Home Muamalah Merasa Aman Dengan Kehidupan Dunia? Baca Ini

Merasa Aman Dengan Kehidupan Dunia? Baca Ini

Sudah sepantasnya kita merasa takut dan tidak merasa aman dari fitnah dunia, kematian bisa datang sewaktu-waktu sementara kita belum tahu kemana jasad dan ruh akan menetap. Setiap fitnah adalah musibah, orang yang merasa aman dari musibah berarti ada yang bermasalah dengan hatinya. Dunia ini bukan tempat tinggal, tapi tempat mencari bekal untuk kehidupan yang kekal. Hal ini sebagaimana di katakan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

كن في الدنيا غريبا أو عابر السبيل

“Jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seorang Musafir”. ( H.R Bukhari)

Dan dikesempatan yang lain Rasulullah juga pernah bersabda :

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apalah artinya dunia ini bagiku? Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.” (HR. Bukhari)

Jika kita diumpamakan bak orang asing dan seperti seorang musafir, sementara dunia bagaikan pohon berteduh sejenak, apakah kita akan berteduh selamanya di bawah pohon sementara kita adalah seorang musafir, apakah kita akan merasa aman singgah di bawah pohon tersebut sementara kita tahu bahwa ada kehidupan abadi yang menunggu diujung jalan?

Bahkan jika kita sedikit menilik ke zaman sahabat, kita akan menemukan bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah salallahu alaihi wasalam ketakutan dan tidak merasa aman terhadap diri mereka sendiri. Apakah mereka termasuk hamba-hamba yang berhak masuk ke syurga atau justru merekalah yang nanti akan menjadi bahan api neraka.

Sahabat Ustman bin Affan apabila berdiri di dekat kuburan ia menangis, sampai basah jenggotnya kemudian berkata :

لو أنني بين الجنة و النار لا أدري إلى أيتهما يؤمر بي، لاخترت أن أكون رمادا قبل أن أعلم إلى أيتها أصير

“Kalau seandainya aku berada di antara syurga dan neraka, sementara aku tidak tahu kemana aku akan dimasukkan ke syurgakah atau neraka, tentu aku akan memilih menjadi butiran-butiran debu sebelum aku tahu kemana aku akan melangkah”.

Sahabat yang mulia Abu Darda’ juga pernah berkata :

لو تعلمون ما أنتم لاقون بعد الموت لما أكلتم طعام على شهوة و لا شريتم على شهوة و لا دخلتم بيتا تستظلون به و لخرجتم الى صعيد و تبكون على أنفسكم ولوددت أني شجرة تعضد و تأكل

“Kalau seandainya kalian tau apa yang akan kalian temui setelah kematian, maka kalian tidak makan dan minum dengan selera, dan kalian juga tidak akan masuk kerumah kalian untuk berteduh, dan sungguh kalian akan keluar dan menuju ke bukit kemudian kalian menangis diri kalian sendiri, dan sungguh kalau saja aku adalah pohon yang ditebang dan dimakan.”

Hal senada juga pernah dituturkan oleh sahabat yang mulia Abu Dzar, ia berkata:

يا ليتني كنت شجرة تعضد ولوددت أني لم أخلق.

“Kalau saja aku adalah pohon yang ditebang dan kalau saja aku tidak diciptakan”

Adapun Tamim Ad Dhari pernah disuatu malam membaca surat Al-Jatsiyah ; maka ketika sampai pada ayat:

  أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن تجعلهم كالذين أمنوا و عملوا الصالحات

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”

Ia mengulang ulang ayat ini dan menangis sampai fajar tiba.

Bahkan Imam Bukhari pun membuat Bab khusus dalam Kitab hadist fenomenalnya yang ia beri judul,

باب خوف المؤمن من أن يحبط عمله و هو لا يشعر

“Bab ketakutan seorang mu’min daripada dihapus amalannya sementara ia tidak mengetahuinya”

Renungkanlah bagaimana perhatian mereka terhadap diri mereka dan bagaimana keadaan mereka setelah kematian, padahal mereka adalah generasi terbaik umat Islam. Lalu, apalah daya kita manusia akhir zaman, yang mudah terlena dengan gemerlapnya hiburan dan hiasan dunia, lalu apakah kita merasa aman dengan kematian?

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu pernah berkata :

اليوم عمل و لا حساب و غدا حساب ولا عمل

“Hari ini yang ada hanyalah amal dan tidak ada hisab, akan tetapi esok yang ada hanyalah Hisab dan tidak lagi ada amal.”

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...