Home Fiqih Siapa Yang Lebih Berhak Menjadi Imam? Orang Yang Paling Bagus Bacaannya, Atau...

Siapa Yang Lebih Berhak Menjadi Imam? Orang Yang Paling Bagus Bacaannya, Atau Orang Yang Paling Alim?

Menjadi imam shalat adalah amanah yang agung dan merupakan tanggung jawab yang berat, selain dia harus faham tentang shalat ia juga dituntut untuk memiliki bacaan yang enak untuk didengar supaya membuat jamaah yang shalat dibelakangnya merasa nyaman ketika mendengar bacaan shalatnya, terkhusus di shalat-shalat yang bacaannya dikerasakan.

Namun sampai hari ini masih menjadi polemik tentang siapa yang lebih utama untuk menjadi imam shalat berjamaah, ada yang mengatakan orang yang paling bagus bacaannya dialah yang lebih berhak untuk menjadi Imam, sementara yang lain mengatakan bahwa orang yang paling alimlah yang lebih berhak untuk menjadi imam. Lalu siapa sebenarnya yang lebih utama menjadi Imam?

Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyebutkan bahwa dalam masalah ini setidaknya ada 2 pendapat dikalangan para ulama,

اخْتَلَفُوا فِيمَنْ أَوْلَى بِالْإِمَامَةِ، فَقَالَ مَالِكٌ: يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَفْقَهُهُمْ لَا أَقْرَؤُهُمْ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَالثَّوْرِيُّ، وَأَحْمَدُ: يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ

Para Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang lebih utama menjadi Imam, maka berkata imam malik: yang lebih utama adalah yang paling alim tentang shalat, dan bukan yang paling bagus bacaannya, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i. Adapun Imam abu hanifah dan ats-tsauri dan ahmad lebih mengutamakan orang yang paling bagus bacaannya untuk menjadi imam.

Secara sederhana dalam masalah ini ada 2 pendapat dikalangan para ulama

  1. Yang lebih utama adalah yang paling alim, Ini adalah pendapat dalam Madzhab Syafi’i dan Madzhab Maliki
  2. Yang lebih utama adalah yang paling bagus bacaannya, ini adalah pendapat dalam Madzhab hanafi dan hambali dan juga tsauri.

Sebab Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Sebab perbedaan pendapat ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memahami kata أقرؤهم yang terdapat didalam hadist yang menyinggung tentang masalah ini, Rasulullah salllahu alaihi wasalam pernah bersabda:

أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ إِسْلَامًا،

“Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. (HR Muslim)

Imam Abu hanifah dan Imam Ahmad memahami makna  أقرؤهم  sebagaimana dzahirnya, yakni orang yang paling bagus bacaannya, sehingga mereka lebih mengutamakan orang yang paling bagus bacaannya untuk menjadi imam.

Sementara itu imam Malik dan Imam Syafi’i memahami kata أقرؤهم  dalam hadist tersebut bukan saja orang yang paling bagus bacaannya melainkan orang yang paling alim, karena mereka menganggap kebutuhan terhadap fiqih dalam shalat lebih besar dari bagusnya bacaan dalam shalat, karena jika terjadi sesuatu dalam shalat maka yang lebih tahu hukumnya adalah orang yang paling alim tentang shalat, sehingga ia lebih diutamakan untuk menjadi imam.

Kemudian karena dimasa itu para sahabat kebanyakannya adalah  orang alim, sehingga yang dianjurkan untuk menjadi imam adalah yang paling bagus bacaannya diantara mereka, berbeda dengan zaman sekarang, mungkin bacaannya bagus namun belum tentu keilmuannya bagus, dan yang shalat dibelakangnya mungkin lebih alim dan lebih layak untuk menjadi imam. Deangan alasan inilah Imam syafi’i dan Imam Malik lebih mengutamakan orang yang alim untuk menjadi imam, dan tentunya orang yang alim pasti bacaannya baik dan sesuai kaidah.

Terlepas dari siapa yang lebih utama, selayaknya setiap masjid memperhatikan kriteria diatas ketika menunjuk seseorang untuk menjadi imam resmi, karena perkara shalat adalah perkara yang agung, dan tentunya memilih pemimpin shalat yang baik adalah suatu keharusan dan bentuk pengagungan terhadap shalat.

Kemudian anjuran ini hanya berlaku ketika disuatu masjid belum ditentukan imam resminya, apabila sudah ditentukan imam resminya maka anjuran ini tidak berlaku, sekalipun dibelakangnya terdapat orang yang lebih alim dan baik bacaannya. Karena rasulullah juga pernah bersabda,

وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ

“Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain. (HR. Muslim)

Hadist ini menjadi dalil tentang ketidakbolehan bagi orang asing untuk menjadi imam di masjid yang imamnya sudah ditentukan. Kecuali apabila sang imam tersebut mempersilahkan orang lain yang dianggap lebih alim darinya untuk menjadi imam, maka dalam keadaan seperti itu dibolehkan atas seizinnya.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...