Home Fiqih Suara Wanita Aurat?

Suara Wanita Aurat?

Tidak dipungkiri bahwa semua bagian dari tubuh wanita berpeluang untuk memancing syahwat kaum laki-laki. Oleh karena itu islam berusaha untuk menutup celah ini dengan meletakkan batasan-batasan yang bertujuan untuk melindungi kaum hawa dari bahayanya fitnah syahwat.

Diantaranya adalah islam mewajibkan kaum wanita agar memakai pakaian yang terurai panjang dan longgar, kemudian anjuran memakai cadar, menundukkan pandangan, bersifat malu, tidak memakai wewangian yang menyengat ketika melewati segerombolan kaum laki-laki, dan menjauhkan diri dari ikhtilat (bercampur baur) dengan kaum laki-laki.

Namun ada satu hal yang masih menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para ulama, yakni apakah suara perempuan adalah aurat? sehingga kedudukan suara sama seperti kedudukan anggota tubuh lainnya yang harus di jaga rapat-rapat?

Madzhab Hanafi

Abu Al-Barakat Hafizhuddin An-Nasafi (w. 710 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq sebagai berikut :

وَهَذَا يُفِيدُ أَنَّ الْعَوْرَةَ رَفْعُ الصَّوْتِ الَّذِي لَا يَخْلُو غَالِبًا عَنْ النَّغْمَةِ لَا مُطْلَقِ الْكَلَامِ

“Dan ini menunjukan bahwa yang dikatakan aurat adalah mengangkat suara yang bisa menimbulkan nikmat (bagi kaum laki-laki) dan tidak termasuk aurat ketika hanya sekedar mengucapkan perkataan biasa.”

Dalam madzhab Hanafi, suara bukanlah termasuk aurat namun ia menjadi aurat ketika suara si wanita diangkat dan menimbulkan ketertarikan dan kenikmatan bagi kaum laki-laki, seperti terlalu mendayu-dayu, atau seperti suara penyanyi. Adapun suara yang datar maka ini tidak mengapa jika memang diperlukan.

Madzhab Maliki

Dalam Madzhab Maliki, ada dua pendapat dalam hal ini, diantaranya:

Al-Hathab Ar-Ruaini (w. 954 H) menuliskan di dalam kitabnya Mawabih Al-Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ هِيَ الْمُقِيمَةُ لِلْجَمَاعَةِ؛ لِأَنَّ صَوْتَهَا عَوْرَةٌ

“Dan tidak boleh baginya (wanita) untuk mengumandangkan iqamah untuk shalat jamaah (laki-laki dan wanita) karena suaranya adalah aurat.”

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H) menuliskan di dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut

الْمُعْتَمَدُ كَمَا أَفَادَهُ النَّاصِرُ اللَّقَانِيِّ فِي فَتَاوِيهِ وَشَيْخُنَا الصَّغِيرُ أَنَّهُ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ

“Adapun pendapat terkuat (dalam madzhab maliki) sebagaimana yang dikemukakan oleh An-Nashir dalam fatwanya dan juga apa yang dikemukakan oleh guru kami bahwa suara wanita bukanlah aurat.”

Dalam pandangan Madzhab maliki sendiri aurat perempuan hampir sama dengan apa yang di kuatkan dalam madzhab hanafi, bahwasanya suara wanita bukanlah aurat. meskipun ada sebagian ulama madzhab maliki yang berpandangan bahwa suara wanita adalah aurat.

Maka tidak haram berbicara atau mendengar suara mereka. Meskipun jika suara tersebut bisa menimbulkan kenikmatan maka tentu saja itu haram untuk di dengarkan, namun tidak merubah status hukumnya bahwa suara mereka bukan aurat.

Madzhab Syafi’i

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) menuliskan di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Syarah Raudhatu At-Thalib sebagai berikut :

ثُمَّ إنَّ صَوْتَ الْمَرْأَةِ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ

“Suara wanita bukan aurat”.

Kemudian Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

أَمَّا مُشْتَهَاةٌ لَيْسَ مَعَهَا امْرَأَةٌ أُخْرَى فَيَحْرُمُ عَلَيْهَا رَدُّ سَلَامِ أَجْنَبِيٍّ وَمِثْلُهُ ابْتِدَاؤُهُ

“Sedangkan wanita yang suaranya mengundang syahwat, maka ketika ia berjalan sendirian haram baginya mengucapkan atau menjawab salam dari laki-laki asing.”

Pendapat yang kuat dalam Madzhab syafii bahwasanya suara perempuan bukanlah aurat, namun demikian ia tetap harus menjaga suaranya, karena terkadang tanpa di sadari suaranya bisa menarik perhatian laki-laki, dan hendaknya dia berbicara dengan kaum laki-laki dalam keadaan yang darurat saja.

Madzhab Hambali

Al-Mardawi (w. 885 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Marifati Ar-Rajih min Al-Khilaf sebagai berikut

قال القاضي الزريراني الحنبلي في حواشيه على المغني: هل صوت الأجنبية عورة؟ فيه روايتان منصوصتان عن الإمام أحمد – رحمه الله ظاهر المذهب: ليس بعورة

“Berkata Al-Qadhi Az-Zairaany dalam catatan kakinya terhadap kitab Al-Mughny: Apakah suara wanita aurat? Ada dua riwayat dari Imam ahmad, adapaun yang dipilih dalam madzhab hambali bahwasanya suara wanita bukan aurat.

Kemudian beliau melanjutkan:

وَعَنْهُ: أَنَّهُ عَوْرَةٌ. اخْتَارَهُ ابْنُ عَقِيلٍ. فَقَالَ: يَجِبُ تَجَنُّبُ الْأَجَانِبِ الِاسْتِمَاعَ مِنْ صَوْتِ النِّسَاءِ زِيَادَةً عَلَى مَا تَدْعُو الْحَاجَةُ إلَيْهِ صَوْتَهَا عَوْرَةٌ

“Dan menurut beliau (Al-Qadhi Az-Zairany) bahwa suara wanita adalah aurat, dan ini adalah pendapat yang di kuatkan oleh Ibnu Aqil, maka kemduain beliau berkata: wajib bagi seorang wanita untuk menjauh dari laki laki asing agar suaranya tidak di dengar kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak, karena suara wanita itu aurat.”

Dari pemaparan para ulama di atas, nampak bahwa belum ada kata sepakat dalam permasalahan ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa suara wanita bukanlah aurat, namun mereka memberikan catatan penting bahwa suara wanita bisa menjadi haram untuk di dengarkan ketika suara mereka bisa menimbulkan kenikmatan di telinga kaum laki-laki.

Sebagian ulama berpendapat bahwa suara wanita adalah aurat. Maka hendaknya dia menjauhkan diri dari kaum laki-laki agar mereka tidak mendengar suaranya.

Ini membuktikan bahwa islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Terlihat dari bagaimana islam berusaha menutup celah sekecil apapun untuk terjadinya keburukan bagi kaum wanita.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...