Home Fiqih Meminta Mahar Yang Banyak, Bolehkah?

Meminta Mahar Yang Banyak, Bolehkah?

Mahar dalam sebuah pernikahan hukumnya adalah wajib dan bukan syarat sahnya pernikahan. Artinya pernikahan akan tetap sah secara syariat meskipun tidak disertakan mahar di dalamnya, namun meninggalkannya tidak dianjurkan.

Meskipun demikian, bukan berarti pihak laki-laki bermudah-mudahan dan menggampangkan perkara mahar, karena selain kewajiban, mahar adalah bentuk penghormatan seorang laki-laki kepada wanita yang hendak di halalkannya.

Adakah Batas Minimal atau Maksimal Untuk Nilai Mahar?

Batas Maksimal

Para ulama sepakat bahwa tidak ada batasan  maksimal untuk nilai mahar dalam pernikahan, artinya seseorang boleh-boleh saja memberikan mahar dengan jumlah yang tak ternilai sekalipun kepada calon pendampingnya.

Batas Minimal

Adapun batas minimal mahar maka para ulama telah berselisih pendapat dalam hal ini, namun pendapat terkuat dalam hal ini adalah tidak adanya batasan tertentu, segala sesuatu yang memiliki harga dan bisa diperjual-belikan maka boleh dijadikan sebagai mahar.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid:

وَاخْتَلَفُوا فِي أَقَلِّهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَأَبُو ثَوْرٍ وَفُقَهَاءُ الْمَدِينَةِ مِنَ التَّابِعِينَ لَيْسَ لِأَقَلِّهِ حَدٌّ وَكُلُّ مَا جَازَ أَنْ يَكُونَ ثَمَنًا وَقِيمَةً لِشَيْءٍ جَازَ أَنْ يَكُونَ صَدَاقًا وَبِهِ قَالَ ابْنُ وَهْبٍ مِنْ أَصْحَابِ مالك

(Para Ulama) mereka berbeda pendapat mengenai batas minimalnya. Menurut imam Syafii, Abu Tsaur, dan para fuqaha Madinah dari kalangan tabi’in tidak batasan minimal mahar, dan setiap sesuatu yang bisa diperjual-belikan atau bernilai maka boleh dijadikan sebagai mahar. Pandangan ini juga dikemukakan oleh Ibnu Wahb salah seorang ulama dari kalangan madzhab maliki”

Lalu, jika tidak ada batasan maksimal dalam nilai mahar, bolehkan seorang wanita meminta mahar yang mahal dari calon suaminya?

Dahulu, di masa khalifah Umar bin Khattab, para wanita-wanita di zaman itu berlomba-lomba dalam menentukan nilai mahar, maka ketika umar melihat ini beliau berusaha untuk membatasi jumlah nilai maksimal mahar agar nantinya tidak menjadi kebiasaan yang negatif di kalangan para wanita dan tentunya berakibat pada kesenjangan sosial diantara para wanita.

Lewat kekuasannya sebagai khalifah, tentu mudah saja bagi umar untuk menerapkan batas maksimal mahar. Maka kemudian naiklah umar keatas mimbar dan beliau melarang para wanita untuk berlomba-lomba dalam menetapkan nilai mahar, dan kalaupun terjadi tawar menawar maka batas maksimalnya tidak boleh lebih dari 400 Dirham atau setara dengan uang sebesar 80.000.000 rupiah.

Namun ternyata solusi ini tidak mendapatkan persetujuan, benar saja umar langsung ditegur dan diprotes tegas oleh wanita yang mengingatkannya:

يُعْطِينَا اللَّهُ وَتَمْنَعُنَا كِتَابُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَا سَمِعْتَ اللهَ يَقُولُ: وآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطاَراً فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا

“Allah telah memberikan kita tetapi Anda mencegahnya? Tidakkah Anda pernah mendengar Allah SWT berfirman ,”Dan berikanlah istrimu itu qinthar (harta yang banyak). Dan janganlah kamu mengambil dari sebagiannya”.

Kemudian umar tersentak dan tersadar bahwa solusinya tidak tepat, kemudian Umar naik kembali keatas mimbar dan menarik kembali perintahnya dan berkata : “Sebelumnya aku melarang kalian untuk menerima mahar lebih dari 400 dirham, sekarang silahkan lakukan sekehendak kalian”. Maka sejak saat itu, pembatasan nilai maksimal maharpun dibatalkan.

Maka sampai saat inipun tidak ada ulama yang menetapkan batas nilai maksimal mahar, dengan kata lain sah-sah saja seorang wanita meminta mahar yang banyak dari calon suaminya.

Akan tetapi jika ternyata mahar yang mahal ini adalah upaya untuk saling berbabangga-bangga dan yang lebih banyak maharnya maka dia lebih baik dari yang maharnya lebih rendah, maka coba renungkanlah sabda rasulullah sallalahu alaihi wasalam :

اِنَّ اَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً اَيْسَرُهُ مَئُوْنَةً

Dari ‘Aisyah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Nikah yang paling besar berkahnya yaitu yang paling ringan maharnya”. (HR. Ahmad)

Maka solusi terbaik adalah jangan meminta mahar terlalu mahal, akan tetapi mudahkanlah, kaena ia mendatangimu bukan untuk merusakmu, tapi ia mendatangimu karena ketaatan dan ibadah. Sementara bagi kaum laki-laki berusahalah untuk memberikan sebaik-baik mahar untuknya, jangan banyak protes dan mengeluh. Ingatlah bahwa orang yang akan kamu halalkan adalah wanita yang akan menyempurnakan agamamu, menua bersamamu dan ibu dari anak-anakmu.

 

 

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...