Home Fiqih Sudah Azan, Makan Dulu Atau Shalat Dulu?

Sudah Azan, Makan Dulu Atau Shalat Dulu?

Sering terjadi ketika makanan sudah dihidangkan tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang, sehingga terkadang kita menunda makan dan mendahulukan shalat. Kemudian ketika dalam keadaan shalat dan dibarengi dengan rasa lapar maka konsentrasi terganggu dan rasanya ingin cepat-cepat untuk mengakhiri shalat kemudian menyantap makanan.

Jika kejadiannya seperti ini, sebenarnya mana yang harus di dahulukan?

Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha pernah menyampaikan sebuah nasehat yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim)

Dari hadist ini ada Faedah yang begitu penting:

Pertama: Shalat adalah ibadah yang istimewa.

Hal ini terlihat dari perintah mengakhirkan shalat karena makanan telah dihidangkan, ini adalah upaya agar seseorang bisa fokus dan tidak teringat dengan hal-hal lain ketika shalat.

Kalau saja shalat di dahulukan sementara makanan sudah tersaji, maka itu akan menjadi senjata syaithan untuk merusak fokus dan shalat seseorang. Oleh karena demikian, seseorang harus mengusahakan segala upaya untuk khusyu’ dalam shalat.

Syaikh Utsaimin menerangkan:

أن لب الصلاة وروح الصلاة هو حضور القلب، ولذلك أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإزالة كل ما يحول دون ذلك قبل أن يدخل الإنسان في صلاته

“Inti dan ruhnya sholat adalah hadirnya hati. Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghilangkan segala hal yang dapat menghalangi kehadiran hati saat sholat, sebelum seorang melakukan sholatnya.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin).

Kedua: Makruh shalat ketika makanan sudah terhidang

Imam Nawawi ketika menerangkan hadist di atas mengatakan :

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع

“Hadis-hadis ini menunjukkan, makruhnya melakukan sholat saat makanan sudah terhidang sementara dia berkeinginan untuk menyantapnya. Karena hal tersebut dapat menyibukkan hati dan dapat menghilangkan kekusyuan sholat.” (Syarh Shahiih Muslim)

Jelas bahwa hadirnya hati (khusyu’) dalam shalat adalah hal yang begitu penting, oleh karena itu jika seseorang dihadapkan dengan shalat jama’ah sementara dia dalam keadaan ingin buang hajat, maka yang di dahulukan adalah buang hajat meskipun dia harus tertinggal shalat jama’ah.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...