan ayat tersebut dapat dijadikan dalil.

Kelima, ilmu fiqh, kaidah-kaidah yang terdapat dalam ilmu ini sangat berpengaruh untuk melihat apakah dalam ayat terdapat hukum yang bisa diambil.

Keenam, menguasai ilmu hadist dan hadist-hadist yang menjelaskan perkara-perkara mubham (tidak jelas maknanya) dan mujmal (umum) dalam Al Qur’an.

Ketujuh, ilmu Al-mauhibah, ini adalah ilmu yang diberikan kepada Alloh pada hambanya yang benar-benar bertaqwa dan selalu melakukan apa yang dia ketahui dari perbuatan baik, dan ilmu ini adalah isyarat dari sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam:

“Barangsiapa yang mengamalkan hal yang ia ketahui dari perkara agama maka Alloh akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui”.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah kecerdasan yang diberikan kepada hambanya yang beriman, sehingga ia bisa menyingkap rahasia-rahasia di balik ayat Allah yang tidak diketahui kebanyakan manusia, seperti kisah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘Anhu ketika ditanya oleh Umar bin Khattab mengenai tafsir surat An nasr.

Bayangkan, sebegitu ketat para ulama’ memberi syarat bagi orang yang boleh menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, tentu saja agar tidak sembarang orang berbicara mengenai Al-Qur’an dengan hawa nafsunya, menerjemah, memaknai, dan meletakkan ayat tidak pada tempatnya, menuruti hawa nafsu untuk kepentingan personal dan kelompok, untuk menjilat demi perkara dunia, semua hal itu akan membuat agama ini bubar dan Al-Qur’an tidak lagi memiliki nilai.

Untuk itulah sekiranya kita tidak tahu atau tidak mampu, hendaklah membawa maksud dari ayat yang belum kita fahami pada ulama yang memiliki otoritas dalam masalah tafsir.

Ahmad Hudzaifah Lc.
Alumni Imam Muhammad Bin Saud Islamic University (LIPIA Jakarta) Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...