Home Khazanah Islam Allah, Mengapa Engkau takdirkan aku begini?

Allah, Mengapa Engkau takdirkan aku begini?

Duhai, apa yang kita rasakan saat menatap rembulan, menatap langit? Apakah kita akan menyesap sesaknya kerinduan? Atau justru memunculkan ribuan pertanyaan tentang kehidupan?

Tentang takdir apa yang sebenarnya ditetapkan untuk kita oleh pencipta langit, Sang kholiq,? Atau kita justru akan segera mengutuk kehidupan? Kemudian Menghujat langit atas sebuah takdir yang kita anggap sebagai keburukan?

Dia yang ditimpa sakit berkepanjangan, merasa bahwa hidup penuh ketidakadilan, memejamkan mata sambil merapalkan pertanyaan pada Al-Qoodir tentang mengapa ia ditimpa penyakit. Maka lihatlah, bagaimana Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar bahagia untuknya:

مَا من مُسلم يُصِيبهُ أَذَى من مرض فَمَا سواهُ الا حط الله سيئاته كَمَا تحط الشَّجَرَة وَرقهَا

“Tidakalah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR.Bukhory Muslim).

Allahu Akbar! Allah hapuskan dosa-dosanya bagai daun yang berguguran. Tentu jika ia ikhlas menerima ketetapan Rabbnya, dan sabar dalam menjalaninya.

Atau dia yang buta, dia meraba matanya, lalu mendongak kelangit-Nya, bertanya tentang mengapa Allah tak memberikannya mata, atau mengapa Tuhan merampas pengelihatnya yang dulu ada? Hei, bukankah Allah justru telah melepaskannya dari banyak peluang dosa yang disebabkan oleh mata? Berapa banyak orang yang memiliki pengelihatan normal tapi justru menghantarnya pada amalan ahli neraka? Allah justru telah menyelamatkannya.

Atau si bisu yang meraba mulutnya yang tak bisa bersuara, sambil mendongak menghujat Sang pencipta, “Mengapa kau lahirkan aku kedunia tanpa bisa berbicara, Tuhan?” Maka wahai, berapa banyak manusia yang dengan kepandaiannya berbicara justru menghantarnya pada perbuatan dosa? Ia berkata dusta, ia menggunjing, ia jadikan nikmat berbicara justru sebagai sarana untuk bermksiat kepada-Nya. Bukankah Tuhan telah melindunginya dari salah satu sebab dosa dan sebab masuknya dia pada neraka?

Atau dia yang tuli juga bertanya hal yang sama? Padahal Allah telah selamatkannya dari mendengar segala yang haram? Pun segala jenis kekurangan lainnya, juga musibah kehidupan yang kita angap sebagai keburukan. Padahal boleh jadi Allah justru menghendaki kebaikan untuk kita.

Maka mari kita baca surat cinta dari Arrahman untuk kita .

وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu ; Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al-Baqoroh : 216)

Alanglah indahnya surat dari Ar-Rahman ini untuk kita. Yang karena kita tidak tau hakikat dan hikmah sesuatu, kita lantas bisa seenaknya menilai baik-buruk dengan persepsi lemah kita.

Karena bagi kita yang merasa ditimpa musibah, adalah kabar bahagia atas peluang pahala sabar. Jikalau Allah tak berikan musibah, kesulitan, kekurangan, dan kesempitan, lalu dari mana kita akan mendapatkan pahala sabar?

Dan jika Allah memberikan setiap manusia sama rata, tanpa kekurangan, lalu dari mana kita akan mendapatkan pahala syukur?

Jikalau tujuan kita diciptakan didunia hanya untuk beribadah kepada-Nya jugamenggapai ridha-Nya, maka tidak peduli dari mana jalan yang diberikan untuk mencapainya, sabar ataupun syukur, yang keduanya senjata ampuh kita agar dalam keadaan apapun yang Allah tetapkan, kita bisa selalu mendapatkan keridhaan dari-Nya. Dan tentunya sabar dan syukur senjata kita agar kita bisa selalu bahagia dalam setiap situasi yang menimpa.

Bukankah Allah juga telah memberikan kabar gembira bagi hamba-hambanya yang sabar dalam menjalani hidup dinunia, ketika mereka memasuki Syurganya dan malaikat menyambutnya sambari berucap:

سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار

“Salam sejahtera untuk kalian berkat kesabaran kalian” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan ini. (QS.Ar-Ra’ad : 24)

Lalu Allah juga berikan kabar gembira bagi kita yang bersyuur kepada-Nya, Allah berfirman :

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan aku tambah (nikmat) kepadamu”

Namun juga memperingati kita dari kufur akan nikmatnya dengan berkata :

ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

“Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih. (QS.Ibrohim :7)

Maka wahai, tataplah langit sekali lagi. Lalu pikirkanlah tentang semua nikmat yang telah Dia berikan.

Bayangkanlah! Bagaimana kalau nafas kita dijeda sepuluh detik saja? Bagaimana kalau pita suara kita hilang seketika? Bagaimana jika jantung kita mendadak berhenti dari detaknya, lalu kaki kita tiba-tiba,lumpuh tak berdaya, atau mata kita menjadi buta? Dan lidah kita tak lagi bisa merasa, kulit kita tak bisa lagi meraba dan tak lagi peka? Atau tubuh kita , kaki, tangan, menjadi kaku?

Juga bagaimana jika hati, jantung, paru-paru, lambung, usus, dan organ tubuh kau di gerogoti penyakit yang tiada sembuhnya?

Aduhai, kurang apa nikmat yang telah Tuhan berikan? Bagaimana mungkin kita dengan mudahnya mengingkarinya, mendongak kelangit, menatap marah atas takdir hidup yang kita anggap tidak baik. Tahu apa kita akan hal ghaib? Seolah kita bisa meraba kehendak-Nya, lancang menghujatnya, bertanya penuh keangkuhan, “Mengapa Engkau takdirkan aku begini, Tuhan?”

Sungguh, kita tidak akan pernah bisa menghitung segala nikmat yang Arrahman berikan untuk kita, tak peduli bagi yang mengimaninya juga yang menentangnya.

وآتاكم من كل ما سألتموه وإن تعدوا نعمت الله لا تحصوها إن الإنسان لظلوم كفار

“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, kamu tidak akan dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah)”(QS.Ibrohim : 34)

 

Dengan segala nikmat yang telah Allah berikan itu, maka tidak akan lagi keluh atas segala kekurangan. Karena nikmatnya yang banyak ini tak terhitung oleh kita. Sekalipun kita kumpulkan seluruh batang dan ranting pohon yang ada di bumi untuk menjadi pena, lalu kita kumpulkan seluruh air yang ada pada semesta untuk menjadi tintanya, sungguh tidak akan cukup untuk menulis segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

 

Allahu A’lam

Ismi Khoiriyah
Mahasiswi LIPIA JAKARTA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...