Home Fiqih Menggunakan Tisu untuk bersuci dari hadas, bolehkah?

Menggunakan Tisu untuk bersuci dari hadas, bolehkah?

Islam adalah agama yang agung dan tidak ada agama yang lebih agung darinya. Islam juga agama yang sangat sempurna. Perincian dan detail kehidupan. Mulai dari tata cara interaksi dengan Sang pencipta, juga muamalah dengan sesama manusia, bertetangga, makan dan minum bersama adabnya, diskusi ekonomi, rumah tangga, sampai dengan diskusi yang sederhana seperti bersuci dari hadas dan juga luput dari perhatian islam.

Seperti yang kita harapkan, Islam adalah agama yang memperhatiakan kebersihan. Oleh karena itu terdapat banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menerima orang-orang yang meminta kebersihan, terlepas dari firman Allah:

فيه رجال يحبّون أن يتطهّروا والله يحب المطهّرين

“Didalamnya masjid itu (Quba) ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesunnguhnya Allah Suka orang orang yang bersih. (Attaubah; 108)

Juga dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman;

 إن الله يحبّ التوّابين و يحب المتطهّرين

“Sesunnguhnya Allah menyukai orang-oran yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirimu.”

Kebersihan sementara masalah yang sederhana namun memiliki efek penting terhadap ibadah-ibadah lainnya. Sekaligus kebersihan juga menjadi tanda kebebasan seseorang dan kebersihan adalah bagian dari iman. Tidak heran jika islam mengundang perhatian terhadap kebersihan dan memuji orang-orang yang gemar menyucikan diri.

Air merupakan media utama yang digunakan untuk bersuci, namun terkadang kita dihadapkan dengan tidak adanya udara, sebagian besar yang melakukan perjalanan ke luar negeri misalnya, dan tidak mendapati udara di toilet umum. Jika kita dihadapkan dengan keadaan seperti ini, apa yang harus dilakukan? Dan bolehkah menggunakan media lain untuk bersuci selain udara?

Dalam pembersihan hadast, ada 2 cara yang bisa dilakukan,
1. Istinja ‘adalah bersuci dengan bersuci menggunakan udara.
2. Istijmaar yaitu bersuci dengan menggunakan batu atau sejenisya yang bisa digunakan untuk mennyerap dan membersihkan kotoran.

Sementara dalil kebajikan bersuci dengan selain diterbitkan adalah sabda rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى الغائط وأمره أن يأتيه بثلاثة أحجار ، فأخذ الحجرين ، وألق الروثة,

“Minta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air dan dia minta dibawakan tiga batu. (Sebelumnya dia beri izin 2 batu dan satu kotoran kering keledai). Lalu ia bawa dua batu dan buang kotoran kering keledai, dan bersabda:” Ini benda najis . (HR. Bukhari)

Dari hadis di atas ada beberapa kesimpulan penting yang bisa diambil

1. Bolehnya bersuci dengan selain udara, seperti batu dan media-media lain yang memiliki fungsi yang sama, seperti pasokan tambahan dan mengangkat kotoran. Diantaranya adalah tisu, tisu memiliki kemiripan yang sama dengan batu, yang mampu menyerap kotoran dan kemampuannya.
2. Istijmar atau bersuci dengan menggunakan batu tidak boleh kurang dari 3 batu.
3. tidak boleh bersuci dengan benda-benda najis seperti kotoran hewan yang mungkin memiliki kemiripan dengan batu dan bisa digunakan untuk membersihkan kotoran.

Itinjaa ‘atau istijmaar dilakukan setiap keluarnya sesuatu dari dua lubang (Qubul / dubur) keculi kentut. Setiap kita selesai buang hajat, maka kita siapkan untuk membersihkan diri, kemudian siapkan kita sudah terbebas dari sisa udara kecing dan kotoran dengan menggunakan air yang mensucikan, atau boleh juga dengan menggunakan batu tiga, bisa dilebihkan dengan lima, atau tujuh batu.

Jika kencing udara atau kotorannya berceceran maka diharuskan bersuci menggunakan air yang suci. Dan dapat diterima menggunakan batu atau sejenisnya, lalu pindah menggunakan air maka lebih diutamakan.

Ini adalah solusi ideal untuk mereka yang tinggal di negara-negara barat, karena ada masyarakat barat lebih sering menggunakan tisu untuk keselamatan kotoran karena udara. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini, dan islam sudah menyediakan solusinya dengan cara sederhana. Islam selalu memberikan solusi dan memfasilitasi bagi umat dalam menjalankan setiap aktivitasnya.

Maka bagi yang suka bepergian, atau ekspedisi alam, yang tidak diminta untuk menggunakan kompilasi udara hajat, dibagikan menggunakan benda-benda yang telah kami sebutkan sesuai dengan tulang belulang.

Sungguh dari sini telah nampaklah kesempurnaan Syariat Islam bahkan dari sisi yang begitu sederhana, yang tidak akan kita temukan dalam agama lain. Maka dalam agama ini tidak ada sesuatupun yang bermanfaat bagi manusia sebelum di jelaskan di dalam syariat dan dan digalakkan bagi umat. Dan tidak ada sesuatupun yang melindungi manusia telah diterima dan diperingatkan akan bahayanya agar dijauhi oleh manusia.

Ismi Khoiriyah
Mahasiswi LIPIA JAKARTA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...