Home Uncategorized Non-Muslim Tapi Baik, Masuk Syurga?

Non-Muslim Tapi Baik, Masuk Syurga?

Menjadi pribadi yang baik adalah suatu kewajiban setiap individu, karena semua agama mengajarkan pemeluknya untuk menjadi orang baik. Bahkan semua agama juga mengajarkan pemeluknya agar berbuat baik kepada setiap orang tanpa harus memandang agama yang dipeluknya, suku, warna kulit atau status sosialnya.

Tentunya kebaikan yang dikerjakan ini adalah upaya untuk mendapatkan ridha dari Tuhannya, pemilik agama yang dipeluknya, serta penciptanya. Jika seorang muslim berbuat baik sudah pasti dia mengharap ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang menciptakannya, maka layaknya semua kebaikan yang dilakukan benar-benar karena mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu jika ada orang non-muslim mempunyai pribadi yang baik, dermawan, rendah hati, suka menolong dan peduli sesama, lalu apakah kebaikannya ini berharga di sisi Allah subhanahu wa ta’ala?

Hanya Islam Agama Yang Diterima Allah

Ketahuilah bahwa syarat diterimanya amal kebaikan seseorang adalah islam. Maka kebaikan sebesar dan sebanyak apapun namun dia bukan pemeluk agama islam, maka amal kebaikannya tertolak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah islam” (Q.S. Al-Imran : 19)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini:

إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقب

“Ini adalah kabar dari Allah bahwa tidak ada agama yang diterima disisiNya dari setiap orang kecuali agama Islam, yakni dengan mengikuti rasul-rasul yang diutus untuk mebawa ajaranNya di setiap masa, sampai berakhir pada ajaran yang dibawa oleh nabi muhammad sallalahu alaihi wasalam, yang mana ajarannya menutup semua jalan menuju Allah kecuali dengan jalan yang diajarkan oleh Muhammad sallalahu alaihi wasalam, maka barang siapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya nabi Muhammad sallalahu alaihi wasalam dengan selain agama islam, maka ia tertolak”

Di ayat lain Allah berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-Imran: 85)

Dari keterangan diatas, beberapa poin penting yang harus dipahami adalah:

  1. Hanya agama islam yang diterima oleh Allah. Agama islam bukan hanya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, akan tetapi agama islam sudah dibawa oleh rasul-rasul sebelumnya. Barang siapa yang mengikuti ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul sebelumnya dari umat terdahulu maka amalannya diterima.
  2. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, sehingga ajaran yang berlaku saat ini adalah apa yang dibawa oleh beliau sallalahu ‘alaihi wasalam.
  3. Barang siapa yang bertemu Allah dengan membawa ajaran agama lain setelah diutusnya Nabi muhammad maka ia tertolak.

Tapi Dia Adalah Orang Baik

Banyak kaum liberal yang mencoba untuk merusak agama islam dari dalam, mereka berusaha untuk memaknai Al-Qur’an dengan akal dan perasaan mereka, mereka berujar apakah mungkin orang baik masuk neraka dan kebaikannya disia-siakan oleh Allah?

Berbicara tentang kebaikan, apakah di zaman ini ada non-muslim yang kebaikannya melebihi kebaikan paman rasulullah Abu thalib terhadap keponakannya? Beliau merawat keponakannya sejak kecil, membesarkannya dan menyayanginya dengan sepenuh hati, bahkan kasih sayang yang diberikan melebihi kasih sayangnya terhadap anak-anaknya sendiri.

Bukankah pamannya pula yang melindungi keponakannya dari kejahatan kaum Jahiliyah yang berusaha untuk membunuhnya serta menghalangi dakwah Nabi Muhammad sallalahu ‘alaihi wasalam, beliau bukan hanya membesarkannya namun beliau juga rela mati serta rela dimusuhi oleh kaumnya sendiri demi melindungi keponakannya dari segala keburukan yang ditujukan padanya.

Namun sampai akhir hayatnya, ternyata Abu thalib tidak juga masuk islam dan menolak ajakan keponakannya untuk masuk islam agar kiranya nanti rasulullah bisa menolong dan memberikan syafaatnya kepada pamannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113 :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Ternyata kebaikan Abu thalib selama ini tidak diterima di sisi Allah karena sampai ia wafat ia belum memeluk agama islam. Bahkan Allah juga melarang Nabi Muhammad sallalahu alaihi wasalam untuk memintakan ampun untuk pamannya, lebih dari itu Allah juga menvonis Abu thalib sebagai penghuni neraka Jahannam.

Dari sini sudah sangat jelas bahwa syarat utama diterimanya kebaikan serta amalan seseorang adalah islam, kebaikan setinggi gunung, seluas lautanpun jika dia bertemu Allah dengan membawa agama selain islam, maka amalnya tertolak.

Allah Jahat?

Allah tidak jahat, Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya. Apakah ketika seseorang masuk islam maka dia diwajibkan untuk membayar sejumlah uang? tentu tidak, ia hanya perlu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian bertakwa kepada Allah, maka semua perbuatan baik yang dia lakukan sebelum islam dan sesudahnya akan diterima oleh Allah.

Kira-kira siapa yang lebih jahat, Allah atau mereka yang enggan untuk masuk islam? Bagaimana jika ada sosok ibu yang sudah mengandung seorang anak, dirawatnya semenjak masih dalam kandungan, kemudian melahirkannya, menyususinya dan membesarkannya. Kemudian ketika anak itu beranjak dewasa tiba-tiba ia memilih untuk berbakti kepada orang lain dan menolak untuk berbakti kepada ibunya, lalu ibunya memvonis anaknya sebagai anak durhaka, apa ibunya salah? siapa yang jahat? ibunya atau anaknya?

Demikian pula Allah, bukankah Allah sudah menciptakannya, memberikannya nikmat-nikmat yang tak terhitung. Lalu ia justru berpaling dari Allah lalu memilih untuk menyembah dan taat kepada makhluk lain yang sama sekali tidak punya andil dan jasa terhadap kehidupannya. Kemudian Allah murka dan menvonisnya sebagai orang musyrik, lantas siapa yang jahat? Allah atau ia yang enggan untuk masuk islam dan bertakwa kepada Allah?

Kesimpulan akhirnya, kebaikan mereka tidak diterima Allah sampai mereka benar-benar masuk islam. Maka jika kebaikan mereka tidak diterima tertutuplah pintu syurga bagi mereka, karena syarat masuk syurga adalah islam.

 

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...