Home Fiqih Air Suci Dan Air Najis

Air Suci Dan Air Najis

Air Suci Tapi Tidak Menyucikan

Yang dimaksud dengan air suci tapi tidak menyucikan adalah  air yang dihukumi suci tapi tidak bisa digunakan untuk aktifitas bersuci, baik itu untuk mengangkat hadas ataupun untuk menghilangkan najis. Akan tetapi air ini masih bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari kita, seperti memasak, minum dam lain-lain.

Air jenis ini terbagi ke dalam dua kelompok :

1. Air musta’mal 

Air Musta’mal  adalah air bekas basuhan dari anggota-anggota tubuh yang wajib dibasuh ketika bersuci, baik itu bersuci dari hadas, seperti basuhan pertama muka ketika wudhu ataupun air basuhan pertama yang digunakan untuk membersihkan najis. Adapun air yang bekas digunakan untuk bersuci yang sifatnya sunnah tetapi hukumnya suci lagi menyucikan tidak menjadi mustakmal, seperti air basuhan muka yang kedua atau ketiga ketika berwudhu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa basuhan kedua dan ketiga itu sunnah, bekas mandi sunnah, tajdidul wudhu (meperbarui wudhu’ saat wudhunya masih belum batal) dan lain-lain.

2. Air yang berubah sifatnya

Maksudnya adalah air mutlak yang berubah salah satu sifatnya (dari rasa, warna dan baunya ), serta perubahannya mencolok, jika disebabkan oleh benda yang mungkin bisa dicegah atau mudah dihindari dari percampurannya. Contohnya seperti teh, kopi, gula, sabun, shampoo dan lain-lain. Jika air yang berrubah disebabkan teh serta perubahan yang terjadi pada air itu mencolok atau banyak maka dia menjadi air teh, dan air teh itu suci tapi tidak bisa kita gunakan untuk bersuci.  Adapun air mutlak yang berubah sifatnya disebabkan faktor yang tidak bisa dihindari hukumnya tetap suci lagi menyucikan. Contohnya seperti air yang berubah sifatnya disebabkan oleh lumut, daun-daun pohon (jika sumber air seperti di dalam hutan), atau di dalam tanah dan lainnya.

Air Najis

Yang dimaksud dengan air najis adalah air mutlak yang dibawah dua qullah (kurang dari 216 liter) kemudian jatuh ke dalamnya benda najis ataupun airnya banyak, lebih dua qullah tetapi berubah salah satu sifatnya. Air jenis ini sudah pasti jelas ketidak suciannya. Jika air yang dua qullah tadi tidak berubah sama sekali atau salah satu dari sifat-sifatnya maka tetap hukumnya itu suci lagi menyucikan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam,

إذا كان الماء قُلَّتينِ لم يحمل الخَبَث

“Jika air itu sebanyak dua qullah tidak ternajisi “ (H.R. Abu Daud)

Berdasarkan hadis ini juga bisa dipahami bahwasanya air itu ternajisi jika jatuh kedalamnya najis sedangkan airnya dibawah dua qullah, walaupun tidak berubah salah satu sifatnya. Adapun dalil najisnya air dua qullah yang kejatuhan najis jika berubah salah satu sifatnya adalah ijmaknya (kesepakatan) semua ulama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...